20 November, 2007

Lho Begitu Saja Koq Marah

Mengapa dedaunan menari-nari? Apakah karena ia sedang senang atau sedang mendapatkan kesejukan sang hujan? Mengapa burung bernyanyi riang? Apakah karena ia telah mendapatkan makanan? Mengapa? Tanya saja pada mereka, mengapa mereka demikian. Tapi tunggu dulu, jangan bertanya pada mereka, nanti disangka tidak waras alias miring. Dedaunan khan tidak bisa bicara, burung pun demikian. Sekalipun pakai pengeras suara 100 ribu watt, ya tetap saja tidak ada jawaban. Dedaunan tetap akan melambai-lambai ketika dibelai sang angin. Burung pun akan tetap berkicau menyambut datangnya sang pagi. Bahkan sang surya pun tetap bersinar sekalipun dibendung oleh sang awan. Mungkin mereka tidak punya alasan untuk tidak mengekpresikan jati dirinya. Rasanya koq aneh ya jika sang surya tersinggung ketika melihat manusia tidak berterima kasih atas sinarnya. Sang surya tidak peduli apakah manusia marah karena panasnya atau berterima kasih atas kehangatannya. Yang ia lakukan hanyalah bersinar. Melalui sinarnya alam mendapatkan kehidupan. Ia tidak terpengaruh oleh perubahan alam. Bahkan ia tidak ambil pusing dengan sifat manusia yang tidak peduli terhadap kehadirannya.
Manusia merosot kesadarannya tentang kehadiran mahluk lain di sekitarnya. Manusia hanya memikirkan diri dan masalahnya. Manusia hidup dalam keruwetan pikiran yang tiada akan pernah berakhir. Mahluk di sekitarnya kadang dianggap saingan bagi kelangsungan hidupnya. Manusia geram, marah, jengkel ketika keinginan hatinya tidak terpenuhi.
Sekarang tenangkan diri anda!!! Pandanglah sekelilingmu...apa yang anda lihat? Apa yang anda dengarkan? Apa yang dapat anda rasakan? Pernahkah anda mensyukuri kehadiran mereka? Atau anda merasa bahwa kehadiran mereka tidaklah begitu penting bagi anda.
Ketika melihat anak-anak bermain, berlari ke sana kemari, bahkan berteriak-teriak, apakah anda merasa terganggu? Ketika hujan turun dengan derasnya, bahkan pakaian anda basah olehnya, apakah anda marah? Atau sebaliknya terik matahari telah membuat kulit anda kusam dan bertambah gelap, apakah anda bersungut? Jika anda menjawab ia, maka anda sedang hidup di alam lain. Anda tidak hidup di dunia yang nyata dan serba serbi ini. Anda tidak layak tinggal di dunia ini, karena anda tidak mampu menerima kenyataan bahwa sesungguhnya anda sedang hidup di dunia fana yang serba serbi ini.
Terus jika demikian, apa yang harus saya lakukan jika saya masih ada di dunia fana yang serba-serbi ini? Terimalah semuanya dengan penuh ucapan syukur. Menjadi marah, bersungut, jengkel, sakit hati akan mempercepat anda meninggalkan dunia ini. Bukankah Yesus mengutus kita masuk dunia ini agar kita bisa menjadi terang dan garam bagi dunia ini? Kita diutus bukan untuk merusak, menghancurkan hidup orang lain. Namun sebaliknya kita diutus untuk menjadi terang bagi yang terhilang dan menjadi garam bagi yang mengalami kehampaan hidup. Tidak penting bagi anda berapa lama anda hidupdalam dunia ini. Yang lebih penting adalah apa yang anda lakukan selama anda hidup di dunia ini. (YM)

