Langkahnya gamang, entah kemana kan melangkah. Suaranya melemah seakan tak terdengar. Orang-orang hanya mengenalnya dengan sebutan ”dulunya” Dulunya ia adalah tokoh yang paling disegani. Dulunya ucapannya adalah hukum. Dulunya setiap kepala menunduk memberi hormat. Hampir semua keinginannya terwujud. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang setia mengemban perintahnya. Tapi itu dulu...masa itu telah berlalu. Tak ada ada lagi penghormatan. Bahkan di jalan pun ia tidak dikenal. Keperkasaannya, kejayaannya telah berakhir. Yang ada hanya kenangan...dulu...dulu... Tak ada lagi penghormatan...penghormatan dunia ini fana...berlalu bak debu dihembas sang bayu.
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda membayar orang sehingga mereka menghormati anda?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda memiliki pendukung yang kuat sehingga dengan terpaksa orang memberikan hormat?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena balas budi atas ”kebaikan” yang anda semaikan?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda sudah banyak berjasa bagi banyak orang?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda telah mengabdi kepada kepentingan orang banyak dan anda layak mendapatkan penghormatan?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena antara kata dan tindakan anda selaras?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena teguran anda dilandasi oleh kasih yang murni?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda juga senang menghormati orang lain?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda membayar orang sehingga mereka menghormati anda?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda memiliki pendukung yang kuat sehingga dengan terpaksa orang memberikan hormat?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena balas budi atas ”kebaikan” yang anda semaikan?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda sudah banyak berjasa bagi banyak orang?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda telah mengabdi kepada kepentingan orang banyak dan anda layak mendapatkan penghormatan?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena antara kata dan tindakan anda selaras?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena teguran anda dilandasi oleh kasih yang murni?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda juga senang menghormati orang lain?
Bagaimana seandainya orang tidak lagi menghormati anda? Apakah anda kecewa, marah, dendam, frustasi, putus asa? Jika ia, maka anda sedang tidak menghormati orang lain. Anda harus belajar untuk menghormati sikap orang yang tidak mau hormat pada anda. Anda terhormat bukan karena orang menghormati anda, tetapi karena memang anda terhormat, berharga di hadapan Sang Bapa (kecuali jika anda tidak mau menerima kenyataan ini)
Di dalam sikap hormat terkandung nilai yang teramat dalam. Menghormati orang lain bukan saja karena jasanya, pengabdiannya, kasihnya, kebaikannya, dan lain-lain. Menghormati orang lain bukan karena....Menghormati orang lain adalah sikap sadar akan kesetaraan dengan orang lain di hadapan sang Pencipta. Menghormati orang lain adalah kesadaran akan kefanaan. Menghormati orang lain dibangun di atas dasar ”masing-masing orang akan memberi pertanggungjawaban di hadapan sang Khalik. Penghormatan yang sejati adalah penghormatan yang akan anda terima kelak dari sang Alfa dan Omega,”: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”
Di dalam sikap hormat terkandung nilai yang teramat dalam. Menghormati orang lain bukan saja karena jasanya, pengabdiannya, kasihnya, kebaikannya, dan lain-lain. Menghormati orang lain bukan karena....Menghormati orang lain adalah sikap sadar akan kesetaraan dengan orang lain di hadapan sang Pencipta. Menghormati orang lain adalah kesadaran akan kefanaan. Menghormati orang lain dibangun di atas dasar ”masing-masing orang akan memberi pertanggungjawaban di hadapan sang Khalik. Penghormatan yang sejati adalah penghormatan yang akan anda terima kelak dari sang Alfa dan Omega,”: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar