31 Oktober, 2007

MOTIVUS GLORIA

Kita kadang mendengar ungkapan seperti ini:”wah, motivasinya ga beres” Ungkapan itu menyiratkan penilaian yang negative atas tindakan seseorang. Ketika seseorang dengan gencar mencalonkan diri sebagai ”pejabat”, berbagai tanggapan akan bermunculan. Tanggapan itu didasarkan kepada gelagat yang ”kurang baik”. Misal: seorang calon dengan berbagai cara berusaha agar terpilih menjadi seorang ”pejabat” Nah cara-cara yang tidak lazim itulah yang kadang ditanggapi sebagai adanya motivasi yang terselubung dan dianggap sebagai motivasi yang negatif.
Apa sebenarnya motivasi itu? Apakah motivasi seseorang bisa diketahui oleh orang lain? Kadang kita terlalu cepat menghakimi seseorang hanya karena melihat tindakannya yang agak ”aneh”. Sedangkan kita sendiri sebenarnya tidak memahami motivasi orang hanya karena melihat tingkah lakunya. Motivasi adalah bagian yang tersembunyi dalam diri seseorang.
Motivasi adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang melakukan sebuah tindakan. Motivasi berasal dari bahasa latin : MOTIVUS yang memiliki arti : alasan-alasan untuk bergerak.
Setiap gerakan atau tindakan senantiasa didasarkan kepada alasan-alasan mendasar dalam setiap diri individu. Kita kadang mengamati orang-orang di sekitar kita dengan berbagai aktivitasnya. Ketika kita melihat seseorang yang sangat rajin bekerja, maka kita berusaha menebak motivasi orang itu dengan berasumsi bahwa orang itu sedang mengejar suatu tujuan. Motivasi dasar orang bekerja biasanya karena alasan ekonomi. Karena alasan inilah maka orang bersedia untuk mengorbankan segalanya demi pemenuhan kebutuhan fisik. Namun ada alasan lainnya seperti alasan sosial. Orang tidak semata bekerja karena alasan ekonomi. Ada orang yang sangat rajin bekerja karena alasan pemenuhan kebutuhan akan penghargaan. Orang akan sangat puas bila dihargai, dihormati. Orang-orang semacam ini tidak lagi menempatkan uang sebagai motivasi dalam bekerja, namun penghargaan.
Apapun motivasi seseorang dalam bertindak, akan nampak dari bagaimana cara ia melakukan tindakan itu. Sebab motivasi yang benar, luhur akan senantiasa diikuti oleh sikap yang benar dan luhur pula. Mengapa ada orang yang menjadi kecewa ketika pekerjaannya kurang dihargai? Alasannya karena ia memang mendambakan penghargaan itu. Apakah itu salah? Tentu tidak. Namun harus diingat bahwa kita sedang berada dalam kumpulan orang dengan berbagai motivasi pula. Motivasi-motivasi karena alasan ekonomi, penghargaan, kekuasaan sifatnya sangat sementara. Kepuasan yang diperoleh sangatlah labil. Namun motivasi yang dilandasi oleh tujuan yang jangka panjang (Kekal), biasanya mendorong seseorang melakukan yang terbaik. Bekerja bukan lagi karena alasan ekonomi, penghargaan, kekuasaan. Bekerja sudah menjadi aktualisasi diri sebagai ungkapan syukur kita kepada Tuhan. Dengan demikian, bekerja bukan lagi menjadi sebuah beban. Bekerja akan menjadi suatu aktivitas dinamis dengan tujuan yang jauh lebih mulia. Bekerja bukan lagi hanya sekadar untuk memuaskan ego, tetapi lebih kepada melayani orang lain.
Apa motivasi anda dalam melakukan sebuah pekerjaan? Yesus menunjukan kepada anda sebuah motivasi yang sangat mulia dan kekal. Yesus berkata,”
Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."

30 Oktober, 2007

Kristus>Diri=Rendah Hati

Manusia berbeda dengan binatang. Kalau binatang hidup berdasarkan insting saja. Kalau mereka membuat sarang itu karena insting saja. Kita belum pernah melihat sarang ular yang di dalamnya ada kulkas, kipas angin, meja makan, dll. Paling-paling hanya lubang pengab. Itu pun bukan si ular yang membuatnya. Ia hanya masuk saja, ketika melihat lubang. Kenapa binatang sudah puas dengan apa yang ia peroleh? Kalau sudah kenyang ia sudah. Memang kehidupan binatang sangatlah simpel. Hidup, mencari makan, menemukan pasangan, berkembang biak, mati...terus demikian. Rasanya belum pernah kita lihat seekor burung melamun di atas pohon memikirkan nasibnya. Yang burung lakukan adalah terbang dari pohon ke pohon yang lainnya untuk mencari makan baik bagi dirinya maupun bagi anak-anaknya. Ketika anak-anaknya sudah besar, mereka sudah bisa mencari makan sendiri. Mengamati kehidupan binatang, ternyata cukup simpel.
Bagaimana dengan manusia? Sebenarnya simpel juga. Namun dalam kenyataannya menjadi sangat rumit oleh karena manusia itu sendiri. Manusia memiliki pikiran, perasaan. Daya kreativitas manusia, menjadikan manusia sebagai mahluk yang berbeda dengan binatang. Kalau manusia membangun rumah, bukan sekedar untuk tidur. Manusia membangun rumah dengan berbagai pertimbangan seperti kenyamanan, keamanan, keindahan, gengsi, dll.
Manusia tidak mengenal yang namanya cukup. Memang kadang-kadang karena kondisilah yang membuat manusia ”mencukupkan” diri. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, manusia selalu ingin dihargai dan di ”orangkan” Karena itulah jangan heran jika manusia berusaha untuk merengkuh dunia dalam genggamannya. Seolah-olah dengan memegang dunia ini, manusia merasa bahwa ia sudah mendapatkan apa yang diinginkan.
Tentunya perasaan ini juga yang menguasai hidup Saulus. Sebelum bertemu dengan Kristus, ia seolah-olah telah menjadi manusia sempurna. Kedudukan, pendidikan, kekayaan, telah ada dalam genggamannya. Saulus menilai orang lain dari kacamata-nya sendiri. Namun sesudah bertemu dengan Kristus, sebuah perubahan luar biasa terjadi dalam hidup-Nya. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, ia menuliskan,” Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus”
Dalam bagian yang lain, Yesus bersabda,”
"Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
Kristus adalah puncak kepuasan hidup manusia. Kristus adalah pemenuhan semua pencarian manusia tentang kebenaran, harga diri, kemuliaan, kekayaan, kepuasan hidup,dll. Berjumpa dengan Kristus akan membuat manusia itu menjadi puas. Apa lagi yang harus dibanggakan? Gelar, Kedudukan, Kekuasaan, Kekayaan, Kehormatan? Masihkan kita sebagai anak-anak-Nya layak memegahkan diri? Tidak! Karena kemegahan kita hanyalah Kristus. Jadi kalau kita membuat rumus : Kristus > Diri = Rendah Hati (artinya: Kalau saya menempatkan Kristus lebih besar/menjadi pusat dalam hidup saya, maka saya akan menjadi rendah hati)

