03 Oktober, 2007


PERTEMUAN YANG MENGHARUKAN


Suatu hari isteri saya berbelanja ke warung dekat rumah kami. Ketika isteri saya pulang, wajahnya nampak gembira. Saya penasaran apa yang membuatnya seperti itu. Tapi saya diam saja. Ketika kami sedang duduk makan bersama, isteri saya mulai bercerita. ”tadi ketika saya ke warung, saya melihat kejadian yang sangat hebat. Saat itu seekor anjing yang bernama poci, berlari dengan senang ketika melihat seekor anak anjing.” Dalam pikiran saya, wajar saja seekor induk anjing senang ketika melihat anaknya. Namun yang menjadi masalah karena mereka tidak hidup bersama sebagai sebuah keluarga.
Peristiwa ini tentu merupakan sebuah kewajaran, antara induk Anjing dan anaknya yang memiliki kedekatan perasaan yang begitu luar biasa. Siapa pun tidak dapat menyangkal, bahwa adanya hubungan yang begitu dekat antara sang ibu dan anaknya. Kedekatan itu sudah terjalin sejak sang anak dikandung oleh sang Ibu kurang lebih 9 bulan. Betapa hebatnya jalinan kedekatan itu terjalin. Sekalipun demikian, rasanya tidak masuk di akal jika masih ada kasus-kasus ibu yang membuang bayinya. Atau jika ada ibu-ibu yang menelantarkan bayinya. Berbagai alasan pun disampaikan oleh mereka. Ada yang beralasan karena malu dengan bayi yang dilahirkan sebagai hasil hubungan gelap. Ada juga karena masalah ekonomi, mereka takut tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi sang anak. Dan tentunya masih ada alasan lainnya. Alasan bisa saja dicari. Bahkan seribu alasan pun dapat dibuat. Namun semuanya itu tidak dapat menghalangi hubungan yang begitu dekat antara sang ibu dan anaknya.
Hubungan yang begitu dekat juga terjalin antara Sang pencipta dan Manusia ciptaan-Nya. Sang pencipta tidak pernah membenci manusia ciptaan-Nya. Jika kita menemukan kasus-kasus dalam kitab suci, seperti Kejadian pasal 6, dimana Allah membinasakan manusia; Bukanlah berarti Allah membenci Ciptaan-Nya. Allah sedang menunjukan kepada manusia bahwa Ia adalah Allah yang suci, Kudus. Allah sedang mengajarkan kepada manusia apa itu hidup yang suci dan kudus.
"SEGERA SELESAIKAN MASALAHMU"
Sebuah ungkapan yang disampaikan oleh salah satu pembicara dalam sebuah kebaktian pagi sehubungan dengan pentingnya mempertahankan sebuah pernikahan adalah,"untuk sampai kepada level pernikahan mungkin sampai meneteskan darah". Kadang orang melupakan perjuangan yang begitu berat, hanya gara-gara hal sepele saja sudah dijadikan masalah besar. Bukankah persoalan besar selalu dimulai dari hal-hal yang sepele. Orang yang sakit kronis, tentu dimulai dari sakit ringan yang disepelekan. Kita kadang sering katakan,"tidak apa-apa" Kita meremehkan persoalan-persoalan yang dianggap kecil. Padahal hal-hal kecil itu memiliki potensi menjadi hal yang besar jika tidak diselesaikan. Pohon beringin dimulai dari sebuah benih yang sangat kecil. Di dalam benih yang kecil ini menyimpan potensi sebuah pohon yang sangat besar seperti beringin. Apakah kita ingin melihat pohon besar yang menutupi rumah kita atau kita "selesaikan" benih kecilnya? Manakah yang lebih mudah, menebang pohon beringin besar atau mematikan benihnya? Tentu akan lebih mudah mematikan benihnya. Namun hal ini jarang dilakukan. Kita sering berdalih,"ah ga apa-apa, hanya benih kecil saja kok"
Pernahkah saudara berselisih dengan teman, isteri atau suami? Adakah niatan saudara untuk menyelesaikan masalah tersebut? Atau saudara malah menganggap remeh saja? Dalam sebuah tayangan sinetron di televisi di ceritakan tentang seseorang yang sesudah besar membalas dendam dengan saudaranya sendiri. Mengapa? Karena anak ini ketika masih kanak-anak selalu saja mendapatkana perlakuan buruk dari sang nenek. Jadi rupanya sang nenek selalu bersikap tidak adil terhadap anak ini. Kalau ada pertengkaran pasti dialah yang disalahkan atau dihukum. Perlakuan sang nenek ini rupanya membekas dalam diri sang anak. Nah setelah besar, rupanya dendam itu masih ada, sehingga ia melakukan perbuatan balas dendam terhadap saudaranya sendiri. Apa yang salah dalam bagian ini? Yang salah adalah bahwa sering kali kita menganggap remeh persoalan-persoalan kecil. Kita lupa bahwa persoalan-persoalan itu bisa menganggu hubungan kita dengan pasangan, saudara bahkan kepada Tuhan.
Dalam Injil Matius Tuhan Yesus dengan sangat jelas mengajarkan bahwa jika ada sesuatu (persoalan) dengan orang lain, lebih baik diselesaikan terlebih dahulu sebelum datang membawa persembahan kepada Tuhan. Apa yang Tuhan ingin ajarkan? Tuhan memberikan pengajaran kepada kita bahwa:
  1. Jangan meremehkan hal-hal kecil/persoalan-persoalan kecil
  2. Persoalan kecil memiliki potensi rusaknya sebuah hubungan yang baik.
  3. Menyelesaikan persoalan kecil lebih mudah daripada sebuah persoalan besar
  4. Hubungan baik (damai) dengan sesama: isteri, suami, anak, teman, atasa, bawahan lebih diutamakan oleh Tuhan daripada membawa persembahan kepada-Nya.