Kepuasan Hidup
(Pdt. Yohanes Madhu)
Miliarder Gordon Nu dari Hongkong berani membayar mahal sebuah jamur (White truffle) seharga 1,45 Miliar. Jamur ini memiliki kasiat untuk membangkitkan energi sama seperti ginseng.
Mungkin kita hanya bisa membayangkan, jumlah uang miliaran rupiah tersebut. Bali Gordon Nu, jumlah segitu bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kepuasan batin yang ia dapatkan. Memang bagi orang kaya, uang bukanlah masalah. Mereka telah bergeser kebutuhannya dari masalah uang kepada masalah pengakuan dan popularitas. Nah jika kita mempergunakan akal sehat, sedemikian hebatkah kasiat jamur ini sehingga Gordon bersedia untuk mengeluarkan uang miliaran rupiah? Memang bisa saja karena keinginan untuk sembuh dari penyakit seseorang bersedia membeli obat semahal apa pun. Namun Gordon bukanlah orang yang sedang sakit secara fisik. Ia berani membayar dengan jumlah sekian miliar dalam sebuah lelang yang di adakan di Tiongkok, tentu bukanlah demi sebuah jamur, tetapi sebuah kepuasan hidup.
Apa yang menyebabkan seseorang berani mengorbankan apa saja demi sesuatu yang bagi orang lain tidaklah begitu berarti? Jawabannya adalah kepuasan batin. Ada banyak orang-orang seperti Gordon Nu yang rela mengorbankan miliaran rupiah demi sebuah kepuasan batin. Salahkah sikap seperti itu? Jika pertanyaan ini dijawab oleh orang yang tidak ada kepentingannya sama sekali, mungkin akan dianggap pemborosan. Untuk apa uang sebanyak itu di boroskan hanya untuk hal-hal yang dianggap manfaatnya tidaklah terlalu banyak bagi kepentingan orang lain. Yudas mewakili orang yang memiliki sikap ”anti pemborosan” untuk hal-hal yang dianggap tidak ada faedahnya. Ketika maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak yang mahal, Yudas protes dengan berkata, ”Untuk apa pemborosan ini”
Mungkin kita pun kadang-kadang bersikap demikian. Kita tidak setuju terhadap sebuah tindakan yang dilakukan oleh orang lain yang kita anggap berlebihan. Namun kadang kita melupakan suatu sisi dalam kehidupan manusia yaitu mendapatkan kepuasan batin. Ada banyak cara yang dilakukan orang untuk mendapatkan kepuasan hidup. Dan cara yang lazim orang lakukan biasanya berhubungan dengan dua hal : melakukan sesuatu untuk diri sendiri dan sesama. Untuk kepuasan dengan cara memuaskan diri dengan benda-benda dan kesenangan lainnya adalah hal yang lumrah orang lakukan. Namun untuk bagian kedua, dimana seseorang mendapatkan kepuasan ketika melakukan untuk orang lain adalah hal yang berat. Memang akan terasa mudah sekali mengeluarkan jutaan rupiah jika hal itu berhubungan dengan kepuasan diri. Namun bagaimana halnya ketika hal itu dihubungkan dengan melayani orang lain? Mungkin sikap kita mendua, disatu sisi diri saya juga perlu dipuaskan. Namun disisi lainnya, kita memberi sesuatu kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan kepuasan diri di dalamnya. Mungkin kita senang mendapat pujian. Apakah ini salah? Apakah ini berdosa? Tentu tidak. Orang senang di puji adalah hal yang manusiawi. Misalnya: kita memberikan sesuatu kepada anak kita. Lalu anak kita memberikan pujian seperti ini:”wah bapak baik sekali” Mendengar hal ini tentu hati kita menjadi senang. Meskipun bukan itu tujuan kita memberi agar mendapat pujian. Namun menerima pujian karena kita melakukan apa yang baik adalah hal yang wajar.
Kepuasan hidup kita tidak terletak pada apa yang kita terima atas pemberian kita. Kepuasan hidup kita terletak pada bagaimanan orang dipuaskan. Seorang pedagang yang baik akan merasa puas bila pelanggannya puas. Karena itu pemberian yang kita berikan pun seharusnya memuaskan orang lain. Artinya ketika kita memberi, maka kita memberi apa yang baik dan memang berguna bagi orang lain.
23 Agustus, 2007
20 Agustus, 2007
DIMERDEKAKAN UNTUK MEMERDEKAKAN
(Efesus 1-5)
1. Kemerdekaan adalah rencana Allah sejak kekekalan
Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. (1:4)
Allah menciptakan manusia dalam kemerdekaan untuk menyembah Dia. Dan Allah telah
(Efesus 1-5)
1. Kemerdekaan adalah rencana Allah sejak kekekalan
Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. (1:4)
Allah menciptakan manusia dalam kemerdekaan untuk menyembah Dia. Dan Allah telah
memilih kita untuk merdeka
Allah telah menentukan kita untuk menjadi anak-anakNya (1:5)
Kemerdekaan yang Allah berikan adalah kemerdekaan dalam relasi yang sangat special yaitu
Kemerdekaan yang Allah berikan adalah kemerdekaan dalam relasi yang sangat special yaitu
sebagai anak-anak-Nya. Kemerdekaan hanya dapat dinikmati oleh seorang anak.
2. Manusia membutuhkan kemerdekaan, mengapa?
Manusia mati karena pelanggaran-pelanggarannya (2:1)
Manusia memilih untuk keluar dari kemerdekaan Allah dengan cara menghambakan diri
Manusia mati karena pelanggaran-pelanggarannya (2:1)
Manusia memilih untuk keluar dari kemerdekaan Allah dengan cara menghambakan diri
kepada dunia dan segala bentuk hawa nafsu
Dalam Yohanes 8:34-36 tertulis,” Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu,
Dalam Yohanes 8:34-36 tertulis,” Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.
Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.
Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka."
Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.
Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka."
Manusia diciptakan untuk melakukan pekerjaan yang baik (2:10)
Sejak semula manusia di setting Allah untuk memuliakan nama-Nya. Karena itu ketika
manusia memberi diri diperbudak oleh dunia dengan segala nafsunya, maka saat itu manusia
membutuhkan kemerdekaan.
3. Allah memerdekaan Manusia
Menebus manusia dengan darah Kristus (1:7;2:13)
Untuk meraih sebuah kemerdekaan bukanlah usaha yang mudah. Ada pengorbanan yang
luar biasa. Kristus sudah menebus kita dari budak dosa agar kita merdeka melayani Dia
Memetraikan dengan Roh Kudus (1:13)
Kemerdekaan bukanlah hanya sekedar slogan. Kemerdekaan adalah sebuah status hukum yang pasti. Allah memberikan kepastian hukum melalui metrai Roh Kudus bahwa kita sungguh-sungguh sudah merdeka.
Memetraikan dengan Roh Kudus (1:13)
Kemerdekaan bukanlah hanya sekedar slogan. Kemerdekaan adalah sebuah status hukum yang pasti. Allah memberikan kepastian hukum melalui metrai Roh Kudus bahwa kita sungguh-sungguh sudah merdeka.
4. Tujuan Allah memerdekaan manusia:
Memulihkan relasi ”Bapa-anak” (1:5)
Menjadi tempat kediaman Allah di dalam Roh (2:22)
Menerima bagian yang telah ditentukan (1:12)
Menjadi puji-pujian bagi-Nya (1:12)
5. Tanggung jawab manusia dalam mengisi kemerdekaan
Menghidupi kehidupan dalam anugerah-Nya (2:8-9)
Orang percaya hendaknya selalu ingat dan sadar bahwa kemerdekaan secara rohani ini adalah karya Allah dalam Kristus. Jadi bukan usaha sendiri.
Dalam Efesus 2:8-9
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
Sebuah pernyataan agung pernah diungkapkan,”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan menghargai jasa-jasa para pahlawannya”
Menghidupi kehidupan yang bertumbuh menuju kepada master plan Allah(2:21)
Semua orang yang sudah dimerdekakan bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Kristus (4:13). Suatu tanaman yang dihimpit oleh berbagai semak duri, mustahil bisa bertumbuh dengan baik. ”kemerdekaan” adalah modal menuju kepada pertumbuhan yang maksimal. Dalam Efesus 4:15, dituliskan,” tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.
Kita bertumbuh di dalam segala hal : dalam pemahaman akan Allah, pengalaman bersama Dia, sikap, dalam cara berpikir. Namun semuanya ke arah yang sama yaitu Kristus.
Menghidupi kehidupan yang telah diciptakan baru oleh Allah dalam kebenaran dan kekudusan (4:24)
Semua orang yang sudah dimerdekakan adalah orang-orang baru. Mereka memiliki hukum baru yaitu : Kebenaran dan kekudusan. Dalam Galatia 5:13, dituliskan.”
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
Memberi diri untuk memerdekakan orang dari tawanan.(Yesaya 61:1)
"Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara."
AMPUNILAH
Hutang 1,5 triliyun dihapuskan!!!
(Pdt. Yohanes Madhu S.Th)
Kalau mau hidup damai, janganlah berhutang! Berhutang sama artinya kita sedang mengikatkan sebuah tali pada leher. Salah perhitungan akibatnya fatal. Tidak jarang maut menjemput hanya gara-gara hutang. Karena itu dianjurkan jangan berhutang agar hidup menjadi damai.