15 November, 2007

Miskin Materi+Miskin batiniah=sia-sia



Miskin selalu diidentikan dengan kekurangan makanan, sandang dan papan. Bagi orang miskin, mendapatkan beras untuk hidup satu hari saja sudah sulitnya bukan kepalang. Itulah sebabnya ada istilah raskin alias beras untuk orang miskin. Pemerintah memberikan bantuan beras kepada penduduk yang dikategorikan miskin. Tentunya bantuan beras ini akan sangat membantu, Namun sifatnya sementara saja. Mengapa? Karena orang miskin akan selalu ada di sekitar kita.
Apa yang kita bayangkan tentang orang miskin? Rumahnya sangat sederhana. Bahkan ala-kadarnya. Bukan saja ala-kadarnya, mungkin tidak punya rumah. Misalnya harus tidur dibawah kolong jembatan, beralaskan kardus bekas, dll. Pakaiannya sederhana, lusuh, penuh noda. Rambut tidak terawat dengan baik. Memakai sandal jepit yang lusuh. Bagi yang wanita, mungkin wajah juga tidak di make up seperti kebanyakan wanita lainnya. Orang miskin biasanya tidak sempat ngurus diri. Soalnya sibuk mencari beras sekilo dari hari ke hari.. Tapi orang kaya, sangatlah berbeda. Ada waktu, ada uang untuk urus diri. Rambut yang lurus di keriting, yang keriting dilurusin. Hidung yang pesek dimancungin..pokoknya semua serba terawat. Tidak demikian dengan orang miskin.
Coba anda masuk ke dalam rumah orang miskin. perhatikan rumahnya yang sederhana, berdindingkan gedek, papan atau yang beruntung sudah pakai batu bata. Ruang tamu (kalau ada) diisi dengan beberapa kursi kayu yang sangat sederhana. Syukur masih ada kursi, biasanya hanya beralaskan tikar. Lantainya pun terbuat dari tanah...atau yang agak baik sudah disemen. kordennya agak kusam dan lusuh. Terus mari masuk ke ruang tidurnya. Dipan kayu sederhana, diapit oleh berbagai barang, ada lemari plastik yang sudah reot, ditambal diberbagai bagian. Pokoknya campur aduk. Mengapa? Karena kamarnya cuman itu. Nah mari masuk lagi ke dapurnya. Ada kompor tua. Tempat gelas terbuat dari bambu...ada gentong tempat air yang terbuat dari tanah liat...dan tidak lupa ada tungku yang penuh dengan abu. Kalau mau tengok ke samping rumah, di sana bersender sepeda tua yang kusam. Atau yang sudah agak mapan ada sepeda motor tahun lawas. Ya itu kira-kira keadaan orang miskin yang masih beruntung.

Tapi beda donk dengan orang kaya. Coba perhatikan rumahnya. Megah dengan pagar tembok sekelilingnya. Ada taman dengan aneka bunga. Di atap rumah berdiri dengan kokoh benda bundar yang sering di sebut parabola. Terus ruang tamunya berjejer Sofa dengan warna yang sesuai dengan warna dinding ruang tamu. Ada meja tamu dengan bunga diatasnya. Di pojokan ruangan berdiri dengan megah bunga gelombang cinta, jemani, dll. Bunga ini digandrungi oleh orang berduit. Maklum untuk menaikan gengsi. Masuk ruang tidur, sudah menunggu dengan anggun tempat tidur yang lebar dan bersih. Ada penataan lampu yang serasi. Nampak bersih, harum dan luas plus suasana segar karena ber-AC. Coba tengok dapurnya. Berbagai peralatan modern menghiasi dapurnya. Ada lemari dengan berbagai model gelas, juicer, kulkas, kitchen set, dll. Pokoknya mantap. Belum lagi meja makan yang serasi dengan kursinya. Buah beraneka jenis tersaji di atasnya. Beda khan dengan orang miskin. Jangankan beli juicer, beli minyak tanah saja masih ngutang di warung. Jadi rumah orang kaya selalu bersih, karena ada pembantu yang selalu standby bekerja untuk mereka. Tak ketinggalan mobil mewah lengkap dengan sopir pribadinya.
Nah itulah bayangan kita tentang orang miskin, dibandingkan dengan orang yang kaya. Kemiskinan selalu kita hubungkan dari sisi materi belaka. Namun pernahkah kita sadari bahwa miskin bukan saja masalah lahiriah? Miskin juga berbicara masalah batiniah/rohani. Orang yang memandang rendah orang lain, iri, mau menang sendiri, pendendam, kikir, tamak, menindas orang lain pada hakekatnya adalah miskin secara rohani. Untuk mengubahnya tidak bisa seperti membeli sofa, televisi, asal ada uang pasti dapat barang. Kemiskinan rohani hanya dapat diperkaya oleh sang Pencipta. Tapi ada syaratnya. Apa itu? Perlu KTP, KK, Slip Gaji? Tidak. Yang dibutuhkan adalah menyadari diri sebagai orang yang miskin rohani di hadapan Allah. Menyadari bahwa kita membutuhkan Allah untuk memperkaya rohani kita. Itulah sebabnya, Yesus bersabda :”berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga.”
Jadi kalau orang kaya tapi miskin rohani masih beruntung di dunia. Paling tidak masih menikmati kesenangan dunia ini. Tapi bagaimana kalau sudah miskin materi plus miskin rohani? Wah ini yang susah! Orang bilang,”sudah miskin sombong lagi”
Terus anda pilih yang mana? Kalau boleh saya tebak anda akan pilih: kaya di dunia, tapi kaya juga secara rohani. Wah pasti enak donk. Tapi ga segampang lho, biasanya kalau sudah kaya jasmani...yang rohani diabaikan. Tapi yang terpenting sekarang bukan masalah kaya atau miskin. Hati yang terbuka untuk mengakui di hadapan Tuhan sebagai orang berdosa, memiliki karakter jahat, rusak, bobrok. Kemudian datang pada-Nya untuk dipulihkan. Maka anda akan menjadi kaya di dalam Dia. Mungkin secara materi anda berkekurangan, namun hati anda melimpah dengan kekayaan rohani. Jadi jangan sampai, sudah miskin materi namun secara rohani kita juga miskin. (YM)

14 November, 2007

Penghormatan Yang Sejati...

