15 November, 2007

Miskin Materi+Miskin batiniah=sia-sia



Miskin selalu diidentikan dengan kekurangan makanan, sandang dan papan. Bagi orang miskin, mendapatkan beras untuk hidup satu hari saja sudah sulitnya bukan kepalang. Itulah sebabnya ada istilah raskin alias beras untuk orang miskin. Pemerintah memberikan bantuan beras kepada penduduk yang dikategorikan miskin. Tentunya bantuan beras ini akan sangat membantu, Namun sifatnya sementara saja. Mengapa? Karena orang miskin akan selalu ada di sekitar kita.
Apa yang kita bayangkan tentang orang miskin? Rumahnya sangat sederhana. Bahkan ala-kadarnya. Bukan saja ala-kadarnya, mungkin tidak punya rumah. Misalnya harus tidur dibawah kolong jembatan, beralaskan kardus bekas, dll. Pakaiannya sederhana, lusuh, penuh noda. Rambut tidak terawat dengan baik. Memakai sandal jepit yang lusuh. Bagi yang wanita, mungkin wajah juga tidak di make up seperti kebanyakan wanita lainnya. Orang miskin biasanya tidak sempat ngurus diri. Soalnya sibuk mencari beras sekilo dari hari ke hari.. Tapi orang kaya, sangatlah berbeda. Ada waktu, ada uang untuk urus diri. Rambut yang lurus di keriting, yang keriting dilurusin. Hidung yang pesek dimancungin..pokoknya semua serba terawat. Tidak demikian dengan orang miskin.
Coba anda masuk ke dalam rumah orang miskin. perhatikan rumahnya yang sederhana, berdindingkan gedek, papan atau yang beruntung sudah pakai batu bata. Ruang tamu (kalau ada) diisi dengan beberapa kursi kayu yang sangat sederhana. Syukur masih ada kursi, biasanya hanya beralaskan tikar. Lantainya pun terbuat dari tanah...atau yang agak baik sudah disemen. kordennya agak kusam dan lusuh. Terus mari masuk ke ruang tidurnya. Dipan kayu sederhana, diapit oleh berbagai barang, ada lemari plastik yang sudah reot, ditambal diberbagai bagian. Pokoknya campur aduk. Mengapa? Karena kamarnya cuman itu. Nah mari masuk lagi ke dapurnya. Ada kompor tua. Tempat gelas terbuat dari bambu...ada gentong tempat air yang terbuat dari tanah liat...dan tidak lupa ada tungku yang penuh dengan abu. Kalau mau tengok ke samping rumah, di sana bersender sepeda tua yang kusam. Atau yang sudah agak mapan ada sepeda motor tahun lawas. Ya itu kira-kira keadaan orang miskin yang masih beruntung.

Tapi beda donk dengan orang kaya. Coba perhatikan rumahnya. Megah dengan pagar tembok sekelilingnya. Ada taman dengan aneka bunga. Di atap rumah berdiri dengan kokoh benda bundar yang sering di sebut parabola. Terus ruang tamunya berjejer Sofa dengan warna yang sesuai dengan warna dinding ruang tamu. Ada meja tamu dengan bunga diatasnya. Di pojokan ruangan berdiri dengan megah bunga gelombang cinta, jemani, dll. Bunga ini digandrungi oleh orang berduit. Maklum untuk menaikan gengsi. Masuk ruang tidur, sudah menunggu dengan anggun tempat tidur yang lebar dan bersih. Ada penataan lampu yang serasi. Nampak bersih, harum dan luas plus suasana segar karena ber-AC. Coba tengok dapurnya. Berbagai peralatan modern menghiasi dapurnya. Ada lemari dengan berbagai model gelas, juicer, kulkas, kitchen set, dll. Pokoknya mantap. Belum lagi meja makan yang serasi dengan kursinya. Buah beraneka jenis tersaji di atasnya. Beda khan dengan orang miskin. Jangankan beli juicer, beli minyak tanah saja masih ngutang di warung. Jadi rumah orang kaya selalu bersih, karena ada pembantu yang selalu standby bekerja untuk mereka. Tak ketinggalan mobil mewah lengkap dengan sopir pribadinya.
Nah itulah bayangan kita tentang orang miskin, dibandingkan dengan orang yang kaya. Kemiskinan selalu kita hubungkan dari sisi materi belaka. Namun pernahkah kita sadari bahwa miskin bukan saja masalah lahiriah? Miskin juga berbicara masalah batiniah/rohani. Orang yang memandang rendah orang lain, iri, mau menang sendiri, pendendam, kikir, tamak, menindas orang lain pada hakekatnya adalah miskin secara rohani. Untuk mengubahnya tidak bisa seperti membeli sofa, televisi, asal ada uang pasti dapat barang. Kemiskinan rohani hanya dapat diperkaya oleh sang Pencipta. Tapi ada syaratnya. Apa itu? Perlu KTP, KK, Slip Gaji? Tidak. Yang dibutuhkan adalah menyadari diri sebagai orang yang miskin rohani di hadapan Allah. Menyadari bahwa kita membutuhkan Allah untuk memperkaya rohani kita. Itulah sebabnya, Yesus bersabda :”berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga.”
Jadi kalau orang kaya tapi miskin rohani masih beruntung di dunia. Paling tidak masih menikmati kesenangan dunia ini. Tapi bagaimana kalau sudah miskin materi plus miskin rohani? Wah ini yang susah! Orang bilang,”sudah miskin sombong lagi”
Terus anda pilih yang mana? Kalau boleh saya tebak anda akan pilih: kaya di dunia, tapi kaya juga secara rohani. Wah pasti enak donk. Tapi ga segampang lho, biasanya kalau sudah kaya jasmani...yang rohani diabaikan. Tapi yang terpenting sekarang bukan masalah kaya atau miskin. Hati yang terbuka untuk mengakui di hadapan Tuhan sebagai orang berdosa, memiliki karakter jahat, rusak, bobrok. Kemudian datang pada-Nya untuk dipulihkan. Maka anda akan menjadi kaya di dalam Dia. Mungkin secara materi anda berkekurangan, namun hati anda melimpah dengan kekayaan rohani. Jadi jangan sampai, sudah miskin materi namun secara rohani kita juga miskin. (YM)

Tidak ada komentar: