01 Oktober, 2007

MUSA JUGA MANUSIA

Siapa yang tidak kenal dengan Musa. Tentu bagi anda yang sudah menjadi orang Kristen, pastilah paling tidak pernah mendengarkan cerita tentang Musa. Musa adalah tokoh dalam Perjanjian Lama yang amat tersohor. Ia dilahirkan dalam masa-masa sulit. Ia dilahirkan dalam masa-masa genting dimana Firaun tidak menghendaki bayi laki-laki lahir dari antara wanita-wanita Ibrani. Musa termasuk yang sangat beruntung, karena berhasil diselamatkan dari maut. Tentulah kehidupan Musa boleh dikatakan beruntung karena ia selamat dari kematian, dan bisa menikmati kebebasan di istana Firaun. Kebebasan yang ia peroleh rupanya tidak membuat ia melupakan saudara-saudara sesama orang Ibrani. Itulah sebabnya ia selalu berusaha membela sesamanya meskipun dengan cara yang salah. Akibat perbuatannya itu, Musa harus melarikan diri dari istana Firaun. Dalam pelariannya itulah ia berjumpa dengan Allah semesta Alam. Musa mendapatkan tugas untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir. Kuasa Allah bekerja luar biasa melalui tangan Musa. Berbagai mujizat terjadi di tanah Mesir. Melalui Musa, umat Tuhan mendapatkan kebebasan. Melalui tangan Musa, Allah membelah lautan. Melalui tangan Musa, batu karang mengalirkan air di tengah-tengah kegersangan padang gurun.

Jika melihat kuasa Allah yang luar biasa ini, siapa yang menyangka sosok seorang Musa bisa juga putus asa. Dalam Bilangan 11:4-15, Musa mengalami depresi yang teramat berat. Ia berhadapan dengan umat Ibrani yang berdemontrasi meminta daging. Demontrasi mereka dilakukan dengan cara menangis di pintu kemah musa. Hati siapa yang tidak luluh, hati siapa yang tidak hancur mendengarkan tangisan. Tapi hati siapa yang tidak marah, geram memimpin bangsa yang tidak bisa mengucap syukur. Dalam keputusasaannya Musa menyalahlah Tuhan sebagai "Oknum" yang telah memperlakukannya dengan buruk. Bahkan dalam ayat 15, Musa minta dibunuh saja. Musa yang perkasa, Musa yang dipakai oleh Tuhan untuk membelah lautan ternyata seorang manusia biasa. Ia marah, tertekan, bahkan putus asa. Musa merasakan beratnya beban yang harus diembannya. Kalau Musa boleh meminta kepada Tuhan, mungkin lebih baik ia jadi orang biasa saja. Namun Tuhan sudah memilih dia untuk membawa umat-Nya menuju tanah perjanjian.

Apa yang kita pelajari dari kisah ini?



  1. Musa tetaplah sebagai manusia biasa yang dapat juga mengalami keputusasaan


  2. Musa sebagai manusia biasa dipakai oleh Tuhan untuk melakukan perkara-perkara luar biasa


  3. Sungutan bukanlah jalan keluar dalam menghadapi persoalan hidup


  4. Tuhan hadir dalam setiap persoalan hidup hamba-hamba-Nya.


  5. Tuhan berkehendak agar setiap hamba-Nya mengandalkan Dia dalam setiap sisi kehidupan ini.

Biarlah renungan ini memberkati kehidupan saudara. Amin



Life Changing Media: Kepuasan Hidup

Life Changing Media: Kepuasan Hidup

MENGUCAP SYUKUR KEPADA TUHAN

Apa yang ada dalam pikiran anda ketika membaca judul di atas? Ah sudah biasa, pastilah setiap orang harus mengucap syukur kepada Tuhan. Ketika usaha diberkati oleh Tuhan, tentulah ucapan syukur yang dipanjatkan. Ketika anak-anak berhasil dalam studinya, tentulah ucapan syukur yang disampaikan. Pokoknya, apa saja yang merupakan berkat Tuhan, akan selalu ditanggapi dengan ucapan syukur. Namun sadarkah kita bahwa saking biasanya kita berkata,"syukurlah" kita kadang melupakan essensi ucapan syukur itu. Ucapan syukur lebih sering diungkapkan sebagai wujud terima kasih atas segala sesuatu yang kita terima dalam dunia ini. Kita melupakan bahwa dasar pengucapan syukur itu haruslah lahir dari pemahaman bahwa Tuhan sudah melepaskan saya dari cengkraman maut. Kita dipindahkan dari Maut kepada hidup di dalam Kristus. Jika ucapan syukur kita didasari pada hal ini maka, tidak ada alasan untuk tidak mengucap syukur. Jadi ucapan syukur kita akan bermakna lebih dalam dibandingkan jika hanya mengucap syukur diluar hal yang mendasar tadi. Jika kita lepaskan ucapan syukur kita dari hal mendasar ini, maka kadang kala kita mengeluh atas hal-hal kurang baik yang menimpa hidup ini.
Jadi milikilah ucapan syukur yang memberi makna lebih dalam di kehidupan ini. Dan makna itu hanya ada dalam pemahaman yang benar tentang kelepasan yang Kristus sudah kerjakan dalam menyelamatkan kita. Amin.

Salam,

Yohanes