Dalam era zaman yang kecepatan kemajuannya melebihi kedipan mata, rasanya sangat sedikit orang yang bisa bertahan tanpa berhutang. Jangankan orang miskin, orang kaya pun masih terlilit hutang. Bahkan tidak jarang orang nampaknya kaya namun hutangnya banyak. Makanya jangan heran jika melihat orang yang hari ini membawa sedan BMW, esok harinya sedannya sudah disita Bank hanya gara-gara hutang. Dengan demikian, berhutang sudah menjadi trend zaman. Mungkin berhutang menjadi jalan untuk menyelesaikan sebuah masalah. Meskipun pegadaian ,memiliki moto,”menyelesaikan masalah tanpa masalah” namun akan tetap bermasalah jika hutangnya tak bisa dilunasi.
Rupanya gaya berhutang sudah menjadi gaya hidup manusia dari zaman ke zaman. Dalam zaman Tuhan Yesus pun orang sudah gemar berhutang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengambil perumpamaan kerajaan Allah sama halnya dengan sang raja yang mengadakan perhitungan dengan orang-orang yang berhutang kepadanya. Kisah dalam Matius 18, sungguh menarik untuk diperhatikan. Dalam perumpamaan itu di sebutkan ada seorang yang berhutang 10.000 talenta. Wah berapa ya 10.000 talenta itu. Apakah 10.000 ribu rupiah? Tidak. 10.000 talenta sama dengan 10.000 X 6000 dinar. Sebab 1 talenta = 6000 dinar. Sedangan 1 dinar = upah satu hari kerja. Sekarang coba hitung! Seandainya upah rata-rata pekerja harian saat ini 25 ribu rupiah, maka 10.000 talenta = 10.000 X 6.000 X 25.000 = 1.500.000.000.000 (1,5 triliyun). Wah banyak ya. Itu kalau baru dihitung rata-rata upah harian di Indonesia: 25.000 rupiah. Kita tidak bisa bayangkan seseorang punya hutang 1,5 triliyun. Hanya orang-orang yang kaya saja yang bisa mempunyai hutang sebanyak itu. Namun perlu dicatat bahwa, dalam perumpamaan itu dijelaskan bahwa hutang 1,5 triliyun itu dihapuskan oleh sang raja. Mungkin ini yang disebut orang raja yang tidak waras. Kok berani menghapuskan hutang sebanyak itu. Belum pernah ada cerita hutang 1,5 triliyun dihapuskan. Maka kalau anda yang jadi orang yang dihapuskan hutangnya pasti anda akan melompat kegirangan.
Namun terjadi ironi dalam perumpamaan ini. Orang yang tadinya berhutang 1,5 trililyun mendapatkan penghapusan hutang. Justru temannya yang hanya berhutang 2,5 juta dibawa ke penjara. Mengapa bisa terjadi hal yang demikian? Alasannya sudah jelas bahwa belum tentu orang yang mendapatkan kemurahan hati akan berbuat yang sama juga terhadap orang lain. Apakah orang ini salah jika ia harus menagih hutangnya? Secara hukum tidak salah. Ia telah bertindak benar secara hukum. Ia memiliki hak untuk menagih hutangnya bahkan melaporkan orang yang tidak membayar ke pihak berwajib. Namun ada sisi lain dalam perumpamaan ini. Kasih menutupi banyak sekali kesalahan. Sang Raja sudah menunjukan kasih yang sangat besar. Kasih tidak bicara masalah hukum. Kasih berada di atas hukum. Kasih memampukan seeorang berbuat apa yang tidak diatur dalam hukum. Hukum dunia: hutang harus dibayar. Hukum kasih: hutangmu dihapuskan. Siapakah yang mampu melakukan ini? Hanya orang yang memiliki kasih. Namun bukan berarti jika seseorang yang menagih hutangnya ia telah menjalani hidup tanpa kasih. Dalam perumpamaan ini bukan ada maksud tidak membayar hutang. Namun meminta tempo untuk sedikit bernafas agar ada waktu yang longgar bagi pembayaran hutang tersebut.
Allah telah mengampuni kita dengan pengampunan yang besar. Kita seharusnya melihat ini menjadi dasar bagi kita untuk mengampuni orang lain. Kita bukanlah sedang berjalan dalam hukum taurat:’mata ganti mata’ Kita sedang berada dalam kasih karunia. Pengampunan yang diberikan merupakan wujud kasih kita kepada Tuhan yang telah menghapus seluruh hutang-hutang dosa kita. Ingat ini:”Hutangmu yang 1,5 triliyun sudah dihapuskan oleh Tuhan”, maka jika ada orang yang berbuat salah, lapangkan dada untuk mengampuninya.
(Pdt. Yohanes Madhu S.Th)
Kalau mau hidup damai, janganlah berhutang! Berhutang sama artinya kita sedang mengikatkan sebuah tali pada leher. Salah perhitungan akibatnya fatal. Tidak jarang maut menjemput hanya gara-gara hutang. Karena itu dianjurkan jangan berhutang agar hidup menjadi damai.
