Siapa yang berani memerintah Tuhan? Pastilah tidak ada. Tapi tanpa kita sadari, seringkali kita perintah-perintah Tuhan. Bukankah dalam doa-doa kita, sering kali kita memerintahkan Tuhan untuk melakukan sesuatu. Misalnya,”Tuhan tolong gerakan hati bapak A agar ia mau menolong saya.” Tuhan tidak berada di bawah perintah siapapun. Tuhan adalah Allah yang sempurna. Tidak ada seorangpun yang memberikan nasehat kepada-Nya ketika Ia melakukan sesuatu. Keputusannya mutlak tanpa pengaruh siapa pun. Jika seperti itu, pada dasarnya tak seorang pun mampu menggerakkan tangan Tuhan untuk melakukan sesuatu. Gerakan tangan Tuhan mutlak karena kehendak-Nya sendiri. Tuhan tidak memihak kepada siapa pun. Tuhan adalah Tuhan yang Maha adil. Keadilan-Nya nyata dalam seluruh keputusan-Nya. Namun ingatlah bahwa Tuhan bukanlah Tuhan yang bengis. Ia adalah Bapa kita yang baik. Ia memperhatikan kesusahan anak-anak-Nya. Belas kasihan-Nya nyata dalam sejarah alam semesta ini. Sekalipun demikian bukan berarti kita boleh ”perintah-perintah” Tuhan.
Jika Ia berbelas kasihan kepada seseorang, maka itu adalah keputusannya. Ia secara bebas bisa melakukan apa saja, tanpa tekanan dari pihak manapun. Bahkan bagi orang-orang yang oleh dunia dianggap tidak layak, Ia juga bebas melakukan sesuatu. Salah satunya adalah terhadap seorang yang kena sakit kusta. Menurut aturan agama Yahudi orang seperti ini harus diasingkan. Orang-orang kusta menyandang predikat sebagai orang yang najis. Dalam istilah modern kita :”sampah masyarakat, penyakit masyarakat”. Karena itulah orang kusta adalah sekelompok orang yang dikucilkan dari lingkungan masyarakat Yahudi. Namun orang yang ”tidak layak” ini, ternyata mendapatkan belas kasihan Tuhan. Apa yang dilakukan oleh orang kusta ini?. Apakah ia marah kepada Tuhan karena membiarkan ia terkena sakit kusta? Atau ia protes kepada Tuhan yang mungkin dianggap tidak adil? Tidak. Dalam kitab suci dicatat bahwa orang kusta ini melakukan sesuatu yang sunggu menghormati kedaulatan Tuhan. Orang kusta ini datang kepada Yesus dengan permohonan: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Lukas 5:12)
Sikap orang kusta ini patut kita tiru. Dalam permohonannya ia memohon,”Tuan jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” Dalam permohonannya itu, sangat nampak bahwa ia tidak sedang mengintimidasi Tuhan untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya ia menyerahkan semuanya kepada kehendak/kemauan Tuhan saja. Namun kita sering kebablasan dalam bedoa. Kita berani memojokkan Tuhan dengan berkata,”Tuhan bukankah Engkau Tuhan yang berkuasa, mengapa Engkau membiarkan bencana ini...apakah Engkau tidak melihat penderitaan anak-anak-MU...” Doa-doa semacam itu adalah doa-doa orang yang tidak paham terhadap kedaulatan Tuhan. Kita sering tidak menghormati Bapa kita dengan memojokkan,memerintah-Nya melalui doa kita.Mari kita belajar menghormati kedaulatan, Keputusan, dan Tindakan-Nya. Jangan sekali-kali memerintah Tuhan, itu namanya tidak etis...Tuhan Koq diperintah!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar