20 November, 2007

Lho Begitu Saja Koq Marah

Mengapa dedaunan menari-nari? Apakah karena ia sedang senang atau sedang mendapatkan kesejukan sang hujan? Mengapa burung bernyanyi riang? Apakah karena ia telah mendapatkan makanan? Mengapa? Tanya saja pada mereka, mengapa mereka demikian. Tapi tunggu dulu, jangan bertanya pada mereka, nanti disangka tidak waras alias miring. Dedaunan khan tidak bisa bicara, burung pun demikian. Sekalipun pakai pengeras suara 100 ribu watt, ya tetap saja tidak ada jawaban. Dedaunan tetap akan melambai-lambai ketika dibelai sang angin. Burung pun akan tetap berkicau menyambut datangnya sang pagi. Bahkan sang surya pun tetap bersinar sekalipun dibendung oleh sang awan. Mungkin mereka tidak punya alasan untuk tidak mengekpresikan jati dirinya. Rasanya koq aneh ya jika sang surya tersinggung ketika melihat manusia tidak berterima kasih atas sinarnya. Sang surya tidak peduli apakah manusia marah karena panasnya atau berterima kasih atas kehangatannya. Yang ia lakukan hanyalah bersinar. Melalui sinarnya alam mendapatkan kehidupan. Ia tidak terpengaruh oleh perubahan alam. Bahkan ia tidak ambil pusing dengan sifat manusia yang tidak peduli terhadap kehadirannya.
Manusia merosot kesadarannya tentang kehadiran mahluk lain di sekitarnya. Manusia hanya memikirkan diri dan masalahnya. Manusia hidup dalam keruwetan pikiran yang tiada akan pernah berakhir. Mahluk di sekitarnya kadang dianggap saingan bagi kelangsungan hidupnya. Manusia geram, marah, jengkel ketika keinginan hatinya tidak terpenuhi.
Sekarang tenangkan diri anda!!! Pandanglah sekelilingmu...apa yang anda lihat? Apa yang anda dengarkan? Apa yang dapat anda rasakan? Pernahkah anda mensyukuri kehadiran mereka? Atau anda merasa bahwa kehadiran mereka tidaklah begitu penting bagi anda.
Ketika melihat anak-anak bermain, berlari ke sana kemari, bahkan berteriak-teriak, apakah anda merasa terganggu? Ketika hujan turun dengan derasnya, bahkan pakaian anda basah olehnya, apakah anda marah? Atau sebaliknya terik matahari telah membuat kulit anda kusam dan bertambah gelap, apakah anda bersungut? Jika anda menjawab ia, maka anda sedang hidup di alam lain. Anda tidak hidup di dunia yang nyata dan serba serbi ini. Anda tidak layak tinggal di dunia ini, karena anda tidak mampu menerima kenyataan bahwa sesungguhnya anda sedang hidup di dunia fana yang serba serbi ini.
Terus jika demikian, apa yang harus saya lakukan jika saya masih ada di dunia fana yang serba-serbi ini? Terimalah semuanya dengan penuh ucapan syukur. Menjadi marah, bersungut, jengkel, sakit hati akan mempercepat anda meninggalkan dunia ini. Bukankah Yesus mengutus kita masuk dunia ini agar kita bisa menjadi terang dan garam bagi dunia ini? Kita diutus bukan untuk merusak, menghancurkan hidup orang lain. Namun sebaliknya kita diutus untuk menjadi terang bagi yang terhilang dan menjadi garam bagi yang mengalami kehampaan hidup. Tidak penting bagi anda berapa lama anda hidupdalam dunia ini. Yang lebih penting adalah apa yang anda lakukan selama anda hidup di dunia ini. (YM)

15 November, 2007

Miskin Materi+Miskin batiniah=sia-sia



Miskin selalu diidentikan dengan kekurangan makanan, sandang dan papan. Bagi orang miskin, mendapatkan beras untuk hidup satu hari saja sudah sulitnya bukan kepalang. Itulah sebabnya ada istilah raskin alias beras untuk orang miskin. Pemerintah memberikan bantuan beras kepada penduduk yang dikategorikan miskin. Tentunya bantuan beras ini akan sangat membantu, Namun sifatnya sementara saja. Mengapa? Karena orang miskin akan selalu ada di sekitar kita.
Apa yang kita bayangkan tentang orang miskin? Rumahnya sangat sederhana. Bahkan ala-kadarnya. Bukan saja ala-kadarnya, mungkin tidak punya rumah. Misalnya harus tidur dibawah kolong jembatan, beralaskan kardus bekas, dll. Pakaiannya sederhana, lusuh, penuh noda. Rambut tidak terawat dengan baik. Memakai sandal jepit yang lusuh. Bagi yang wanita, mungkin wajah juga tidak di make up seperti kebanyakan wanita lainnya. Orang miskin biasanya tidak sempat ngurus diri. Soalnya sibuk mencari beras sekilo dari hari ke hari.. Tapi orang kaya, sangatlah berbeda. Ada waktu, ada uang untuk urus diri. Rambut yang lurus di keriting, yang keriting dilurusin. Hidung yang pesek dimancungin..pokoknya semua serba terawat. Tidak demikian dengan orang miskin.
Coba anda masuk ke dalam rumah orang miskin. perhatikan rumahnya yang sederhana, berdindingkan gedek, papan atau yang beruntung sudah pakai batu bata. Ruang tamu (kalau ada) diisi dengan beberapa kursi kayu yang sangat sederhana. Syukur masih ada kursi, biasanya hanya beralaskan tikar. Lantainya pun terbuat dari tanah...atau yang agak baik sudah disemen. kordennya agak kusam dan lusuh. Terus mari masuk ke ruang tidurnya. Dipan kayu sederhana, diapit oleh berbagai barang, ada lemari plastik yang sudah reot, ditambal diberbagai bagian. Pokoknya campur aduk. Mengapa? Karena kamarnya cuman itu. Nah mari masuk lagi ke dapurnya. Ada kompor tua. Tempat gelas terbuat dari bambu...ada gentong tempat air yang terbuat dari tanah liat...dan tidak lupa ada tungku yang penuh dengan abu. Kalau mau tengok ke samping rumah, di sana bersender sepeda tua yang kusam. Atau yang sudah agak mapan ada sepeda motor tahun lawas. Ya itu kira-kira keadaan orang miskin yang masih beruntung.

Tapi beda donk dengan orang kaya. Coba perhatikan rumahnya. Megah dengan pagar tembok sekelilingnya. Ada taman dengan aneka bunga. Di atap rumah berdiri dengan kokoh benda bundar yang sering di sebut parabola. Terus ruang tamunya berjejer Sofa dengan warna yang sesuai dengan warna dinding ruang tamu. Ada meja tamu dengan bunga diatasnya. Di pojokan ruangan berdiri dengan megah bunga gelombang cinta, jemani, dll. Bunga ini digandrungi oleh orang berduit. Maklum untuk menaikan gengsi. Masuk ruang tidur, sudah menunggu dengan anggun tempat tidur yang lebar dan bersih. Ada penataan lampu yang serasi. Nampak bersih, harum dan luas plus suasana segar karena ber-AC. Coba tengok dapurnya. Berbagai peralatan modern menghiasi dapurnya. Ada lemari dengan berbagai model gelas, juicer, kulkas, kitchen set, dll. Pokoknya mantap. Belum lagi meja makan yang serasi dengan kursinya. Buah beraneka jenis tersaji di atasnya. Beda khan dengan orang miskin. Jangankan beli juicer, beli minyak tanah saja masih ngutang di warung. Jadi rumah orang kaya selalu bersih, karena ada pembantu yang selalu standby bekerja untuk mereka. Tak ketinggalan mobil mewah lengkap dengan sopir pribadinya.
Nah itulah bayangan kita tentang orang miskin, dibandingkan dengan orang yang kaya. Kemiskinan selalu kita hubungkan dari sisi materi belaka. Namun pernahkah kita sadari bahwa miskin bukan saja masalah lahiriah? Miskin juga berbicara masalah batiniah/rohani. Orang yang memandang rendah orang lain, iri, mau menang sendiri, pendendam, kikir, tamak, menindas orang lain pada hakekatnya adalah miskin secara rohani. Untuk mengubahnya tidak bisa seperti membeli sofa, televisi, asal ada uang pasti dapat barang. Kemiskinan rohani hanya dapat diperkaya oleh sang Pencipta. Tapi ada syaratnya. Apa itu? Perlu KTP, KK, Slip Gaji? Tidak. Yang dibutuhkan adalah menyadari diri sebagai orang yang miskin rohani di hadapan Allah. Menyadari bahwa kita membutuhkan Allah untuk memperkaya rohani kita. Itulah sebabnya, Yesus bersabda :”berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga.”
Jadi kalau orang kaya tapi miskin rohani masih beruntung di dunia. Paling tidak masih menikmati kesenangan dunia ini. Tapi bagaimana kalau sudah miskin materi plus miskin rohani? Wah ini yang susah! Orang bilang,”sudah miskin sombong lagi”
Terus anda pilih yang mana? Kalau boleh saya tebak anda akan pilih: kaya di dunia, tapi kaya juga secara rohani. Wah pasti enak donk. Tapi ga segampang lho, biasanya kalau sudah kaya jasmani...yang rohani diabaikan. Tapi yang terpenting sekarang bukan masalah kaya atau miskin. Hati yang terbuka untuk mengakui di hadapan Tuhan sebagai orang berdosa, memiliki karakter jahat, rusak, bobrok. Kemudian datang pada-Nya untuk dipulihkan. Maka anda akan menjadi kaya di dalam Dia. Mungkin secara materi anda berkekurangan, namun hati anda melimpah dengan kekayaan rohani. Jadi jangan sampai, sudah miskin materi namun secara rohani kita juga miskin. (YM)

14 November, 2007

Penghormatan Yang Sejati...