16 Oktober, 2007

Latihan Mengatasi Kekuatiran

Ketika saya mengantar isteri ke Terminal Arjosari, Malang, saya merasa sangat tertekan dengan padatnya arus kendaraan. Jalan yang biasanya normal kini menjadi ab-normal. Iringan kendaraan melaju sangat pelan, bahkan cenderung mandeg. Berbagai jenis kendaraan dan dari berbagai daerah dapat kita jumpai. Kemacetan ini sempat membuat saya kuatir, karena pukul 20.00 bis menuju Magelang sudah berangkat. Ketika saya melirik ke arah jam, ternyata sudah pukul 18:44. Posisi saya saat ini masih sekitar Beji, Batu. Dapat dibayangkan betapa kuatirnya kami. Pada saat bersamaan, ternyata saya lupa membawa HP. Padahal hanyalah nomor Hp saya yang dapat dihubungi oleh Crew Bis jika terjadi sesuatu. Rasanya yang ada dalam pikiran takut melulu. Takut terlambat, takut ditinggal bis, takut kalau tiketnya hangus, dll. Semua perasaan negatif bercampur menjadi satu dalam pikiran saya. Sekali-kali saya mengeluh kepada isteri,"aduh gimana ini...kapan sampainya kalau macet seperti ini" Eh, isteri saya dengan entengnya menjawab,"tenang saja" Walah, orang lagi panik, malah dijawab tenang saja. Tapi saya juga menjadi agak tenang setelah mendengar jawaban isteri saya. Memang saya kuatir juga seandainya tidak bisa berangkat hari itu. Untuk mendapatkan tiket bis saja, kami harus pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Saya tidak bisa bayangkan seandainya ditinggal bis. Pastilah semua persiapan menjadi berantakan. Sekalipun isteri saya menjawab,"tenang saja" namun bagi saya sendiri perasaan kuatir masih terus menggelayut dipikiran. Perasaan saya seolah-olah dipermainkan oleh kondisi jalanan. Ketika kemacetan berkurang, maka muncul pengharapan. Namun ketika macet lagi, maka seolah-olah pengharapan itu lari entah kemana.
Hampir sekitar 1,5 jam perasaan saya gundah gulana. Namun perasaan mulai menjadi tenang ketika sudah mendekati terminal. Ketika saya lirik jam, ternyata masih ada waktu. Wah rasanya plong...Beban yang tadinya berat, lenyap begitu saja. Wajah yang tadinya tegang, kini berubah ceria.
Ternyata, kondisi hati dan pikiran kita dengan mudahnya dipermainkan oleh kondisi sekitar kita. Mungkin kita (saya juga) sulit sekali menerapkan apa yang tertulis dalam kitab Mazmur 62:2,"Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku". Bagaimana kebenaran ini kita terapkan dalam situasi-situasi yang "genting" seperti apa yang kami alami. Saya merasa sangat kuatir dengan apa yang saya alami. Bahkan kekuatiran itu telah menggerogoti akal sehat saya. bahkan bukan itu saja, saya melupakan bahwa saya menyembah Allah yang berdaulat, berkuasa atas alam semesta ini. Meskipun dalam hati saya memohon kepada-Nya agar diberi pertolongan, namun rasa kekuatiran itu lebih besar dari iman saya. Dampaknya sudah sangat jelas, berbagai pikiran negatif bertumbuh dengan suburnya dalam hati saya. Padahal pikiran negatif itu jika dibiarkan akan terus berkembang menjadi tindakan yang negatif pula. Itu sangat nampak dari sikap saya yang spontan saja pencet klakson ketika mobil di depan saya berjalan lambat, walaupun jalan di depan sudah agak lancar.
Ternyata kekuatiran itu sangat merugikan hidup kita. Kekuatiran itu merusak sendi-sendi dalam seluruh aspek kehidupan. Kekuatiran tidak saja merusak jiwa, tetapi tubuh jasmani juga. Karena itu, mari kita serahkan kekuatiran itu kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara hidup kita.
Latihan mengatasi kekuatiran, bukan dilakukan di masa-masa tenang, tapi di masa-masa tegang. (YM)

11 Oktober, 2007

"JAGALAH PIKIRANMU"!!!








"Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu" Ungkapan ini tentu kita masih ingat maknanya. Pada dasarnya tak seorang pun tahu apa yang sedang dipikirkan oleh orang lain. Sekalipun ada orang yang menggangap diri mampu mengetahui pikiran orang, namun pastilah tidak mungkin. Kalau orang membaca pikiran orang (mind reading) ya banyak. Orang kadang-kadang menebak pikiran orang.
Apa yang ada dalam pikiran manusia, hanya manusia itu sendiri yang tahu. Apa yang sedang mereka pikirkan akan terungkap setelah yang bersangkutan mengungkapkannya. Namun tahukah anda bahwa ada yang tahu apa yang anda sedang pikirkan? Wah anda memang jenius, memang benar sekali bahwa Tuhan tahu apa yang kita pikirkan. Tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan. Segala sesuatu terbuka dihadapan-Nya. Kalau di hadapan manusia kita masih bisa bersandiwara, tapi jangan coba-coba di hadapan Tuhan. Tuhan tahu kalau anda sedang merencanakan hal-hal yang baik. Dia juga tahu jika anda sedang merancangkan yang jahat. Dia juga tahu kalau anda sedang menyimpan dengki, dendam terhadap saudara, teman, rekan sekerjamu. Tuhan juga tahu kalau anda sedang pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana caranya bisa melunasi kreditan. Tuhan tahu semuanya. Jangan kita berkata,"ah Tuhan tidak tahu kok" Salah besar. Anda mau tahu contohnya? Coba perhatikan apa yang tertulis dalam kitab suci, secara khusus Injil Lukas 5:21-22 :"Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: "Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu?"
Seandainya Tuhan hadir secara fisik di dunia ini, berapa banyak di antara kita yang sudah ditegor oleh Tuhan. "Hai Yohanes...apa yang sedang kamu pikirkan...memang kamu pikir Aku tidak tahu ya..." Bukankah seringkali kita berpikir yang tidak selaras dengan kehendak-Nya. Bahkan mungkin kita sedang berpikir tentang Tuhan yang kita anggap tidak peduli terhadap kita. Tuhan tahu apa yang kita pikirkan. Karena itu, hati-hatilah dalam berpikir. Jangan sampai kita melupakan bahwa Tuhan tahu segala yang kita pikirkan. Mungkin kita berusaha hati-hati dalam bertindak,tapi sembrono dalam berpikir.
"Ada seorang bapak yang mengajak anaknya untuk mencuri jagung di kebun tetangganya. Ketika hari sudah malam, ia mengajak anaknya mengendap-endap di kebun jagung tetangganya. Bapak itu menyuruh anaknya untuk berjaga-jaga, jangan sampai ada orang yang melihatnya. Satu demi satu jagung dipetiknya. Tiba-tiba sang anak memberi kode, bahwa ada yang melihat. Bapaknya toleh kanan dan kiri...sepi..tidak ada orang. Tapi sang anak menunjuk ke atas......."
Mari jaga pikiran kita, karena Tuhan mengetahui apa yang kita pikirkan. Kita tidak hanya mempertanggungjawabkan perbuatan, perkataan kepada Tuhan. Namun apa saja yang kita pikirkan akan dipertanggungjawabkan di hadapan_Nya.

10 Oktober, 2007

TUHAN KOQ DIPERINTAH...


Siapa yang berani memerintah Tuhan? Pastilah tidak ada. Tapi tanpa kita sadari, seringkali kita perintah-perintah Tuhan. Bukankah dalam doa-doa kita, sering kali kita memerintahkan Tuhan untuk melakukan sesuatu. Misalnya,”Tuhan tolong gerakan hati bapak A agar ia mau menolong saya.” Tuhan tidak berada di bawah perintah siapapun. Tuhan adalah Allah yang sempurna. Tidak ada seorangpun yang memberikan nasehat kepada-Nya ketika Ia melakukan sesuatu. Keputusannya mutlak tanpa pengaruh siapa pun. Jika seperti itu, pada dasarnya tak seorang pun mampu menggerakkan tangan Tuhan untuk melakukan sesuatu. Gerakan tangan Tuhan mutlak karena kehendak-Nya sendiri. Tuhan tidak memihak kepada siapa pun. Tuhan adalah Tuhan yang Maha adil. Keadilan-Nya nyata dalam seluruh keputusan-Nya. Namun ingatlah bahwa Tuhan bukanlah Tuhan yang bengis. Ia adalah Bapa kita yang baik. Ia memperhatikan kesusahan anak-anak-Nya. Belas kasihan-Nya nyata dalam sejarah alam semesta ini. Sekalipun demikian bukan berarti kita boleh ”perintah-perintah” Tuhan.
Jika Ia berbelas kasihan kepada seseorang, maka itu adalah keputusannya. Ia secara bebas bisa melakukan apa saja, tanpa tekanan dari pihak manapun. Bahkan bagi orang-orang yang oleh dunia dianggap tidak layak, Ia juga bebas melakukan sesuatu. Salah satunya adalah terhadap seorang yang kena sakit kusta. Menurut aturan agama Yahudi orang seperti ini harus diasingkan. Orang-orang kusta menyandang predikat sebagai orang yang najis. Dalam istilah modern kita :”sampah masyarakat, penyakit masyarakat”. Karena itulah orang kusta adalah sekelompok orang yang dikucilkan dari lingkungan masyarakat Yahudi. Namun orang yang ”tidak layak” ini, ternyata mendapatkan belas kasihan Tuhan. Apa yang dilakukan oleh orang kusta ini?. Apakah ia marah kepada Tuhan karena membiarkan ia terkena sakit kusta? Atau ia protes kepada Tuhan yang mungkin dianggap tidak adil? Tidak. Dalam kitab suci dicatat bahwa orang kusta ini melakukan sesuatu yang sunggu menghormati kedaulatan Tuhan. Orang kusta ini datang kepada Yesus dengan permohonan: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Lukas 5:12)
Sikap orang kusta ini patut kita tiru. Dalam permohonannya ia memohon,”Tuan jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” Dalam permohonannya itu, sangat nampak bahwa ia tidak sedang mengintimidasi Tuhan untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya ia menyerahkan semuanya kepada kehendak/kemauan Tuhan saja. Namun kita sering kebablasan dalam bedoa. Kita berani memojokkan Tuhan dengan berkata,”Tuhan bukankah Engkau Tuhan yang berkuasa, mengapa Engkau membiarkan bencana ini...apakah Engkau tidak melihat penderitaan anak-anak-MU...” Doa-doa semacam itu adalah doa-doa orang yang tidak paham terhadap kedaulatan Tuhan. Kita sering tidak menghormati Bapa kita dengan memojokkan,memerintah-Nya melalui doa kita.Mari kita belajar menghormati kedaulatan, Keputusan, dan Tindakan-Nya. Jangan sekali-kali memerintah Tuhan, itu namanya tidak etis...Tuhan Koq diperintah!!!