Dalam era zaman yang kecepatan kemajuannya melebihi kedipan mata, rasanya sangat sedikit orang yang bisa bertahan tanpa berhutang. Jangankan orang miskin, orang kaya pun masih terlilit hutang. Bahkan tidak jarang orang nampaknya kaya namun hutangnya banyak. Makanya jangan heran jika melihat orang yang hari ini membawa sedan BMW, esok harinya sedannya sudah disita Bank hanya gara-gara hutang. Dengan demikian, berhutang sudah menjadi trend zaman. Mungkin berhutang menjadi jalan untuk menyelesaikan sebuah masalah. Meskipun pegadaian ,memiliki moto,”menyelesaikan masalah tanpa masalah” namun akan tetap bermasalah jika hutangnya tak bisa dilunasi.
Rupanya gaya berhutang sudah menjadi gaya hidup manusia dari zaman ke zaman. Dalam zaman Tuhan Yesus pun orang sudah gemar berhutang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengambil perumpamaan kerajaan Allah sama halnya dengan sang raja yang mengadakan perhitungan dengan orang-orang yang berhutang kepadanya. Kisah dalam Matius 18, sungguh menarik untuk diperhatikan. Dalam perumpamaan itu di sebutkan ada seorang yang berhutang 10.000 talenta. Wah berapa ya 10.000 talenta itu. Apakah 10.000 ribu rupiah? Tidak. 10.000 talenta sama dengan 10.000 X 6000 dinar. Sebab 1 talenta = 6000 dinar. Sedangan 1 dinar = upah satu hari kerja. Sekarang coba hitung! Seandainya upah rata-rata pekerja harian saat ini 25 ribu rupiah, maka 10.000 talenta = 10.000 X 6.000 X 25.000 = 1.500.000.000.000 (1,5 triliyun). Wah banyak ya. Itu kalau baru dihitung rata-rata upah harian di Indonesia: 25.000 rupiah. Kita tidak bisa bayangkan seseorang punya hutang 1,5 triliyun. Hanya orang-orang yang kaya saja yang bisa mempunyai hutang sebanyak itu. Namun perlu dicatat bahwa, dalam perumpamaan itu dijelaskan bahwa hutang 1,5 triliyun itu dihapuskan oleh sang raja. Mungkin ini yang disebut orang raja yang tidak waras. Kok berani menghapuskan hutang sebanyak itu. Belum pernah ada cerita hutang 1,5 triliyun dihapuskan. Maka kalau anda yang jadi orang yang dihapuskan hutangnya pasti anda akan melompat kegirangan.
Namun terjadi ironi dalam perumpamaan ini. Orang yang tadinya berhutang 1,5 trililyun mendapatkan penghapusan hutang. Justru temannya yang hanya berhutang 2,5 juta dibawa ke penjara. Mengapa bisa terjadi hal yang demikian? Alasannya sudah jelas bahwa belum tentu orang yang mendapatkan kemurahan hati akan berbuat yang sama juga terhadap orang lain. Apakah orang ini salah jika ia harus menagih hutangnya? Secara hukum tidak salah. Ia telah bertindak benar secara hukum. Ia memiliki hak untuk menagih hutangnya bahkan melaporkan orang yang tidak membayar ke pihak berwajib. Namun ada sisi lain dalam perumpamaan ini. Kasih menutupi banyak sekali kesalahan. Sang Raja sudah menunjukan kasih yang sangat besar. Kasih tidak bicara masalah hukum. Kasih berada di atas hukum. Kasih memampukan seeorang berbuat apa yang tidak diatur dalam hukum. Hukum dunia: hutang harus dibayar. Hukum kasih: hutangmu dihapuskan. Siapakah yang mampu melakukan ini? Hanya orang yang memiliki kasih. Namun bukan berarti jika seseorang yang menagih hutangnya ia telah menjalani hidup tanpa kasih. Dalam perumpamaan ini bukan ada maksud tidak membayar hutang. Namun meminta tempo untuk sedikit bernafas agar ada waktu yang longgar bagi pembayaran hutang tersebut.
Allah telah mengampuni kita dengan pengampunan yang besar. Kita seharusnya melihat ini menjadi dasar bagi kita untuk mengampuni orang lain. Kita bukanlah sedang berjalan dalam hukum taurat:’mata ganti mata’ Kita sedang berada dalam kasih karunia. Pengampunan yang diberikan merupakan wujud kasih kita kepada Tuhan yang telah menghapus seluruh hutang-hutang dosa kita. Ingat ini:”Hutangmu yang 1,5 triliyun sudah dihapuskan oleh Tuhan”, maka jika ada orang yang berbuat salah, lapangkan dada untuk mengampuninya.
Langganan:
Postingan (Atom)