Langkahnya gamang, entah kemana kan melangkah. Suaranya melemah seakan tak terdengar. Orang-orang hanya mengenalnya dengan sebutan ”dulunya” Dulunya ia adalah tokoh yang paling disegani. Dulunya ucapannya adalah hukum. Dulunya setiap kepala menunduk memberi hormat. Hampir semua keinginannya terwujud. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang setia mengemban perintahnya. Tapi itu dulu...masa itu telah berlalu. Tak ada ada lagi penghormatan. Bahkan di jalan pun ia tidak dikenal. Keperkasaannya, kejayaannya telah berakhir. Yang ada hanya kenangan...dulu...dulu... Tak ada lagi penghormatan...penghormatan dunia ini fana...berlalu bak debu dihembas sang bayu.

Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda membayar orang sehingga mereka menghormati anda?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda memiliki pendukung yang kuat sehingga dengan terpaksa orang memberikan hormat?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena balas budi atas ”kebaikan” yang anda semaikan?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda sudah banyak berjasa bagi banyak orang?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda telah mengabdi kepada kepentingan orang banyak dan anda layak mendapatkan penghormatan?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena antara kata dan tindakan anda selaras?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena teguran anda dilandasi oleh kasih yang murni?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda juga senang menghormati orang lain?
Bagaimana seandainya orang tidak lagi menghormati anda? Apakah anda kecewa, marah, dendam, frustasi, putus asa? Jika ia, maka anda sedang tidak menghormati orang lain. Anda harus belajar untuk menghormati sikap orang yang tidak mau hormat pada anda. Anda terhormat bukan karena orang menghormati anda, tetapi karena memang anda terhormat, berharga di hadapan Sang Bapa (kecuali jika anda tidak mau menerima kenyataan ini)

Di dalam sikap hormat terkandung nilai yang teramat dalam. Menghormati orang lain bukan saja karena jasanya, pengabdiannya, kasihnya, kebaikannya, dan lain-lain. Menghormati orang lain bukan karena....Menghormati orang lain adalah sikap sadar akan kesetaraan dengan orang lain di hadapan sang Pencipta. Menghormati orang lain adalah kesadaran akan kefanaan. Menghormati orang lain dibangun di atas dasar ”masing-masing orang akan memberi pertanggungjawaban di hadapan sang Khalik. Penghormatan yang sejati adalah penghormatan yang akan anda terima kelak dari sang Alfa dan Omega,”: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

01 November, 2007

Takut=Pemborosan Energi

Takut....
Ketika sang surya mulai redup dan perlahan menuju peraduannya. Suara mahluk malam pun mulai menggema. Angin dingin menusuk tulang menebus tajam bak pedang. Kala itu, lampu-lampu temaram berkedip-kedip menghiasi rumah-rumah sunyi. Tak ada suara terdengar, sunyi sepi bak padang belentara. bayang-bayang mahluk halus menggelayut dalam benak setiap insan. Malam adalah dunia mereka, malam adalah kekuatan mereka. Jiwa insan mendesah resah. Entah ada apa dengan mereka...takut dan kengerian melanda alam.
Apa itu takut?
Takut bisa diartikan sebagai kondisi jiwa yang lemah ketika adanya kekuatan besar datang. Takut adalah ketidakmampuan hati melihat kenyataan pahit. Takut beriring dengan pengurasan energi. Takut adalah energi negatif jiwa yang menggerus potensi, kreativitas, dan kejayaan.
Takut penghambat kreativitas. hanya keluhan yang terdengar, hanya sungutan yang terekam dari hati yang takut dan getir hadapi kesulitan. Ide-ide cemerlang seakan tergilas dan kandas. Kekuatan jiwa terpatri dalam penjara jiwa lara. Yang nampak hanya desah nafas tanpa daya. Takut telah menyumbat nadi-nadi kreativitas, menggelinding dalam jurang kekacauan.
Karena takut, perut merintih. Orang takut berujar:"ada singa di luar sana" Orang takut melihat terang sebagai kegelapan. Orang takut adalah orang yang kalah sebelum berperang.
Ketakutan merongrong pondasi-pondasi iman. Ketakutan melumatkan pengharapan. Ketakutan mencengkram opitimisme jiwa. Ketakutan palang besi kemajuan.
Anda takut menghadapi hidup ini? Jika ya, maka anda sedang mengerami telur-telur keputus asaan, pesimisme. Ketika telur-telur itu menetas, ia akan menjadi monster-monster mengerikan dalam hidup anda. Mungkin anda akan berkata,"aku ini hanya seperti belalang saja jika dibandingkan dengan mereka yang seperti raksasa."
Tahukah anda bahwa anda tidak sendirian? Yang menyertai anda lebih besar dari semua monster-monster keputusasaan, pesimisme, ketidak berdayaan. Anda tidak berjalan sendirian. Dia bersama dengan anda. Ia bersabda,:
"Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."

31 Oktober, 2007

MOTIVUS GLORIA

Kita kadang mendengar ungkapan seperti ini:”wah, motivasinya ga beres” Ungkapan itu menyiratkan penilaian yang negative atas tindakan seseorang. Ketika seseorang dengan gencar mencalonkan diri sebagai ”pejabat”, berbagai tanggapan akan bermunculan. Tanggapan itu didasarkan kepada gelagat yang ”kurang baik”. Misal: seorang calon dengan berbagai cara berusaha agar terpilih menjadi seorang ”pejabat” Nah cara-cara yang tidak lazim itulah yang kadang ditanggapi sebagai adanya motivasi yang terselubung dan dianggap sebagai motivasi yang negatif.
Apa sebenarnya motivasi itu? Apakah motivasi seseorang bisa diketahui oleh orang lain? Kadang kita terlalu cepat menghakimi seseorang hanya karena melihat tindakannya yang agak ”aneh”. Sedangkan kita sendiri sebenarnya tidak memahami motivasi orang hanya karena melihat tingkah lakunya. Motivasi adalah bagian yang tersembunyi dalam diri seseorang.
Motivasi adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang melakukan sebuah tindakan. Motivasi berasal dari bahasa latin : MOTIVUS yang memiliki arti : alasan-alasan untuk bergerak.
Setiap gerakan atau tindakan senantiasa didasarkan kepada alasan-alasan mendasar dalam setiap diri individu. Kita kadang mengamati orang-orang di sekitar kita dengan berbagai aktivitasnya. Ketika kita melihat seseorang yang sangat rajin bekerja, maka kita berusaha menebak motivasi orang itu dengan berasumsi bahwa orang itu sedang mengejar suatu tujuan. Motivasi dasar orang bekerja biasanya karena alasan ekonomi. Karena alasan inilah maka orang bersedia untuk mengorbankan segalanya demi pemenuhan kebutuhan fisik. Namun ada alasan lainnya seperti alasan sosial. Orang tidak semata bekerja karena alasan ekonomi. Ada orang yang sangat rajin bekerja karena alasan pemenuhan kebutuhan akan penghargaan. Orang akan sangat puas bila dihargai, dihormati. Orang-orang semacam ini tidak lagi menempatkan uang sebagai motivasi dalam bekerja, namun penghargaan.
Apapun motivasi seseorang dalam bertindak, akan nampak dari bagaimana cara ia melakukan tindakan itu. Sebab motivasi yang benar, luhur akan senantiasa diikuti oleh sikap yang benar dan luhur pula. Mengapa ada orang yang menjadi kecewa ketika pekerjaannya kurang dihargai? Alasannya karena ia memang mendambakan penghargaan itu. Apakah itu salah? Tentu tidak. Namun harus diingat bahwa kita sedang berada dalam kumpulan orang dengan berbagai motivasi pula. Motivasi-motivasi karena alasan ekonomi, penghargaan, kekuasaan sifatnya sangat sementara. Kepuasan yang diperoleh sangatlah labil. Namun motivasi yang dilandasi oleh tujuan yang jangka panjang (Kekal), biasanya mendorong seseorang melakukan yang terbaik. Bekerja bukan lagi karena alasan ekonomi, penghargaan, kekuasaan. Bekerja sudah menjadi aktualisasi diri sebagai ungkapan syukur kita kepada Tuhan. Dengan demikian, bekerja bukan lagi menjadi sebuah beban. Bekerja akan menjadi suatu aktivitas dinamis dengan tujuan yang jauh lebih mulia. Bekerja bukan lagi hanya sekadar untuk memuaskan ego, tetapi lebih kepada melayani orang lain.
Apa motivasi anda dalam melakukan sebuah pekerjaan? Yesus menunjukan kepada anda sebuah motivasi yang sangat mulia dan kekal. Yesus berkata,”
Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."

30 Oktober, 2007

Kristus>Diri=Rendah Hati

Manusia berbeda dengan binatang. Kalau binatang hidup berdasarkan insting saja. Kalau mereka membuat sarang itu karena insting saja. Kita belum pernah melihat sarang ular yang di dalamnya ada kulkas, kipas angin, meja makan, dll. Paling-paling hanya lubang pengab. Itu pun bukan si ular yang membuatnya. Ia hanya masuk saja, ketika melihat lubang. Kenapa binatang sudah puas dengan apa yang ia peroleh? Kalau sudah kenyang ia sudah. Memang kehidupan binatang sangatlah simpel. Hidup, mencari makan, menemukan pasangan, berkembang biak, mati...terus demikian. Rasanya belum pernah kita lihat seekor burung melamun di atas pohon memikirkan nasibnya. Yang burung lakukan adalah terbang dari pohon ke pohon yang lainnya untuk mencari makan baik bagi dirinya maupun bagi anak-anaknya. Ketika anak-anaknya sudah besar, mereka sudah bisa mencari makan sendiri. Mengamati kehidupan binatang, ternyata cukup simpel.
Bagaimana dengan manusia? Sebenarnya simpel juga. Namun dalam kenyataannya menjadi sangat rumit oleh karena manusia itu sendiri. Manusia memiliki pikiran, perasaan. Daya kreativitas manusia, menjadikan manusia sebagai mahluk yang berbeda dengan binatang. Kalau manusia membangun rumah, bukan sekedar untuk tidur. Manusia membangun rumah dengan berbagai pertimbangan seperti kenyamanan, keamanan, keindahan, gengsi, dll.
Manusia tidak mengenal yang namanya cukup. Memang kadang-kadang karena kondisilah yang membuat manusia ”mencukupkan” diri. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, manusia selalu ingin dihargai dan di ”orangkan” Karena itulah jangan heran jika manusia berusaha untuk merengkuh dunia dalam genggamannya. Seolah-olah dengan memegang dunia ini, manusia merasa bahwa ia sudah mendapatkan apa yang diinginkan.
Tentunya perasaan ini juga yang menguasai hidup Saulus. Sebelum bertemu dengan Kristus, ia seolah-olah telah menjadi manusia sempurna. Kedudukan, pendidikan, kekayaan, telah ada dalam genggamannya. Saulus menilai orang lain dari kacamata-nya sendiri. Namun sesudah bertemu dengan Kristus, sebuah perubahan luar biasa terjadi dalam hidup-Nya. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, ia menuliskan,” Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus”
Dalam bagian yang lain, Yesus bersabda,”
"Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
Kristus adalah puncak kepuasan hidup manusia. Kristus adalah pemenuhan semua pencarian manusia tentang kebenaran, harga diri, kemuliaan, kekayaan, kepuasan hidup,dll. Berjumpa dengan Kristus akan membuat manusia itu menjadi puas. Apa lagi yang harus dibanggakan? Gelar, Kedudukan, Kekuasaan, Kekayaan, Kehormatan? Masihkan kita sebagai anak-anak-Nya layak memegahkan diri? Tidak! Karena kemegahan kita hanyalah Kristus. Jadi kalau kita membuat rumus : Kristus > Diri = Rendah Hati (artinya: Kalau saya menempatkan Kristus lebih besar/menjadi pusat dalam hidup saya, maka saya akan menjadi rendah hati)

16 Oktober, 2007

Latihan Mengatasi Kekuatiran

Ketika saya mengantar isteri ke Terminal Arjosari, Malang, saya merasa sangat tertekan dengan padatnya arus kendaraan. Jalan yang biasanya normal kini menjadi ab-normal. Iringan kendaraan melaju sangat pelan, bahkan cenderung mandeg. Berbagai jenis kendaraan dan dari berbagai daerah dapat kita jumpai. Kemacetan ini sempat membuat saya kuatir, karena pukul 20.00 bis menuju Magelang sudah berangkat. Ketika saya melirik ke arah jam, ternyata sudah pukul 18:44. Posisi saya saat ini masih sekitar Beji, Batu. Dapat dibayangkan betapa kuatirnya kami. Pada saat bersamaan, ternyata saya lupa membawa HP. Padahal hanyalah nomor Hp saya yang dapat dihubungi oleh Crew Bis jika terjadi sesuatu. Rasanya yang ada dalam pikiran takut melulu. Takut terlambat, takut ditinggal bis, takut kalau tiketnya hangus, dll. Semua perasaan negatif bercampur menjadi satu dalam pikiran saya. Sekali-kali saya mengeluh kepada isteri,"aduh gimana ini...kapan sampainya kalau macet seperti ini" Eh, isteri saya dengan entengnya menjawab,"tenang saja" Walah, orang lagi panik, malah dijawab tenang saja. Tapi saya juga menjadi agak tenang setelah mendengar jawaban isteri saya. Memang saya kuatir juga seandainya tidak bisa berangkat hari itu. Untuk mendapatkan tiket bis saja, kami harus pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Saya tidak bisa bayangkan seandainya ditinggal bis. Pastilah semua persiapan menjadi berantakan. Sekalipun isteri saya menjawab,"tenang saja" namun bagi saya sendiri perasaan kuatir masih terus menggelayut dipikiran. Perasaan saya seolah-olah dipermainkan oleh kondisi jalanan. Ketika kemacetan berkurang, maka muncul pengharapan. Namun ketika macet lagi, maka seolah-olah pengharapan itu lari entah kemana.
Hampir sekitar 1,5 jam perasaan saya gundah gulana. Namun perasaan mulai menjadi tenang ketika sudah mendekati terminal. Ketika saya lirik jam, ternyata masih ada waktu. Wah rasanya plong...Beban yang tadinya berat, lenyap begitu saja. Wajah yang tadinya tegang, kini berubah ceria.
Ternyata, kondisi hati dan pikiran kita dengan mudahnya dipermainkan oleh kondisi sekitar kita. Mungkin kita (saya juga) sulit sekali menerapkan apa yang tertulis dalam kitab Mazmur 62:2,"Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku". Bagaimana kebenaran ini kita terapkan dalam situasi-situasi yang "genting" seperti apa yang kami alami. Saya merasa sangat kuatir dengan apa yang saya alami. Bahkan kekuatiran itu telah menggerogoti akal sehat saya. bahkan bukan itu saja, saya melupakan bahwa saya menyembah Allah yang berdaulat, berkuasa atas alam semesta ini. Meskipun dalam hati saya memohon kepada-Nya agar diberi pertolongan, namun rasa kekuatiran itu lebih besar dari iman saya. Dampaknya sudah sangat jelas, berbagai pikiran negatif bertumbuh dengan suburnya dalam hati saya. Padahal pikiran negatif itu jika dibiarkan akan terus berkembang menjadi tindakan yang negatif pula. Itu sangat nampak dari sikap saya yang spontan saja pencet klakson ketika mobil di depan saya berjalan lambat, walaupun jalan di depan sudah agak lancar.
Ternyata kekuatiran itu sangat merugikan hidup kita. Kekuatiran itu merusak sendi-sendi dalam seluruh aspek kehidupan. Kekuatiran tidak saja merusak jiwa, tetapi tubuh jasmani juga. Karena itu, mari kita serahkan kekuatiran itu kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara hidup kita.
Latihan mengatasi kekuatiran, bukan dilakukan di masa-masa tenang, tapi di masa-masa tegang. (YM)

11 Oktober, 2007

"JAGALAH PIKIRANMU"!!!








"Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu" Ungkapan ini tentu kita masih ingat maknanya. Pada dasarnya tak seorang pun tahu apa yang sedang dipikirkan oleh orang lain. Sekalipun ada orang yang menggangap diri mampu mengetahui pikiran orang, namun pastilah tidak mungkin. Kalau orang membaca pikiran orang (mind reading) ya banyak. Orang kadang-kadang menebak pikiran orang.
Apa yang ada dalam pikiran manusia, hanya manusia itu sendiri yang tahu. Apa yang sedang mereka pikirkan akan terungkap setelah yang bersangkutan mengungkapkannya. Namun tahukah anda bahwa ada yang tahu apa yang anda sedang pikirkan? Wah anda memang jenius, memang benar sekali bahwa Tuhan tahu apa yang kita pikirkan. Tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan. Segala sesuatu terbuka dihadapan-Nya. Kalau di hadapan manusia kita masih bisa bersandiwara, tapi jangan coba-coba di hadapan Tuhan. Tuhan tahu kalau anda sedang merencanakan hal-hal yang baik. Dia juga tahu jika anda sedang merancangkan yang jahat. Dia juga tahu kalau anda sedang menyimpan dengki, dendam terhadap saudara, teman, rekan sekerjamu. Tuhan juga tahu kalau anda sedang pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana caranya bisa melunasi kreditan. Tuhan tahu semuanya. Jangan kita berkata,"ah Tuhan tidak tahu kok" Salah besar. Anda mau tahu contohnya? Coba perhatikan apa yang tertulis dalam kitab suci, secara khusus Injil Lukas 5:21-22 :"Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: "Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu?"
Seandainya Tuhan hadir secara fisik di dunia ini, berapa banyak di antara kita yang sudah ditegor oleh Tuhan. "Hai Yohanes...apa yang sedang kamu pikirkan...memang kamu pikir Aku tidak tahu ya..." Bukankah seringkali kita berpikir yang tidak selaras dengan kehendak-Nya. Bahkan mungkin kita sedang berpikir tentang Tuhan yang kita anggap tidak peduli terhadap kita. Tuhan tahu apa yang kita pikirkan. Karena itu, hati-hatilah dalam berpikir. Jangan sampai kita melupakan bahwa Tuhan tahu segala yang kita pikirkan. Mungkin kita berusaha hati-hati dalam bertindak,tapi sembrono dalam berpikir.
"Ada seorang bapak yang mengajak anaknya untuk mencuri jagung di kebun tetangganya. Ketika hari sudah malam, ia mengajak anaknya mengendap-endap di kebun jagung tetangganya. Bapak itu menyuruh anaknya untuk berjaga-jaga, jangan sampai ada orang yang melihatnya. Satu demi satu jagung dipetiknya. Tiba-tiba sang anak memberi kode, bahwa ada yang melihat. Bapaknya toleh kanan dan kiri...sepi..tidak ada orang. Tapi sang anak menunjuk ke atas......."
Mari jaga pikiran kita, karena Tuhan mengetahui apa yang kita pikirkan. Kita tidak hanya mempertanggungjawabkan perbuatan, perkataan kepada Tuhan. Namun apa saja yang kita pikirkan akan dipertanggungjawabkan di hadapan_Nya.

10 Oktober, 2007

TUHAN KOQ DIPERINTAH...


Siapa yang berani memerintah Tuhan? Pastilah tidak ada. Tapi tanpa kita sadari, seringkali kita perintah-perintah Tuhan. Bukankah dalam doa-doa kita, sering kali kita memerintahkan Tuhan untuk melakukan sesuatu. Misalnya,”Tuhan tolong gerakan hati bapak A agar ia mau menolong saya.” Tuhan tidak berada di bawah perintah siapapun. Tuhan adalah Allah yang sempurna. Tidak ada seorangpun yang memberikan nasehat kepada-Nya ketika Ia melakukan sesuatu. Keputusannya mutlak tanpa pengaruh siapa pun. Jika seperti itu, pada dasarnya tak seorang pun mampu menggerakkan tangan Tuhan untuk melakukan sesuatu. Gerakan tangan Tuhan mutlak karena kehendak-Nya sendiri. Tuhan tidak memihak kepada siapa pun. Tuhan adalah Tuhan yang Maha adil. Keadilan-Nya nyata dalam seluruh keputusan-Nya. Namun ingatlah bahwa Tuhan bukanlah Tuhan yang bengis. Ia adalah Bapa kita yang baik. Ia memperhatikan kesusahan anak-anak-Nya. Belas kasihan-Nya nyata dalam sejarah alam semesta ini. Sekalipun demikian bukan berarti kita boleh ”perintah-perintah” Tuhan.
Jika Ia berbelas kasihan kepada seseorang, maka itu adalah keputusannya. Ia secara bebas bisa melakukan apa saja, tanpa tekanan dari pihak manapun. Bahkan bagi orang-orang yang oleh dunia dianggap tidak layak, Ia juga bebas melakukan sesuatu. Salah satunya adalah terhadap seorang yang kena sakit kusta. Menurut aturan agama Yahudi orang seperti ini harus diasingkan. Orang-orang kusta menyandang predikat sebagai orang yang najis. Dalam istilah modern kita :”sampah masyarakat, penyakit masyarakat”. Karena itulah orang kusta adalah sekelompok orang yang dikucilkan dari lingkungan masyarakat Yahudi. Namun orang yang ”tidak layak” ini, ternyata mendapatkan belas kasihan Tuhan. Apa yang dilakukan oleh orang kusta ini?. Apakah ia marah kepada Tuhan karena membiarkan ia terkena sakit kusta? Atau ia protes kepada Tuhan yang mungkin dianggap tidak adil? Tidak. Dalam kitab suci dicatat bahwa orang kusta ini melakukan sesuatu yang sunggu menghormati kedaulatan Tuhan. Orang kusta ini datang kepada Yesus dengan permohonan: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Lukas 5:12)
Sikap orang kusta ini patut kita tiru. Dalam permohonannya ia memohon,”Tuan jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” Dalam permohonannya itu, sangat nampak bahwa ia tidak sedang mengintimidasi Tuhan untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya ia menyerahkan semuanya kepada kehendak/kemauan Tuhan saja. Namun kita sering kebablasan dalam bedoa. Kita berani memojokkan Tuhan dengan berkata,”Tuhan bukankah Engkau Tuhan yang berkuasa, mengapa Engkau membiarkan bencana ini...apakah Engkau tidak melihat penderitaan anak-anak-MU...” Doa-doa semacam itu adalah doa-doa orang yang tidak paham terhadap kedaulatan Tuhan. Kita sering tidak menghormati Bapa kita dengan memojokkan,memerintah-Nya melalui doa kita.Mari kita belajar menghormati kedaulatan, Keputusan, dan Tindakan-Nya. Jangan sekali-kali memerintah Tuhan, itu namanya tidak etis...Tuhan Koq diperintah!!!

09 Oktober, 2007

TURUT SAJA PERINTAHNYA


Bagi para nelayan, perahu merupakan modal yang sangat berharga. Perahu merupakan tumpuan harapan bagi kehidupan keluarga nelayan. Karena itu, perahu-perahu tersebut akan dirawat dengan sangat baik. Rasanya tidak ada nelayan yang tidak merawat perahunya. Ketika warna catnya mulai pudar, mereka akan meluangkan waktu untuk mencatnya kembali. Demikian juga ketika selesai melaut, mereka akan membersihkan dan menyimpan perahu itu dengan baik. Biasanya perahu-perahu itu ditempatkan di bawah pohon-pohn yang rindang.
Kedatangan perahu-perahu pada pagi hari, memang membawa sejuta pengharapan. Dari kejauhan sudah nampak perahu-perahu berjejer memasuki pantai. Pantai yang tadinya sepi, kini sudah penuh sesak dengan orang-orang yang berebut mengais rejeki. Para pengepul ikanpun sudah siap sedia untuk membeli ikan-ikan dari para nelayan. Ketika perahu-perahu mulai merapat, maka sejumlah orang mulai berlarian. Mereka membantu para nelayan itu untuk menarik perahu tersebut ke tepi pantai. Gelak tawa akan terdengar ketika perut perahu dilihat ternyata berisi penuh dengan ikan. Namun sebaliknya, ketika perut perahu kosong, maka desah kekecewaan akan mengema dimana-mana. Yang kecewa bukan saja yang mengharapkan hasil tangkapan para nelayan. Justru nelayannyalah yang paling kecewa. Nelayan-nelayan ini sudah menyimpan kekecewaan sejak jala-jala kosong terangkat ke permukaan. Angin laut menusuk tulang-tulang mereka. Tusukan itu semakin dalam, ketika semalaman mereka melaut, namun hasilnya nihil.
Kondisi seperti itu, rasanya sulit bagi orang untuk memikirkan orang lain. Jangankan memikirkan kepentingan orang lain, pikir diri saja sudah susahnya minta ampun. Tapi tahukah anda bahwa ada seorang nelayan yang masih membuka hati bagi orang lain? Namanya Petrus. Ketika pulang dari melaut, ia sedang sibuk membersihkan jalanya yang kosong. Ia sibuk menata kembali jalanya untuk dipergunakan mencari ikan di hari berikutnya. Sebenarnya ia dan teman-temannya sudah bersiap untuk pulang. Tapi dia sedikit terkejut karena ada orang yang naik ke perahunya. Wah ini cari-cari masalah. Sudah tahu si Petrus lagi pusing, eh malah perahunya dipakai. Bukan itu saja, malahan disuruh bertolak agak ke tengah. Kita tidak tahu perasaan Petrus saat itu. Mungkin Petrus kenal dengan orang yang naik ke perahunya, namun tidaklah terlalu akrab. Tapi Petrus ikut saja dengan apa yang dikatakan oleh orang itu. Mungkin ia berpikir,”wah dapat rejeki nich..orang ini mau sewa perahuku...” Tapi dugaannya meleset. Bukannya menyewa perahunya, malahan perahunya hanya dipakai tempat untuk khotbah. Si Petrus sudah terlanjur mendorong perahunya agak jauh dari Pantai. Dikerumuni banyak orang, tentu Petrus tidak etis kalau protes kepada Yesus yang saat itu pinjam perahunya. Petrus sendiri harus rela berendam di air sambil menahan perahu itu agar tidak hanyut dibawa gelombang laut. Ketika melakukan hal ini, tidak terbersit dalam pikirannya akan mendapatkan ikan yang banyak. Bayangkan saja!! Mana ada orang menebarkan jala di pinggir pantai trus dapat ikan besar-besar. Apalagi saat itu siang hari. Orang biasanya melaut malam hari. Tapi apa yang tidak pernah terpikirkan kini menjadi kenyataan di hadapannya. Kitab Suci menceritakan,”Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.” (Lukas 5:6). Bukan itu saja, perahu tersebut tidak mampu memuat ikan hasil tangkapan mereka. Itulah sebabnya mereka menggunakan dua perahu sekaligus. Bahkan kedua perahu itu hampir tenggelam. Luar biasa!!!
Apa rahasianya?
Petrus taat kepada perintah Yesus. Ia tidak menjadikan rasa kecewanyasebagai alasan menolak perintah Yesus. Ia melakukan apa yang diminta oleh Yesus. Hasilnya adalah : Petrus terobati kekecewaannya. Bukan itu saja, sejumlah ikan besar ia bisa bawa pulang bersama nelayan lainnya.
Melakukan apa yang Tuhan perintahkan selalu membawa keberuntungan. Hanya saja jangan salah mengerti. Keberuntungan jangan dinilai hanya dari hal-hal jasmani saja. Keberuntungan juga harus dilihat dari sisi rohani. Rasanya itu yang lebih mulia dari sekedar keuntungan duniawi.

LEPASKAN GENGGAMANMU...