09 Oktober, 2007

TURUT SAJA PERINTAHNYA


Bagi para nelayan, perahu merupakan modal yang sangat berharga. Perahu merupakan tumpuan harapan bagi kehidupan keluarga nelayan. Karena itu, perahu-perahu tersebut akan dirawat dengan sangat baik. Rasanya tidak ada nelayan yang tidak merawat perahunya. Ketika warna catnya mulai pudar, mereka akan meluangkan waktu untuk mencatnya kembali. Demikian juga ketika selesai melaut, mereka akan membersihkan dan menyimpan perahu itu dengan baik. Biasanya perahu-perahu itu ditempatkan di bawah pohon-pohn yang rindang.
Kedatangan perahu-perahu pada pagi hari, memang membawa sejuta pengharapan. Dari kejauhan sudah nampak perahu-perahu berjejer memasuki pantai. Pantai yang tadinya sepi, kini sudah penuh sesak dengan orang-orang yang berebut mengais rejeki. Para pengepul ikanpun sudah siap sedia untuk membeli ikan-ikan dari para nelayan. Ketika perahu-perahu mulai merapat, maka sejumlah orang mulai berlarian. Mereka membantu para nelayan itu untuk menarik perahu tersebut ke tepi pantai. Gelak tawa akan terdengar ketika perut perahu dilihat ternyata berisi penuh dengan ikan. Namun sebaliknya, ketika perut perahu kosong, maka desah kekecewaan akan mengema dimana-mana. Yang kecewa bukan saja yang mengharapkan hasil tangkapan para nelayan. Justru nelayannyalah yang paling kecewa. Nelayan-nelayan ini sudah menyimpan kekecewaan sejak jala-jala kosong terangkat ke permukaan. Angin laut menusuk tulang-tulang mereka. Tusukan itu semakin dalam, ketika semalaman mereka melaut, namun hasilnya nihil.
Kondisi seperti itu, rasanya sulit bagi orang untuk memikirkan orang lain. Jangankan memikirkan kepentingan orang lain, pikir diri saja sudah susahnya minta ampun. Tapi tahukah anda bahwa ada seorang nelayan yang masih membuka hati bagi orang lain? Namanya Petrus. Ketika pulang dari melaut, ia sedang sibuk membersihkan jalanya yang kosong. Ia sibuk menata kembali jalanya untuk dipergunakan mencari ikan di hari berikutnya. Sebenarnya ia dan teman-temannya sudah bersiap untuk pulang. Tapi dia sedikit terkejut karena ada orang yang naik ke perahunya. Wah ini cari-cari masalah. Sudah tahu si Petrus lagi pusing, eh malah perahunya dipakai. Bukan itu saja, malahan disuruh bertolak agak ke tengah. Kita tidak tahu perasaan Petrus saat itu. Mungkin Petrus kenal dengan orang yang naik ke perahunya, namun tidaklah terlalu akrab. Tapi Petrus ikut saja dengan apa yang dikatakan oleh orang itu. Mungkin ia berpikir,”wah dapat rejeki nich..orang ini mau sewa perahuku...” Tapi dugaannya meleset. Bukannya menyewa perahunya, malahan perahunya hanya dipakai tempat untuk khotbah. Si Petrus sudah terlanjur mendorong perahunya agak jauh dari Pantai. Dikerumuni banyak orang, tentu Petrus tidak etis kalau protes kepada Yesus yang saat itu pinjam perahunya. Petrus sendiri harus rela berendam di air sambil menahan perahu itu agar tidak hanyut dibawa gelombang laut. Ketika melakukan hal ini, tidak terbersit dalam pikirannya akan mendapatkan ikan yang banyak. Bayangkan saja!! Mana ada orang menebarkan jala di pinggir pantai trus dapat ikan besar-besar. Apalagi saat itu siang hari. Orang biasanya melaut malam hari. Tapi apa yang tidak pernah terpikirkan kini menjadi kenyataan di hadapannya. Kitab Suci menceritakan,”Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.” (Lukas 5:6). Bukan itu saja, perahu tersebut tidak mampu memuat ikan hasil tangkapan mereka. Itulah sebabnya mereka menggunakan dua perahu sekaligus. Bahkan kedua perahu itu hampir tenggelam. Luar biasa!!!
Apa rahasianya?
Petrus taat kepada perintah Yesus. Ia tidak menjadikan rasa kecewanyasebagai alasan menolak perintah Yesus. Ia melakukan apa yang diminta oleh Yesus. Hasilnya adalah : Petrus terobati kekecewaannya. Bukan itu saja, sejumlah ikan besar ia bisa bawa pulang bersama nelayan lainnya.
Melakukan apa yang Tuhan perintahkan selalu membawa keberuntungan. Hanya saja jangan salah mengerti. Keberuntungan jangan dinilai hanya dari hal-hal jasmani saja. Keberuntungan juga harus dilihat dari sisi rohani. Rasanya itu yang lebih mulia dari sekedar keuntungan duniawi.

LEPASKAN GENGGAMANMU...

