Pemimpin yang Memberdayakan (Empowerment)
”...untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (Efesus 4:12)
Kepemimpinan tidak identik dengan posisi. Kepemimpinan adalah sebuah fungsi. Esensi seorang pemimpin Kristen tidak terletak pada jabatan, gelar, kharisma, kapabilitas, tetapi pada :”kain dan basi” (pemimpin yang melayani).
Pemimpin bukanlah seorang yang menunjuk-nunjuk dengan jari, perintah sana, perintah sini. Pemimpin bukan pula seorang yang hanya angkat telpon untuk memberikan order kepada orang yang dipimpinnya. Namun pemimpin adalah seorang yang menghargai sebuah potensi dalam setiap individu dan memberdayakannya.
Hotel Ritz Carlton mendirikan The Ritz-Carlton Leadership Centre untuk melatih para pegawainya dalam bidang service excellence.
Sendjaya, dalam bukunya: Konsep, Karakter, Kompetensi Kepemimpinan Kristen, mengajak setiap pemimpin Kristen untuk mengevaluasi diri. Evaluasi ini bertujuan untuk menyadari apakah seorang pemimpin itu adalah seorang pemimpin yang memberdayakan atau tidak. Untuk mengetahuinya anda dapat secara jujur menjawab pertanyaan di bawah ini:
1. Berapa % waktu yang aku (pemimpin) dipergunakan untuk berinteraksi secara pribadi dan berkualitas dengan orang-orang yang potensi dalam wilayah pelayanan saya?
2. Berapa banyak aktitivitas yang saya dilakukan bertujuan untuk memberdayakan orang lain dalam kepemimpinan saya?
3. Berapa banyak dana yang saya alokasikan/anggarkan untuk membangun sebuah program yang inovatif untuk memberdayakan orang-orang yang saya pimpin, baik dari sisi pengetahuan dan ketrampilan dalam pelayanan?
Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus memberikan nasehat yang sangat mendasar berhubungan dengan pembangunan tubuh Kristus. Para pemimpin, baik itu rasul,nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar, memiliki tugas yang sama yaitu memperlengkapi orang kudus. Energi seorang pemimpin seharusnya lebih banyak terkuras bukan pada hal-hal praktis, namun pada hal-hal yang strategis menyangkut pemberdayaan orang-orang yang kita pimpin. Pemimpin bukanlah pekerja administrasi, tetapi pemberdaya-pemberdaya.
Pemimpin tidak harus menguasi semua bidang untuk bisa memberdayakan/memperlengkapi orang yang dipimpinnya. Yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin adalah memfokuskan daya, dana dan waktu bagi sebuah pemberdayaan SDM.
Kadang-kadang yang menjadi kendala dimana seorang pemimpin enggan memberdayakan orang yang dipimpinnya adalah takut tersaingi. Mental seperti ini adalah mental ”penjajah” Penjajah berusaha membuat bangsa yang dijajahnya bodoh. Dengan demikian akan lebih mudah dimanfaatkan demi kepentingan/kejayaan pribadi.
Pemimpin yang tidak memberdayakan orang yang dipimpinnya adalah pemimpin yang tidak percaya diri, sehingga ia tidak mampu mempercayai orang lain. sebaliknya, pemimpin yang memberdayakan orang lain adalah pemimpin yang memiliki jati diri dan bersedia melayani.
.