Penduduk Afrika memiliki cara yang unik untuk menangkap seekor monyet. Mungkin kita berpikir bahwa cara mereka sama dengan yang kita lakukan. Kami biasanya menangkap monyet di kampung dengan mempergunakan senapan angin. Kalau tidak, kami biasanya mempergunakan anjing pemburu. Jadi ketika kami melihat monyet di sebuah pohon, maka kami berusaha melemparnya, atau menggoyang-goyang pohon tersebut. Karena panik, maka biasanya monyet-monyet tersebut akan berlompatan kesana kemari. Namun ada saja yang lengah, sehingga terjatuh dari pohon. Nah saat itulah anjing-anjing pemburu menangkapnya.
Namun berbeda dengan cara yang dilakukan oleh orang-orang Afrika. Mereka biasanya memakai semangka yang sudah dilubangi. Di dalam lobang tersebut, mereka mengisinya dengan kacang. Tahu kan,monyet suka sekali makan kacang (bukan berarti yang suka kacang adalah monyet...) Tapi itu cara yang sangat jitu. Ketika monyet-monyet tersebut melihat semangka bergeletakan, mereka berusaha mendekati untuk memeriksanya. ”ah lagi mujur nich...ada kacang dalam semangka” pikir si monyet. Maka monyet-monyet itu pun tanpa buang-buang waktu mulai memasukkan tangan mereka untuk merogoh kacang yang ada dalam lobang semangka tersebut. Mereka tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam jiwanya. Tak disangka-sangka, dari dalam semak belukar berhamburan para pemburu dengan tombak yang siap untuk menombak monyet-monyet yang malang itu. Monyet-monyet itu pun berlarian menyelamatkan diri sambil membawa lari semangka-semangka yang berat itu. Monyet-monyet itu rupanya enggan melepaskan genggamannya. Ia sudah merasakan ”keuntungan” yang besar jika berhasil membawa kabur kacang-kacang dalam semangka tersebut. Tapi keserakahannya justru merupakan malapetaka bagi mereka.
Sesudah Yesus melakukan pelayanan, maka Ia pun mencari tempat yang sunyi. Namun orang-orang yang tadinya menerima pelayanan dariNya terus mencari-Nya. Mereka berusaha menahan Dia agar tetap bersama-sama dengan mereka. Namun Yesus menolaknya dengan berkata,”Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” (Lukas 4:43)
Mengapa mereka menahan Yesus? Tentu mereka sudah merasakan keuntungan besar jika Yesus selalu bersama dengan mereka. Mereka sudah melihat dan merasakan bahwa Yesus ini adalah ”asset” yang sungguh berharga. Dengan menahan-Nya berarti keuntungan ada di pihak mereka. Namun mereka terperangah ketika Yesus menolak permintaan mereka. Yesus tidak tergoda untuk merasa nyaman bersama mereka. Yesus kembali kepada tujuan semula yaitu mengabarkan Injil kepada orang-orang lain juga.
Ketika kita menerima berkat-berkat di dalam kehidupan ini, kecendrungan kita adalah menahannya untuk kepentingan kita semata. Kita enggan berbagi dengan orang lain. Kita merasa rugi jika membagi berkat tersebut dengan orang lain. Namun kita akan mengalami nasib yang sama dengan monyet-monyet tadi tatkala kita enggan melepaskan genggaman kita. Semestinya kita tidak bersikap sepeti itu. Yesus Guru kita sudah memberikan teladan agar kita rela berbagi berkat, kebahagiaan, kesukaan dengan orang lain.
Orang yang kaya bukanlah orang yang menyimpan harta bagi diri sendiri. Orang yang kaya adalah orang yang mau berbagi dengan orang lain. Lepaskanlah genggamanmu sekarang juga...

Menolak Menjadi Populer


Tiga bagian penting yang selalu menjadi incaran manusia dari masa ke masa adalah : Kekayaan, kekuasaan dan kemasyuran (popularitas). Ini bisa sebut sebagai tiga serangkai yang selalu berdampingan. Ketika orang mendapatkan apa itu kekuasaan, maka kedua temannya senantiasa mengikuti. Kekayaan dan ketenaran akan datang juga. Demikian juga ketika seseorang sudah tenar, terkenal, maka secara tidak langsung kekayaan dan kekuasaan biasanya hadir juga.

Dunia selalu mengincar ke-tiga bagian ini. Ketika manusia mendapatkannya ia akan merasakan bahwa ia sudah merengkuh dunia ini. Itulah sebabnya, tidak sedikit orang yang rela mengorbankan apa saja demi mendapatkan ketiga hal tersebut. Rasanya itulah yang menjadi tujuan hidup manusia.

Namun anda mungkin terkejut dengan pernyataan seseorang yang menyatakan,"Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias" (Lukas 4:41).

Ini merupakan kebalikan dari apa yang dikejar oleh dunia. Dunia dengan segala caranya berusaha untuk mengejar popularitas. Justru sebaliknya, Yesus menolak popularitas dunia ini. Ketika orang-orang mulai tahu siapa Dia, tentulah ini sebuah kesempatan untuk menjadi populer. Namun Yesus justru melarang mereka memberitakan siapa Dia sebenarnya. Apakah Yesus punya strategi lain? Kita tidak sedang melihat Yesus punya strategi lain dalam pernyataan-Nya. Ia datang ke dunia dengan misi yang jelas yaitu keselamatan umat manusia. Yesus tidak perlu mencari-cari popularitas semu seperti itu. Ia melakukan pekerjaan yang teramat mulia. Karena kerendahan hatiNya untuk mentaati kehendak Bapa, Ia dihormati di Sorga dan di Bumi.

Ini merupakan prinsip mendasar dalam hidup ini. Menjadi terkenal bukanlah tujuan. Namun sebaliknya, jika karena pekerjaan mulia yang kita lakukan menyebabkan kita dikenal orang itu adalah hal yang normal. Pepatah mengatakan:"Gajah mati meninggalkan gadingnya, manusia mati meninggalkan namanya." Itulah sebabnya, kita tidak sedang mengejar yang namanya popularitas. Menjadi populer bukanlah tujuan hidup. Orang-orang yang mengejar-ngejar kepopuleran akan jatuh dalam berbagai kesulitan hidup.

Dunia mungkin menganggap kita populer,namun belum tentu di hadapan Tuhan. Yang menjadi tujuan hidup kita sebagai orang percaya adalah mengenal Allah dan dikenal oleh Allah. Ayub dikenal oleh Allah. Bahkan Allah memberikan rekomendasi:"Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:8)

Pesan renungan kita pada hari ini adalah: jangan mengejar kepopuleran dunia ini. Kejarlah rekomendasi Allah. Apakah Allah akan memberikan rekomendasi baik pada anda atau sebaliknya.

08 Oktober, 2007

PENGAJARAN YANG BERKUASA

Ketika saya mengambil saat teduh, saat itu saya merenungkan Firman Tuhan dari Injil Lukas pasal 4 ayat 31-36. Dalam kisah itu diceritakan tentang Tuhan Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea. Tujuan Tuhan Yesus ke daerah itu bukan untuk refreshing atau jalan-jalan. Tujuannya sangat jelas yaitu pelayanan. Setiap hari Sabat, Yesus masuk ke rumah ibadat untuk mengajar. Rupanya tanggapan orang-orang sesudah mendengarkan beberapa kali pengajarannya sangat luar biasa. Dalam ayat 32, dituliskan:"Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa." Apa yang membuat mereka memberikan respons seperti itu? Tentunya respons tersebut tidak lahir dari konspirasi untuk menunjukkan bahwa Yesus itu benar-benar berkuasa. Pengajaran Yesus penuh dengan kuasa oleh karena pengajaran-Nya lahir bukan dari hikmat dunia ini. Pengajaran-Nya lahir karena hikmat Allah. Dalam pengalaman yang sama, Rasul Paulus juga menyatakan hal yang serupa. Dalam I Korintus 2:4, dituliskan:"Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh". Dalam ayat 13, lebih jelas lagi dituliskan,"...kami berkata-kata dengan karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh."
Tentunya ini menjadi pertanyaan bagi kita yang biasa mengajar, berkhotbah, atau pelayanan apa saja. Semua yang berhubungan dengan pengajaran kita, apakah pengajaran kita lahir dari hikmat manusia atau hikmat Allah. Apakah pengajaran kita hanya membuat orang terpukau karena banyak istilah-istilah "keren" yang dipergunakan atau pengajaran yang sederhana namun berkuasa? Semua ini menantang kita untuk interospeksi diri. Jangan-jangan selama ini apa yang saya ajarkan semata-mata hanya karena "kepintaran manusia semata" Jika demikian janganlah heran jika semua pengajaran kita hanya sampai kepada kepuasan "pikiran" belum sampai kepada sentuhan hati.
Pengajaran Yesus yang berkuasa lahir dari hikmat Allah. Hikmat Allah itu didapat sebagai akibat dari hubungan yang intim dengan Sangg Bapa. Sebelum Yesus melayani, Yesus melakukan doa dan puasa 40 hari. Ini bukan main-main. Ini perkara yang sangat serius. Yesus memandang pelayanan itu hal yang sangat serius. Karena itu Ia tidak asal-asalan saja. Dari sini saja kita sudah dapat belajar bahwa melayani Tuhan itu perkara yang serius, sungguh-sungguh. Apalagi jika itu sudah berhubungan dengan pengajaran.
Karena itu, melalui renungan ini saya mengajak kita untuk mawas diri. Jangan sampai apa yang kita lakukan selama ini hanya lahir dari hikmat dunia ini. Jangan sampai kita mengabaikan hikmat Allah dalam pelayanan. Hikmat dunia hanya membawa manusia kepada kepuasan "pikiran saja" Namun hikmat yang dari Tuhan membawa manusia mengalami kepuasan yang seutuhnya. Bukan itu saja, hikmat yang datang dari Allah akan membawa manusia mengalami perubahan dalam hidup mereka.