Penduduk Afrika memiliki cara yang unik untuk menangkap seekor monyet. Mungkin kita berpikir bahwa cara mereka sama dengan yang kita lakukan. Kami biasanya menangkap monyet di kampung dengan mempergunakan senapan angin. Kalau tidak, kami biasanya mempergunakan anjing pemburu. Jadi ketika kami melihat monyet di sebuah pohon, maka kami berusaha melemparnya, atau menggoyang-goyang pohon tersebut. Karena panik, maka biasanya monyet-monyet tersebut akan berlompatan kesana kemari. Namun ada saja yang lengah, sehingga terjatuh dari pohon. Nah saat itulah anjing-anjing pemburu menangkapnya.
Namun berbeda dengan cara yang dilakukan oleh orang-orang Afrika. Mereka biasanya memakai semangka yang sudah dilubangi. Di dalam lobang tersebut, mereka mengisinya dengan kacang. Tahu kan,monyet suka sekali makan kacang (bukan berarti yang suka kacang adalah monyet...) Tapi itu cara yang sangat jitu. Ketika monyet-monyet tersebut melihat semangka bergeletakan, mereka berusaha mendekati untuk memeriksanya. ”ah lagi mujur nich...ada kacang dalam semangka” pikir si monyet. Maka monyet-monyet itu pun tanpa buang-buang waktu mulai memasukkan tangan mereka untuk merogoh kacang yang ada dalam lobang semangka tersebut. Mereka tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam jiwanya. Tak disangka-sangka, dari dalam semak belukar berhamburan para pemburu dengan tombak yang siap untuk menombak monyet-monyet yang malang itu. Monyet-monyet itu pun berlarian menyelamatkan diri sambil membawa lari semangka-semangka yang berat itu. Monyet-monyet itu rupanya enggan melepaskan genggamannya. Ia sudah merasakan ”keuntungan” yang besar jika berhasil membawa kabur kacang-kacang dalam semangka tersebut. Tapi keserakahannya justru merupakan malapetaka bagi mereka.
Sesudah Yesus melakukan pelayanan, maka Ia pun mencari tempat yang sunyi. Namun orang-orang yang tadinya menerima pelayanan dariNya terus mencari-Nya. Mereka berusaha menahan Dia agar tetap bersama-sama dengan mereka. Namun Yesus menolaknya dengan berkata,”Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” (Lukas 4:43)
Mengapa mereka menahan Yesus? Tentu mereka sudah merasakan keuntungan besar jika Yesus selalu bersama dengan mereka. Mereka sudah melihat dan merasakan bahwa Yesus ini adalah ”asset” yang sungguh berharga. Dengan menahan-Nya berarti keuntungan ada di pihak mereka. Namun mereka terperangah ketika Yesus menolak permintaan mereka. Yesus tidak tergoda untuk merasa nyaman bersama mereka. Yesus kembali kepada tujuan semula yaitu mengabarkan Injil kepada orang-orang lain juga.
Ketika kita menerima berkat-berkat di dalam kehidupan ini, kecendrungan kita adalah menahannya untuk kepentingan kita semata. Kita enggan berbagi dengan orang lain. Kita merasa rugi jika membagi berkat tersebut dengan orang lain. Namun kita akan mengalami nasib yang sama dengan monyet-monyet tadi tatkala kita enggan melepaskan genggaman kita. Semestinya kita tidak bersikap sepeti itu. Yesus Guru kita sudah memberikan teladan agar kita rela berbagi berkat, kebahagiaan, kesukaan dengan orang lain.
Orang yang kaya bukanlah orang yang menyimpan harta bagi diri sendiri. Orang yang kaya adalah orang yang mau berbagi dengan orang lain. Lepaskanlah genggamanmu sekarang juga...

Menolak Menjadi Populer


Tiga bagian penting yang selalu menjadi incaran manusia dari masa ke masa adalah : Kekayaan, kekuasaan dan kemasyuran (popularitas). Ini bisa sebut sebagai tiga serangkai yang selalu berdampingan. Ketika orang mendapatkan apa itu kekuasaan, maka kedua temannya senantiasa mengikuti. Kekayaan dan ketenaran akan datang juga. Demikian juga ketika seseorang sudah tenar, terkenal, maka secara tidak langsung kekayaan dan kekuasaan biasanya hadir juga.

Dunia selalu mengincar ke-tiga bagian ini. Ketika manusia mendapatkannya ia akan merasakan bahwa ia sudah merengkuh dunia ini. Itulah sebabnya, tidak sedikit orang yang rela mengorbankan apa saja demi mendapatkan ketiga hal tersebut. Rasanya itulah yang menjadi tujuan hidup manusia.

Namun anda mungkin terkejut dengan pernyataan seseorang yang menyatakan,"Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias" (Lukas 4:41).

Ini merupakan kebalikan dari apa yang dikejar oleh dunia. Dunia dengan segala caranya berusaha untuk mengejar popularitas. Justru sebaliknya, Yesus menolak popularitas dunia ini. Ketika orang-orang mulai tahu siapa Dia, tentulah ini sebuah kesempatan untuk menjadi populer. Namun Yesus justru melarang mereka memberitakan siapa Dia sebenarnya. Apakah Yesus punya strategi lain? Kita tidak sedang melihat Yesus punya strategi lain dalam pernyataan-Nya. Ia datang ke dunia dengan misi yang jelas yaitu keselamatan umat manusia. Yesus tidak perlu mencari-cari popularitas semu seperti itu. Ia melakukan pekerjaan yang teramat mulia. Karena kerendahan hatiNya untuk mentaati kehendak Bapa, Ia dihormati di Sorga dan di Bumi.

Ini merupakan prinsip mendasar dalam hidup ini. Menjadi terkenal bukanlah tujuan. Namun sebaliknya, jika karena pekerjaan mulia yang kita lakukan menyebabkan kita dikenal orang itu adalah hal yang normal. Pepatah mengatakan:"Gajah mati meninggalkan gadingnya, manusia mati meninggalkan namanya." Itulah sebabnya, kita tidak sedang mengejar yang namanya popularitas. Menjadi populer bukanlah tujuan hidup. Orang-orang yang mengejar-ngejar kepopuleran akan jatuh dalam berbagai kesulitan hidup.

Dunia mungkin menganggap kita populer,namun belum tentu di hadapan Tuhan. Yang menjadi tujuan hidup kita sebagai orang percaya adalah mengenal Allah dan dikenal oleh Allah. Ayub dikenal oleh Allah. Bahkan Allah memberikan rekomendasi:"Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:8)

Pesan renungan kita pada hari ini adalah: jangan mengejar kepopuleran dunia ini. Kejarlah rekomendasi Allah. Apakah Allah akan memberikan rekomendasi baik pada anda atau sebaliknya.

08 Oktober, 2007

PENGAJARAN YANG BERKUASA

Ketika saya mengambil saat teduh, saat itu saya merenungkan Firman Tuhan dari Injil Lukas pasal 4 ayat 31-36. Dalam kisah itu diceritakan tentang Tuhan Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea. Tujuan Tuhan Yesus ke daerah itu bukan untuk refreshing atau jalan-jalan. Tujuannya sangat jelas yaitu pelayanan. Setiap hari Sabat, Yesus masuk ke rumah ibadat untuk mengajar. Rupanya tanggapan orang-orang sesudah mendengarkan beberapa kali pengajarannya sangat luar biasa. Dalam ayat 32, dituliskan:"Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa." Apa yang membuat mereka memberikan respons seperti itu? Tentunya respons tersebut tidak lahir dari konspirasi untuk menunjukkan bahwa Yesus itu benar-benar berkuasa. Pengajaran Yesus penuh dengan kuasa oleh karena pengajaran-Nya lahir bukan dari hikmat dunia ini. Pengajaran-Nya lahir karena hikmat Allah. Dalam pengalaman yang sama, Rasul Paulus juga menyatakan hal yang serupa. Dalam I Korintus 2:4, dituliskan:"Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh". Dalam ayat 13, lebih jelas lagi dituliskan,"...kami berkata-kata dengan karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh."
Tentunya ini menjadi pertanyaan bagi kita yang biasa mengajar, berkhotbah, atau pelayanan apa saja. Semua yang berhubungan dengan pengajaran kita, apakah pengajaran kita lahir dari hikmat manusia atau hikmat Allah. Apakah pengajaran kita hanya membuat orang terpukau karena banyak istilah-istilah "keren" yang dipergunakan atau pengajaran yang sederhana namun berkuasa? Semua ini menantang kita untuk interospeksi diri. Jangan-jangan selama ini apa yang saya ajarkan semata-mata hanya karena "kepintaran manusia semata" Jika demikian janganlah heran jika semua pengajaran kita hanya sampai kepada kepuasan "pikiran" belum sampai kepada sentuhan hati.
Pengajaran Yesus yang berkuasa lahir dari hikmat Allah. Hikmat Allah itu didapat sebagai akibat dari hubungan yang intim dengan Sangg Bapa. Sebelum Yesus melayani, Yesus melakukan doa dan puasa 40 hari. Ini bukan main-main. Ini perkara yang sangat serius. Yesus memandang pelayanan itu hal yang sangat serius. Karena itu Ia tidak asal-asalan saja. Dari sini saja kita sudah dapat belajar bahwa melayani Tuhan itu perkara yang serius, sungguh-sungguh. Apalagi jika itu sudah berhubungan dengan pengajaran.
Karena itu, melalui renungan ini saya mengajak kita untuk mawas diri. Jangan sampai apa yang kita lakukan selama ini hanya lahir dari hikmat dunia ini. Jangan sampai kita mengabaikan hikmat Allah dalam pelayanan. Hikmat dunia hanya membawa manusia kepada kepuasan "pikiran saja" Namun hikmat yang dari Tuhan membawa manusia mengalami kepuasan yang seutuhnya. Bukan itu saja, hikmat yang datang dari Allah akan membawa manusia mengalami perubahan dalam hidup mereka.

03 Oktober, 2007


PERTEMUAN YANG MENGHARUKAN


Suatu hari isteri saya berbelanja ke warung dekat rumah kami. Ketika isteri saya pulang, wajahnya nampak gembira. Saya penasaran apa yang membuatnya seperti itu. Tapi saya diam saja. Ketika kami sedang duduk makan bersama, isteri saya mulai bercerita. ”tadi ketika saya ke warung, saya melihat kejadian yang sangat hebat. Saat itu seekor anjing yang bernama poci, berlari dengan senang ketika melihat seekor anak anjing.” Dalam pikiran saya, wajar saja seekor induk anjing senang ketika melihat anaknya. Namun yang menjadi masalah karena mereka tidak hidup bersama sebagai sebuah keluarga.
Peristiwa ini tentu merupakan sebuah kewajaran, antara induk Anjing dan anaknya yang memiliki kedekatan perasaan yang begitu luar biasa. Siapa pun tidak dapat menyangkal, bahwa adanya hubungan yang begitu dekat antara sang ibu dan anaknya. Kedekatan itu sudah terjalin sejak sang anak dikandung oleh sang Ibu kurang lebih 9 bulan. Betapa hebatnya jalinan kedekatan itu terjalin. Sekalipun demikian, rasanya tidak masuk di akal jika masih ada kasus-kasus ibu yang membuang bayinya. Atau jika ada ibu-ibu yang menelantarkan bayinya. Berbagai alasan pun disampaikan oleh mereka. Ada yang beralasan karena malu dengan bayi yang dilahirkan sebagai hasil hubungan gelap. Ada juga karena masalah ekonomi, mereka takut tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi sang anak. Dan tentunya masih ada alasan lainnya. Alasan bisa saja dicari. Bahkan seribu alasan pun dapat dibuat. Namun semuanya itu tidak dapat menghalangi hubungan yang begitu dekat antara sang ibu dan anaknya.
Hubungan yang begitu dekat juga terjalin antara Sang pencipta dan Manusia ciptaan-Nya. Sang pencipta tidak pernah membenci manusia ciptaan-Nya. Jika kita menemukan kasus-kasus dalam kitab suci, seperti Kejadian pasal 6, dimana Allah membinasakan manusia; Bukanlah berarti Allah membenci Ciptaan-Nya. Allah sedang menunjukan kepada manusia bahwa Ia adalah Allah yang suci, Kudus. Allah sedang mengajarkan kepada manusia apa itu hidup yang suci dan kudus.
"SEGERA SELESAIKAN MASALAHMU"
Sebuah ungkapan yang disampaikan oleh salah satu pembicara dalam sebuah kebaktian pagi sehubungan dengan pentingnya mempertahankan sebuah pernikahan adalah,"untuk sampai kepada level pernikahan mungkin sampai meneteskan darah". Kadang orang melupakan perjuangan yang begitu berat, hanya gara-gara hal sepele saja sudah dijadikan masalah besar. Bukankah persoalan besar selalu dimulai dari hal-hal yang sepele. Orang yang sakit kronis, tentu dimulai dari sakit ringan yang disepelekan. Kita kadang sering katakan,"tidak apa-apa" Kita meremehkan persoalan-persoalan yang dianggap kecil. Padahal hal-hal kecil itu memiliki potensi menjadi hal yang besar jika tidak diselesaikan. Pohon beringin dimulai dari sebuah benih yang sangat kecil. Di dalam benih yang kecil ini menyimpan potensi sebuah pohon yang sangat besar seperti beringin. Apakah kita ingin melihat pohon besar yang menutupi rumah kita atau kita "selesaikan" benih kecilnya? Manakah yang lebih mudah, menebang pohon beringin besar atau mematikan benihnya? Tentu akan lebih mudah mematikan benihnya. Namun hal ini jarang dilakukan. Kita sering berdalih,"ah ga apa-apa, hanya benih kecil saja kok"
Pernahkah saudara berselisih dengan teman, isteri atau suami? Adakah niatan saudara untuk menyelesaikan masalah tersebut? Atau saudara malah menganggap remeh saja? Dalam sebuah tayangan sinetron di televisi di ceritakan tentang seseorang yang sesudah besar membalas dendam dengan saudaranya sendiri. Mengapa? Karena anak ini ketika masih kanak-anak selalu saja mendapatkana perlakuan buruk dari sang nenek. Jadi rupanya sang nenek selalu bersikap tidak adil terhadap anak ini. Kalau ada pertengkaran pasti dialah yang disalahkan atau dihukum. Perlakuan sang nenek ini rupanya membekas dalam diri sang anak. Nah setelah besar, rupanya dendam itu masih ada, sehingga ia melakukan perbuatan balas dendam terhadap saudaranya sendiri. Apa yang salah dalam bagian ini? Yang salah adalah bahwa sering kali kita menganggap remeh persoalan-persoalan kecil. Kita lupa bahwa persoalan-persoalan itu bisa menganggu hubungan kita dengan pasangan, saudara bahkan kepada Tuhan.
Dalam Injil Matius Tuhan Yesus dengan sangat jelas mengajarkan bahwa jika ada sesuatu (persoalan) dengan orang lain, lebih baik diselesaikan terlebih dahulu sebelum datang membawa persembahan kepada Tuhan. Apa yang Tuhan ingin ajarkan? Tuhan memberikan pengajaran kepada kita bahwa:
  1. Jangan meremehkan hal-hal kecil/persoalan-persoalan kecil
  2. Persoalan kecil memiliki potensi rusaknya sebuah hubungan yang baik.
  3. Menyelesaikan persoalan kecil lebih mudah daripada sebuah persoalan besar
  4. Hubungan baik (damai) dengan sesama: isteri, suami, anak, teman, atasa, bawahan lebih diutamakan oleh Tuhan daripada membawa persembahan kepada-Nya.

02 Oktober, 2007

BERBUAT BAIK ITU BUTUH LATIHAN

Waktu menunjukan pukul 17.00 ketika saya sedang duduk-duduk santai di ruang tamu (maklum baru saja pulang dari kantor). Tiba-tiba Handphoneku berbunyi. Saya segera membukanya untuk melihat siapa gerangan yang SMS. Eh ternyata isteriku. Dia memberi pesan,”aku ada di plasa” Yang ada dalam pikiranku saat itu,”wah lagi borong-borong nich” Aku membalas smsnya dengan pesan,”dijemput ya”. Aku sudah bisa menebak jawabannya, ”ya”. Aku bergegas mempersiapkan diri untuk pergi ke garasi untuk menghidupkan mobil. Aku segera melaju menuju plasa Batu. Ketika memasuki area parkir yang ada di depan Plasa Batu, dari kejauhan aku melihat Yonatan melambaikan tangan. Setelah memarkirkan mobil, kami pun bertemu dengan isteri dan anak-anak. Betul saja, mereka membeli beberapa kebutuhan sekolah, susu, es degan, kembang api. Wah seru banget!!! Belum lebaran sudah beli kembang api.
Karena merasa bahwa semua sudah beres, maka kami pun bergegas untuk naik ke dalam mobil. Mobil melaju dengan pelan di tengah keramian orang-orang yang mempersiapkan diri untuk berbuka puasa. Ketika sampai di perempatan jalan (lampu merah), dari kejauhan aku melihat seorang anak muda membawa roti dan minuman dalam sebuah bungkusan kecil. Pikiranku saat itu adalah,”ah paling anak-anak yang sedang menawarkan TAKJIL (makanan ringan pembuka puasa)” Pikiran ku sudah negatif duluan. Makanya ketika mereka mendekati mobil dan menawarkan TAKJIL, maka secara spontan saja saya menjawab,”oh tidak terima kasih” Namun pemuda tersebut nampaknya sedikit memaksa, ”ambil saja pak” Sekali lagi dengan halus saya menolaknya,”tidak, terima kasih” Rupanya si pemuda tahu penyebabnya mengapa saya menolaknya ketika ditawari TAKJIL. Dengan ramah ia kembali menawarkan,”ini gratis lho pak,” Waduh, malunya, mereka mau berbuat baik eh malah di sangka yang bukan-bukan. Dengan agak malu maka saya menerima pemberian itu. Ketika lampu sudah hijau, langsung saja saya tancap gas meninggalkan si pemuda. Saya memiliki pengalaman yang sangat berharga dari peristiwa tersebut. Ternyata saya melupakan satu hal bahwa mereka juga memiliki potensi untuk melakukan apa yang baik bagi sesama. Rupanya mereka dapat melakukan apa yang baik, selama mereka mau melakukannya. Rasanya sangatlah keliru jika kita memvonis bahwa mereka anak anak nakal yang tidak bisa mengalami perubahan hidup ke arah yang baik dan benar.
Apa yang saya pelajari dari peristiwa ini? Saya belajar bahwa setiap orang pada dasar memiliki keinginan untuk melakukan apa yang baik. Orang-orang yang masih memiliki hati nurani, pastilah memiliki keinginan untuk melakukan apa yang baik dalam hidup mereka. Hanya saja, kita terkadang berpikiran yang negatif tentang mereka, bahkan kadang tidak mau memahami mereka dengan tulus hati.
Dalam II Timotius 3 ayat 17, dituliskan:” Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Jadi setiap manusia memiliki potensi yang diberikan oleh Allah untuk melakukan perbuatan baik. Potensi itu akan semakin nampak dalam kehidupan kita jika potensi itu ”diwujud nyatakan” dalam tindakan nyata. (berbuat baik itu juga butuh latihan...seperti yang dilakukan oleh anak muda tadi)