Langkahnya gamang, entah kemana kan melangkah. Suaranya melemah seakan tak terdengar. Orang-orang hanya mengenalnya dengan sebutan ”dulunya” Dulunya ia adalah tokoh yang paling disegani. Dulunya ucapannya adalah hukum. Dulunya setiap kepala menunduk memberi hormat. Hampir semua keinginannya terwujud. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang setia mengemban perintahnya. Tapi itu dulu...masa itu telah berlalu. Tak ada ada lagi penghormatan. Bahkan di jalan pun ia tidak dikenal. Keperkasaannya, kejayaannya telah berakhir. Yang ada hanya kenangan...dulu...dulu... Tak ada lagi penghormatan...penghormatan dunia ini fana...berlalu bak debu dihembas sang bayu.

Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda membayar orang sehingga mereka menghormati anda?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda memiliki pendukung yang kuat sehingga dengan terpaksa orang memberikan hormat?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena balas budi atas ”kebaikan” yang anda semaikan?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda sudah banyak berjasa bagi banyak orang?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda telah mengabdi kepada kepentingan orang banyak dan anda layak mendapatkan penghormatan?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena antara kata dan tindakan anda selaras?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena teguran anda dilandasi oleh kasih yang murni?
Mengapa orang menghormati anda? Apakah karena anda juga senang menghormati orang lain?
Bagaimana seandainya orang tidak lagi menghormati anda? Apakah anda kecewa, marah, dendam, frustasi, putus asa? Jika ia, maka anda sedang tidak menghormati orang lain. Anda harus belajar untuk menghormati sikap orang yang tidak mau hormat pada anda. Anda terhormat bukan karena orang menghormati anda, tetapi karena memang anda terhormat, berharga di hadapan Sang Bapa (kecuali jika anda tidak mau menerima kenyataan ini)

Di dalam sikap hormat terkandung nilai yang teramat dalam. Menghormati orang lain bukan saja karena jasanya, pengabdiannya, kasihnya, kebaikannya, dan lain-lain. Menghormati orang lain bukan karena....Menghormati orang lain adalah sikap sadar akan kesetaraan dengan orang lain di hadapan sang Pencipta. Menghormati orang lain adalah kesadaran akan kefanaan. Menghormati orang lain dibangun di atas dasar ”masing-masing orang akan memberi pertanggungjawaban di hadapan sang Khalik. Penghormatan yang sejati adalah penghormatan yang akan anda terima kelak dari sang Alfa dan Omega,”: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

01 November, 2007

Takut=Pemborosan Energi

Takut....
Ketika sang surya mulai redup dan perlahan menuju peraduannya. Suara mahluk malam pun mulai menggema. Angin dingin menusuk tulang menebus tajam bak pedang. Kala itu, lampu-lampu temaram berkedip-kedip menghiasi rumah-rumah sunyi. Tak ada suara terdengar, sunyi sepi bak padang belentara. bayang-bayang mahluk halus menggelayut dalam benak setiap insan. Malam adalah dunia mereka, malam adalah kekuatan mereka. Jiwa insan mendesah resah. Entah ada apa dengan mereka...takut dan kengerian melanda alam.
Apa itu takut?
Takut bisa diartikan sebagai kondisi jiwa yang lemah ketika adanya kekuatan besar datang. Takut adalah ketidakmampuan hati melihat kenyataan pahit. Takut beriring dengan pengurasan energi. Takut adalah energi negatif jiwa yang menggerus potensi, kreativitas, dan kejayaan.
Takut penghambat kreativitas. hanya keluhan yang terdengar, hanya sungutan yang terekam dari hati yang takut dan getir hadapi kesulitan. Ide-ide cemerlang seakan tergilas dan kandas. Kekuatan jiwa terpatri dalam penjara jiwa lara. Yang nampak hanya desah nafas tanpa daya. Takut telah menyumbat nadi-nadi kreativitas, menggelinding dalam jurang kekacauan.
Karena takut, perut merintih. Orang takut berujar:"ada singa di luar sana" Orang takut melihat terang sebagai kegelapan. Orang takut adalah orang yang kalah sebelum berperang.
Ketakutan merongrong pondasi-pondasi iman. Ketakutan melumatkan pengharapan. Ketakutan mencengkram opitimisme jiwa. Ketakutan palang besi kemajuan.
Anda takut menghadapi hidup ini? Jika ya, maka anda sedang mengerami telur-telur keputus asaan, pesimisme. Ketika telur-telur itu menetas, ia akan menjadi monster-monster mengerikan dalam hidup anda. Mungkin anda akan berkata,"aku ini hanya seperti belalang saja jika dibandingkan dengan mereka yang seperti raksasa."
Tahukah anda bahwa anda tidak sendirian? Yang menyertai anda lebih besar dari semua monster-monster keputusasaan, pesimisme, ketidak berdayaan. Anda tidak berjalan sendirian. Dia bersama dengan anda. Ia bersabda,:
"Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."