03 Oktober, 2007


PERTEMUAN YANG MENGHARUKAN


Suatu hari isteri saya berbelanja ke warung dekat rumah kami. Ketika isteri saya pulang, wajahnya nampak gembira. Saya penasaran apa yang membuatnya seperti itu. Tapi saya diam saja. Ketika kami sedang duduk makan bersama, isteri saya mulai bercerita. ”tadi ketika saya ke warung, saya melihat kejadian yang sangat hebat. Saat itu seekor anjing yang bernama poci, berlari dengan senang ketika melihat seekor anak anjing.” Dalam pikiran saya, wajar saja seekor induk anjing senang ketika melihat anaknya. Namun yang menjadi masalah karena mereka tidak hidup bersama sebagai sebuah keluarga.
Peristiwa ini tentu merupakan sebuah kewajaran, antara induk Anjing dan anaknya yang memiliki kedekatan perasaan yang begitu luar biasa. Siapa pun tidak dapat menyangkal, bahwa adanya hubungan yang begitu dekat antara sang ibu dan anaknya. Kedekatan itu sudah terjalin sejak sang anak dikandung oleh sang Ibu kurang lebih 9 bulan. Betapa hebatnya jalinan kedekatan itu terjalin. Sekalipun demikian, rasanya tidak masuk di akal jika masih ada kasus-kasus ibu yang membuang bayinya. Atau jika ada ibu-ibu yang menelantarkan bayinya. Berbagai alasan pun disampaikan oleh mereka. Ada yang beralasan karena malu dengan bayi yang dilahirkan sebagai hasil hubungan gelap. Ada juga karena masalah ekonomi, mereka takut tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi sang anak. Dan tentunya masih ada alasan lainnya. Alasan bisa saja dicari. Bahkan seribu alasan pun dapat dibuat. Namun semuanya itu tidak dapat menghalangi hubungan yang begitu dekat antara sang ibu dan anaknya.
Hubungan yang begitu dekat juga terjalin antara Sang pencipta dan Manusia ciptaan-Nya. Sang pencipta tidak pernah membenci manusia ciptaan-Nya. Jika kita menemukan kasus-kasus dalam kitab suci, seperti Kejadian pasal 6, dimana Allah membinasakan manusia; Bukanlah berarti Allah membenci Ciptaan-Nya. Allah sedang menunjukan kepada manusia bahwa Ia adalah Allah yang suci, Kudus. Allah sedang mengajarkan kepada manusia apa itu hidup yang suci dan kudus.
"SEGERA SELESAIKAN MASALAHMU"
Sebuah ungkapan yang disampaikan oleh salah satu pembicara dalam sebuah kebaktian pagi sehubungan dengan pentingnya mempertahankan sebuah pernikahan adalah,"untuk sampai kepada level pernikahan mungkin sampai meneteskan darah". Kadang orang melupakan perjuangan yang begitu berat, hanya gara-gara hal sepele saja sudah dijadikan masalah besar. Bukankah persoalan besar selalu dimulai dari hal-hal yang sepele. Orang yang sakit kronis, tentu dimulai dari sakit ringan yang disepelekan. Kita kadang sering katakan,"tidak apa-apa" Kita meremehkan persoalan-persoalan yang dianggap kecil. Padahal hal-hal kecil itu memiliki potensi menjadi hal yang besar jika tidak diselesaikan. Pohon beringin dimulai dari sebuah benih yang sangat kecil. Di dalam benih yang kecil ini menyimpan potensi sebuah pohon yang sangat besar seperti beringin. Apakah kita ingin melihat pohon besar yang menutupi rumah kita atau kita "selesaikan" benih kecilnya? Manakah yang lebih mudah, menebang pohon beringin besar atau mematikan benihnya? Tentu akan lebih mudah mematikan benihnya. Namun hal ini jarang dilakukan. Kita sering berdalih,"ah ga apa-apa, hanya benih kecil saja kok"
Pernahkah saudara berselisih dengan teman, isteri atau suami? Adakah niatan saudara untuk menyelesaikan masalah tersebut? Atau saudara malah menganggap remeh saja? Dalam sebuah tayangan sinetron di televisi di ceritakan tentang seseorang yang sesudah besar membalas dendam dengan saudaranya sendiri. Mengapa? Karena anak ini ketika masih kanak-anak selalu saja mendapatkana perlakuan buruk dari sang nenek. Jadi rupanya sang nenek selalu bersikap tidak adil terhadap anak ini. Kalau ada pertengkaran pasti dialah yang disalahkan atau dihukum. Perlakuan sang nenek ini rupanya membekas dalam diri sang anak. Nah setelah besar, rupanya dendam itu masih ada, sehingga ia melakukan perbuatan balas dendam terhadap saudaranya sendiri. Apa yang salah dalam bagian ini? Yang salah adalah bahwa sering kali kita menganggap remeh persoalan-persoalan kecil. Kita lupa bahwa persoalan-persoalan itu bisa menganggu hubungan kita dengan pasangan, saudara bahkan kepada Tuhan.
Dalam Injil Matius Tuhan Yesus dengan sangat jelas mengajarkan bahwa jika ada sesuatu (persoalan) dengan orang lain, lebih baik diselesaikan terlebih dahulu sebelum datang membawa persembahan kepada Tuhan. Apa yang Tuhan ingin ajarkan? Tuhan memberikan pengajaran kepada kita bahwa:
  1. Jangan meremehkan hal-hal kecil/persoalan-persoalan kecil
  2. Persoalan kecil memiliki potensi rusaknya sebuah hubungan yang baik.
  3. Menyelesaikan persoalan kecil lebih mudah daripada sebuah persoalan besar
  4. Hubungan baik (damai) dengan sesama: isteri, suami, anak, teman, atasa, bawahan lebih diutamakan oleh Tuhan daripada membawa persembahan kepada-Nya.

02 Oktober, 2007

BERBUAT BAIK ITU BUTUH LATIHAN

Waktu menunjukan pukul 17.00 ketika saya sedang duduk-duduk santai di ruang tamu (maklum baru saja pulang dari kantor). Tiba-tiba Handphoneku berbunyi. Saya segera membukanya untuk melihat siapa gerangan yang SMS. Eh ternyata isteriku. Dia memberi pesan,”aku ada di plasa” Yang ada dalam pikiranku saat itu,”wah lagi borong-borong nich” Aku membalas smsnya dengan pesan,”dijemput ya”. Aku sudah bisa menebak jawabannya, ”ya”. Aku bergegas mempersiapkan diri untuk pergi ke garasi untuk menghidupkan mobil. Aku segera melaju menuju plasa Batu. Ketika memasuki area parkir yang ada di depan Plasa Batu, dari kejauhan aku melihat Yonatan melambaikan tangan. Setelah memarkirkan mobil, kami pun bertemu dengan isteri dan anak-anak. Betul saja, mereka membeli beberapa kebutuhan sekolah, susu, es degan, kembang api. Wah seru banget!!! Belum lebaran sudah beli kembang api.
Karena merasa bahwa semua sudah beres, maka kami pun bergegas untuk naik ke dalam mobil. Mobil melaju dengan pelan di tengah keramian orang-orang yang mempersiapkan diri untuk berbuka puasa. Ketika sampai di perempatan jalan (lampu merah), dari kejauhan aku melihat seorang anak muda membawa roti dan minuman dalam sebuah bungkusan kecil. Pikiranku saat itu adalah,”ah paling anak-anak yang sedang menawarkan TAKJIL (makanan ringan pembuka puasa)” Pikiran ku sudah negatif duluan. Makanya ketika mereka mendekati mobil dan menawarkan TAKJIL, maka secara spontan saja saya menjawab,”oh tidak terima kasih” Namun pemuda tersebut nampaknya sedikit memaksa, ”ambil saja pak” Sekali lagi dengan halus saya menolaknya,”tidak, terima kasih” Rupanya si pemuda tahu penyebabnya mengapa saya menolaknya ketika ditawari TAKJIL. Dengan ramah ia kembali menawarkan,”ini gratis lho pak,” Waduh, malunya, mereka mau berbuat baik eh malah di sangka yang bukan-bukan. Dengan agak malu maka saya menerima pemberian itu. Ketika lampu sudah hijau, langsung saja saya tancap gas meninggalkan si pemuda. Saya memiliki pengalaman yang sangat berharga dari peristiwa tersebut. Ternyata saya melupakan satu hal bahwa mereka juga memiliki potensi untuk melakukan apa yang baik bagi sesama. Rupanya mereka dapat melakukan apa yang baik, selama mereka mau melakukannya. Rasanya sangatlah keliru jika kita memvonis bahwa mereka anak anak nakal yang tidak bisa mengalami perubahan hidup ke arah yang baik dan benar.
Apa yang saya pelajari dari peristiwa ini? Saya belajar bahwa setiap orang pada dasar memiliki keinginan untuk melakukan apa yang baik. Orang-orang yang masih memiliki hati nurani, pastilah memiliki keinginan untuk melakukan apa yang baik dalam hidup mereka. Hanya saja, kita terkadang berpikiran yang negatif tentang mereka, bahkan kadang tidak mau memahami mereka dengan tulus hati.
Dalam II Timotius 3 ayat 17, dituliskan:” Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Jadi setiap manusia memiliki potensi yang diberikan oleh Allah untuk melakukan perbuatan baik. Potensi itu akan semakin nampak dalam kehidupan kita jika potensi itu ”diwujud nyatakan” dalam tindakan nyata. (berbuat baik itu juga butuh latihan...seperti yang dilakukan oleh anak muda tadi)



01 Oktober, 2007

MUSA JUGA MANUSIA

Siapa yang tidak kenal dengan Musa. Tentu bagi anda yang sudah menjadi orang Kristen, pastilah paling tidak pernah mendengarkan cerita tentang Musa. Musa adalah tokoh dalam Perjanjian Lama yang amat tersohor. Ia dilahirkan dalam masa-masa sulit. Ia dilahirkan dalam masa-masa genting dimana Firaun tidak menghendaki bayi laki-laki lahir dari antara wanita-wanita Ibrani. Musa termasuk yang sangat beruntung, karena berhasil diselamatkan dari maut. Tentulah kehidupan Musa boleh dikatakan beruntung karena ia selamat dari kematian, dan bisa menikmati kebebasan di istana Firaun. Kebebasan yang ia peroleh rupanya tidak membuat ia melupakan saudara-saudara sesama orang Ibrani. Itulah sebabnya ia selalu berusaha membela sesamanya meskipun dengan cara yang salah. Akibat perbuatannya itu, Musa harus melarikan diri dari istana Firaun. Dalam pelariannya itulah ia berjumpa dengan Allah semesta Alam. Musa mendapatkan tugas untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir. Kuasa Allah bekerja luar biasa melalui tangan Musa. Berbagai mujizat terjadi di tanah Mesir. Melalui Musa, umat Tuhan mendapatkan kebebasan. Melalui tangan Musa, Allah membelah lautan. Melalui tangan Musa, batu karang mengalirkan air di tengah-tengah kegersangan padang gurun.

Jika melihat kuasa Allah yang luar biasa ini, siapa yang menyangka sosok seorang Musa bisa juga putus asa. Dalam Bilangan 11:4-15, Musa mengalami depresi yang teramat berat. Ia berhadapan dengan umat Ibrani yang berdemontrasi meminta daging. Demontrasi mereka dilakukan dengan cara menangis di pintu kemah musa. Hati siapa yang tidak luluh, hati siapa yang tidak hancur mendengarkan tangisan. Tapi hati siapa yang tidak marah, geram memimpin bangsa yang tidak bisa mengucap syukur. Dalam keputusasaannya Musa menyalahlah Tuhan sebagai "Oknum" yang telah memperlakukannya dengan buruk. Bahkan dalam ayat 15, Musa minta dibunuh saja. Musa yang perkasa, Musa yang dipakai oleh Tuhan untuk membelah lautan ternyata seorang manusia biasa. Ia marah, tertekan, bahkan putus asa. Musa merasakan beratnya beban yang harus diembannya. Kalau Musa boleh meminta kepada Tuhan, mungkin lebih baik ia jadi orang biasa saja. Namun Tuhan sudah memilih dia untuk membawa umat-Nya menuju tanah perjanjian.

Apa yang kita pelajari dari kisah ini?



  1. Musa tetaplah sebagai manusia biasa yang dapat juga mengalami keputusasaan


  2. Musa sebagai manusia biasa dipakai oleh Tuhan untuk melakukan perkara-perkara luar biasa


  3. Sungutan bukanlah jalan keluar dalam menghadapi persoalan hidup


  4. Tuhan hadir dalam setiap persoalan hidup hamba-hamba-Nya.


  5. Tuhan berkehendak agar setiap hamba-Nya mengandalkan Dia dalam setiap sisi kehidupan ini.

Biarlah renungan ini memberkati kehidupan saudara. Amin



Life Changing Media: Kepuasan Hidup

Life Changing Media: Kepuasan Hidup

MENGUCAP SYUKUR KEPADA TUHAN

Apa yang ada dalam pikiran anda ketika membaca judul di atas? Ah sudah biasa, pastilah setiap orang harus mengucap syukur kepada Tuhan. Ketika usaha diberkati oleh Tuhan, tentulah ucapan syukur yang dipanjatkan. Ketika anak-anak berhasil dalam studinya, tentulah ucapan syukur yang disampaikan. Pokoknya, apa saja yang merupakan berkat Tuhan, akan selalu ditanggapi dengan ucapan syukur. Namun sadarkah kita bahwa saking biasanya kita berkata,"syukurlah" kita kadang melupakan essensi ucapan syukur itu. Ucapan syukur lebih sering diungkapkan sebagai wujud terima kasih atas segala sesuatu yang kita terima dalam dunia ini. Kita melupakan bahwa dasar pengucapan syukur itu haruslah lahir dari pemahaman bahwa Tuhan sudah melepaskan saya dari cengkraman maut. Kita dipindahkan dari Maut kepada hidup di dalam Kristus. Jika ucapan syukur kita didasari pada hal ini maka, tidak ada alasan untuk tidak mengucap syukur. Jadi ucapan syukur kita akan bermakna lebih dalam dibandingkan jika hanya mengucap syukur diluar hal yang mendasar tadi. Jika kita lepaskan ucapan syukur kita dari hal mendasar ini, maka kadang kala kita mengeluh atas hal-hal kurang baik yang menimpa hidup ini.
Jadi milikilah ucapan syukur yang memberi makna lebih dalam di kehidupan ini. Dan makna itu hanya ada dalam pemahaman yang benar tentang kelepasan yang Kristus sudah kerjakan dalam menyelamatkan kita. Amin.

Salam,

Yohanes

23 Agustus, 2007

Kepuasan Hidup

Kepuasan Hidup
(Pdt. Yohanes Madhu)

Miliarder Gordon Nu dari Hongkong berani membayar mahal sebuah jamur (White truffle) seharga 1,45 Miliar. Jamur ini memiliki kasiat untuk membangkitkan energi sama seperti ginseng.
Mungkin kita hanya bisa membayangkan, jumlah uang miliaran rupiah tersebut. Bali Gordon Nu, jumlah segitu bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kepuasan batin yang ia dapatkan. Memang bagi orang kaya, uang bukanlah masalah. Mereka telah bergeser kebutuhannya dari masalah uang kepada masalah pengakuan dan popularitas. Nah jika kita mempergunakan akal sehat, sedemikian hebatkah kasiat jamur ini sehingga Gordon bersedia untuk mengeluarkan uang miliaran rupiah? Memang bisa saja karena keinginan untuk sembuh dari penyakit seseorang bersedia membeli obat semahal apa pun. Namun Gordon bukanlah orang yang sedang sakit secara fisik. Ia berani membayar dengan jumlah sekian miliar dalam sebuah lelang yang di adakan di Tiongkok, tentu bukanlah demi sebuah jamur, tetapi sebuah kepuasan hidup.
Apa yang menyebabkan seseorang berani mengorbankan apa saja demi sesuatu yang bagi orang lain tidaklah begitu berarti? Jawabannya adalah kepuasan batin. Ada banyak orang-orang seperti Gordon Nu yang rela mengorbankan miliaran rupiah demi sebuah kepuasan batin. Salahkah sikap seperti itu? Jika pertanyaan ini dijawab oleh orang yang tidak ada kepentingannya sama sekali, mungkin akan dianggap pemborosan. Untuk apa uang sebanyak itu di boroskan hanya untuk hal-hal yang dianggap manfaatnya tidaklah terlalu banyak bagi kepentingan orang lain. Yudas mewakili orang yang memiliki sikap ”anti pemborosan” untuk hal-hal yang dianggap tidak ada faedahnya. Ketika maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak yang mahal, Yudas protes dengan berkata, ”Untuk apa pemborosan ini”
Mungkin kita pun kadang-kadang bersikap demikian. Kita tidak setuju terhadap sebuah tindakan yang dilakukan oleh orang lain yang kita anggap berlebihan. Namun kadang kita melupakan suatu sisi dalam kehidupan manusia yaitu mendapatkan kepuasan batin. Ada banyak cara yang dilakukan orang untuk mendapatkan kepuasan hidup. Dan cara yang lazim orang lakukan biasanya berhubungan dengan dua hal : melakukan sesuatu untuk diri sendiri dan sesama. Untuk kepuasan dengan cara memuaskan diri dengan benda-benda dan kesenangan lainnya adalah hal yang lumrah orang lakukan. Namun untuk bagian kedua, dimana seseorang mendapatkan kepuasan ketika melakukan untuk orang lain adalah hal yang berat. Memang akan terasa mudah sekali mengeluarkan jutaan rupiah jika hal itu berhubungan dengan kepuasan diri. Namun bagaimana halnya ketika hal itu dihubungkan dengan melayani orang lain? Mungkin sikap kita mendua, disatu sisi diri saya juga perlu dipuaskan. Namun disisi lainnya, kita memberi sesuatu kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan kepuasan diri di dalamnya. Mungkin kita senang mendapat pujian. Apakah ini salah? Apakah ini berdosa? Tentu tidak. Orang senang di puji adalah hal yang manusiawi. Misalnya: kita memberikan sesuatu kepada anak kita. Lalu anak kita memberikan pujian seperti ini:”wah bapak baik sekali” Mendengar hal ini tentu hati kita menjadi senang. Meskipun bukan itu tujuan kita memberi agar mendapat pujian. Namun menerima pujian karena kita melakukan apa yang baik adalah hal yang wajar.
Kepuasan hidup kita tidak terletak pada apa yang kita terima atas pemberian kita. Kepuasan hidup kita terletak pada bagaimanan orang dipuaskan. Seorang pedagang yang baik akan merasa puas bila pelanggannya puas. Karena itu pemberian yang kita berikan pun seharusnya memuaskan orang lain. Artinya ketika kita memberi, maka kita memberi apa yang baik dan memang berguna bagi orang lain.