01 Oktober, 2007

MUSA JUGA MANUSIA

Siapa yang tidak kenal dengan Musa. Tentu bagi anda yang sudah menjadi orang Kristen, pastilah paling tidak pernah mendengarkan cerita tentang Musa. Musa adalah tokoh dalam Perjanjian Lama yang amat tersohor. Ia dilahirkan dalam masa-masa sulit. Ia dilahirkan dalam masa-masa genting dimana Firaun tidak menghendaki bayi laki-laki lahir dari antara wanita-wanita Ibrani. Musa termasuk yang sangat beruntung, karena berhasil diselamatkan dari maut. Tentulah kehidupan Musa boleh dikatakan beruntung karena ia selamat dari kematian, dan bisa menikmati kebebasan di istana Firaun. Kebebasan yang ia peroleh rupanya tidak membuat ia melupakan saudara-saudara sesama orang Ibrani. Itulah sebabnya ia selalu berusaha membela sesamanya meskipun dengan cara yang salah. Akibat perbuatannya itu, Musa harus melarikan diri dari istana Firaun. Dalam pelariannya itulah ia berjumpa dengan Allah semesta Alam. Musa mendapatkan tugas untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir. Kuasa Allah bekerja luar biasa melalui tangan Musa. Berbagai mujizat terjadi di tanah Mesir. Melalui Musa, umat Tuhan mendapatkan kebebasan. Melalui tangan Musa, Allah membelah lautan. Melalui tangan Musa, batu karang mengalirkan air di tengah-tengah kegersangan padang gurun.

Jika melihat kuasa Allah yang luar biasa ini, siapa yang menyangka sosok seorang Musa bisa juga putus asa. Dalam Bilangan 11:4-15, Musa mengalami depresi yang teramat berat. Ia berhadapan dengan umat Ibrani yang berdemontrasi meminta daging. Demontrasi mereka dilakukan dengan cara menangis di pintu kemah musa. Hati siapa yang tidak luluh, hati siapa yang tidak hancur mendengarkan tangisan. Tapi hati siapa yang tidak marah, geram memimpin bangsa yang tidak bisa mengucap syukur. Dalam keputusasaannya Musa menyalahlah Tuhan sebagai "Oknum" yang telah memperlakukannya dengan buruk. Bahkan dalam ayat 15, Musa minta dibunuh saja. Musa yang perkasa, Musa yang dipakai oleh Tuhan untuk membelah lautan ternyata seorang manusia biasa. Ia marah, tertekan, bahkan putus asa. Musa merasakan beratnya beban yang harus diembannya. Kalau Musa boleh meminta kepada Tuhan, mungkin lebih baik ia jadi orang biasa saja. Namun Tuhan sudah memilih dia untuk membawa umat-Nya menuju tanah perjanjian.

Apa yang kita pelajari dari kisah ini?



  1. Musa tetaplah sebagai manusia biasa yang dapat juga mengalami keputusasaan


  2. Musa sebagai manusia biasa dipakai oleh Tuhan untuk melakukan perkara-perkara luar biasa


  3. Sungutan bukanlah jalan keluar dalam menghadapi persoalan hidup


  4. Tuhan hadir dalam setiap persoalan hidup hamba-hamba-Nya.


  5. Tuhan berkehendak agar setiap hamba-Nya mengandalkan Dia dalam setiap sisi kehidupan ini.

Biarlah renungan ini memberkati kehidupan saudara. Amin



Life Changing Media: Kepuasan Hidup

Life Changing Media: Kepuasan Hidup

MENGUCAP SYUKUR KEPADA TUHAN

Apa yang ada dalam pikiran anda ketika membaca judul di atas? Ah sudah biasa, pastilah setiap orang harus mengucap syukur kepada Tuhan. Ketika usaha diberkati oleh Tuhan, tentulah ucapan syukur yang dipanjatkan. Ketika anak-anak berhasil dalam studinya, tentulah ucapan syukur yang disampaikan. Pokoknya, apa saja yang merupakan berkat Tuhan, akan selalu ditanggapi dengan ucapan syukur. Namun sadarkah kita bahwa saking biasanya kita berkata,"syukurlah" kita kadang melupakan essensi ucapan syukur itu. Ucapan syukur lebih sering diungkapkan sebagai wujud terima kasih atas segala sesuatu yang kita terima dalam dunia ini. Kita melupakan bahwa dasar pengucapan syukur itu haruslah lahir dari pemahaman bahwa Tuhan sudah melepaskan saya dari cengkraman maut. Kita dipindahkan dari Maut kepada hidup di dalam Kristus. Jika ucapan syukur kita didasari pada hal ini maka, tidak ada alasan untuk tidak mengucap syukur. Jadi ucapan syukur kita akan bermakna lebih dalam dibandingkan jika hanya mengucap syukur diluar hal yang mendasar tadi. Jika kita lepaskan ucapan syukur kita dari hal mendasar ini, maka kadang kala kita mengeluh atas hal-hal kurang baik yang menimpa hidup ini.
Jadi milikilah ucapan syukur yang memberi makna lebih dalam di kehidupan ini. Dan makna itu hanya ada dalam pemahaman yang benar tentang kelepasan yang Kristus sudah kerjakan dalam menyelamatkan kita. Amin.

Salam,

Yohanes