20 Agustus, 2007

DIMERDEKAKAN UNTUK MEMERDEKAKAN
(Efesus 1-5)

1. Kemerdekaan adalah rencana Allah sejak kekekalan
Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. (1:4)
Allah menciptakan manusia dalam kemerdekaan untuk menyembah Dia. Dan Allah telah
memilih kita untuk merdeka
Allah telah menentukan kita untuk menjadi anak-anakNya (1:5)
Kemerdekaan yang Allah berikan adalah kemerdekaan dalam relasi yang sangat special yaitu
sebagai anak-anak-Nya. Kemerdekaan hanya dapat dinikmati oleh seorang anak.
2. Manusia membutuhkan kemerdekaan, mengapa?
Manusia mati karena pelanggaran-pelanggarannya (2:1)
Manusia memilih untuk keluar dari kemerdekaan Allah dengan cara menghambakan diri
kepada dunia dan segala bentuk hawa nafsu
Dalam Yohanes 8:34-36 tertulis,” Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.
Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.
Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka."

Manusia diciptakan untuk melakukan pekerjaan yang baik (2:10)
Sejak semula manusia di setting Allah untuk memuliakan nama-Nya. Karena itu ketika
manusia memberi diri diperbudak oleh dunia dengan segala nafsunya, maka saat itu manusia
membutuhkan kemerdekaan.

3. Allah memerdekaan Manusia

Menebus manusia dengan darah Kristus (1:7;2:13)
Untuk meraih sebuah kemerdekaan bukanlah usaha yang mudah. Ada pengorbanan yang
luar biasa. Kristus sudah menebus kita dari budak dosa agar kita merdeka melayani Dia
Memetraikan dengan Roh Kudus (1:13)
Kemerdekaan bukanlah hanya sekedar slogan. Kemerdekaan adalah sebuah status hukum yang pasti. Allah memberikan kepastian hukum melalui metrai Roh Kudus bahwa kita sungguh-sungguh sudah merdeka.

4. Tujuan Allah memerdekaan manusia:

Memulihkan relasi ”Bapa-anak” (1:5)
Menjadi tempat kediaman Allah di dalam Roh (2:22)
Menerima bagian yang telah ditentukan (1:12)
Menjadi puji-pujian bagi-Nya (1:12)

5. Tanggung jawab manusia dalam mengisi kemerdekaan

Menghidupi kehidupan dalam anugerah-Nya (2:8-9)
Orang percaya hendaknya selalu ingat dan sadar bahwa kemerdekaan secara rohani ini adalah karya Allah dalam Kristus. Jadi bukan usaha sendiri.
Dalam Efesus 2:8-9
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
Sebuah pernyataan agung pernah diungkapkan,”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan menghargai jasa-jasa para pahlawannya”

Menghidupi kehidupan yang bertumbuh menuju kepada master plan Allah(2:21)
Semua orang yang sudah dimerdekakan bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Kristus (4:13). Suatu tanaman yang dihimpit oleh berbagai semak duri, mustahil bisa bertumbuh dengan baik. ”kemerdekaan” adalah modal menuju kepada pertumbuhan yang maksimal. Dalam Efesus 4:15, dituliskan,” tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.
Kita bertumbuh di dalam segala hal : dalam pemahaman akan Allah, pengalaman bersama Dia, sikap, dalam cara berpikir. Namun semuanya ke arah yang sama yaitu Kristus.

Menghidupi kehidupan yang telah diciptakan baru oleh Allah dalam kebenaran dan kekudusan (4:24)
Semua orang yang sudah dimerdekakan adalah orang-orang baru. Mereka memiliki hukum baru yaitu : Kebenaran dan kekudusan. Dalam Galatia 5:13, dituliskan.”
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.

Memberi diri untuk memerdekakan orang dari tawanan.(Yesaya 61:1)
"Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara."



AMPUNILAH

Hutang 1,5 triliyun dihapuskan!!!
(Pdt. Yohanes Madhu S.Th)

Kalau mau hidup damai, janganlah berhutang! Berhutang sama artinya kita sedang mengikatkan sebuah tali pada leher. Salah perhitungan akibatnya fatal. Tidak jarang maut menjemput hanya gara-gara hutang. Karena itu dianjurkan jangan berhutang agar hidup menjadi damai.
Dalam era zaman yang kecepatan kemajuannya melebihi kedipan mata, rasanya sangat sedikit orang yang bisa bertahan tanpa berhutang. Jangankan orang miskin, orang kaya pun masih terlilit hutang. Bahkan tidak jarang orang nampaknya kaya namun hutangnya banyak. Makanya jangan heran jika melihat orang yang hari ini membawa sedan BMW, esok harinya sedannya sudah disita Bank hanya gara-gara hutang. Dengan demikian, berhutang sudah menjadi trend zaman. Mungkin berhutang menjadi jalan untuk menyelesaikan sebuah masalah. Meskipun pegadaian ,memiliki moto,”menyelesaikan masalah tanpa masalah” namun akan tetap bermasalah jika hutangnya tak bisa dilunasi.
Rupanya gaya berhutang sudah menjadi gaya hidup manusia dari zaman ke zaman. Dalam zaman Tuhan Yesus pun orang sudah gemar berhutang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengambil perumpamaan kerajaan Allah sama halnya dengan sang raja yang mengadakan perhitungan dengan orang-orang yang berhutang kepadanya. Kisah dalam Matius 18, sungguh menarik untuk diperhatikan. Dalam perumpamaan itu di sebutkan ada seorang yang berhutang 10.000 talenta. Wah berapa ya 10.000 talenta itu. Apakah 10.000 ribu rupiah? Tidak. 10.000 talenta sama dengan 10.000 X 6000 dinar. Sebab 1 talenta = 6000 dinar. Sedangan 1 dinar = upah satu hari kerja. Sekarang coba hitung! Seandainya upah rata-rata pekerja harian saat ini 25 ribu rupiah, maka 10.000 talenta = 10.000 X 6.000 X 25.000 = 1.500.000.000.000 (1,5 triliyun). Wah banyak ya. Itu kalau baru dihitung rata-rata upah harian di Indonesia: 25.000 rupiah. Kita tidak bisa bayangkan seseorang punya hutang 1,5 triliyun. Hanya orang-orang yang kaya saja yang bisa mempunyai hutang sebanyak itu. Namun perlu dicatat bahwa, dalam perumpamaan itu dijelaskan bahwa hutang 1,5 triliyun itu dihapuskan oleh sang raja. Mungkin ini yang disebut orang raja yang tidak waras. Kok berani menghapuskan hutang sebanyak itu. Belum pernah ada cerita hutang 1,5 triliyun dihapuskan. Maka kalau anda yang jadi orang yang dihapuskan hutangnya pasti anda akan melompat kegirangan.
Namun terjadi ironi dalam perumpamaan ini. Orang yang tadinya berhutang 1,5 trililyun mendapatkan penghapusan hutang. Justru temannya yang hanya berhutang 2,5 juta dibawa ke penjara. Mengapa bisa terjadi hal yang demikian? Alasannya sudah jelas bahwa belum tentu orang yang mendapatkan kemurahan hati akan berbuat yang sama juga terhadap orang lain. Apakah orang ini salah jika ia harus menagih hutangnya? Secara hukum tidak salah. Ia telah bertindak benar secara hukum. Ia memiliki hak untuk menagih hutangnya bahkan melaporkan orang yang tidak membayar ke pihak berwajib. Namun ada sisi lain dalam perumpamaan ini. Kasih menutupi banyak sekali kesalahan. Sang Raja sudah menunjukan kasih yang sangat besar. Kasih tidak bicara masalah hukum. Kasih berada di atas hukum. Kasih memampukan seeorang berbuat apa yang tidak diatur dalam hukum. Hukum dunia: hutang harus dibayar. Hukum kasih: hutangmu dihapuskan. Siapakah yang mampu melakukan ini? Hanya orang yang memiliki kasih. Namun bukan berarti jika seseorang yang menagih hutangnya ia telah menjalani hidup tanpa kasih. Dalam perumpamaan ini bukan ada maksud tidak membayar hutang. Namun meminta tempo untuk sedikit bernafas agar ada waktu yang longgar bagi pembayaran hutang tersebut.
Allah telah mengampuni kita dengan pengampunan yang besar. Kita seharusnya melihat ini menjadi dasar bagi kita untuk mengampuni orang lain. Kita bukanlah sedang berjalan dalam hukum taurat:’mata ganti mata’ Kita sedang berada dalam kasih karunia. Pengampunan yang diberikan merupakan wujud kasih kita kepada Tuhan yang telah menghapus seluruh hutang-hutang dosa kita. Ingat ini:”Hutangmu yang 1,5 triliyun sudah dihapuskan oleh Tuhan”, maka jika ada orang yang berbuat salah, lapangkan dada untuk mengampuninya.