Ketika saya mengambil saat teduh, saat itu saya merenungkan Firman Tuhan dari Injil Lukas pasal 4 ayat 31-36. Dalam kisah itu diceritakan tentang Tuhan Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea. Tujuan Tuhan Yesus ke daerah itu bukan untuk refreshing atau jalan-jalan. Tujuannya sangat jelas yaitu pelayanan. Setiap hari Sabat, Yesus masuk ke rumah ibadat untuk mengajar. Rupanya tanggapan orang-orang sesudah mendengarkan beberapa kali pengajarannya sangat luar biasa. Dalam ayat 32, dituliskan:"Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa." Apa yang membuat mereka memberikan respons seperti itu? Tentunya respons tersebut tidak lahir dari konspirasi untuk menunjukkan bahwa Yesus itu benar-benar berkuasa. Pengajaran Yesus penuh dengan kuasa oleh karena pengajaran-Nya lahir bukan dari hikmat dunia ini. Pengajaran-Nya lahir karena hikmat Allah. Dalam pengalaman yang sama, Rasul Paulus juga menyatakan hal yang serupa. Dalam I Korintus 2:4, dituliskan:"Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh". Dalam ayat 13, lebih jelas lagi dituliskan,"...kami berkata-kata dengan karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh."
Tentunya ini menjadi pertanyaan bagi kita yang biasa mengajar, berkhotbah, atau pelayanan apa saja. Semua yang berhubungan dengan pengajaran kita, apakah pengajaran kita lahir dari hikmat manusia atau hikmat Allah. Apakah pengajaran kita hanya membuat orang terpukau karena banyak istilah-istilah "keren" yang dipergunakan atau pengajaran yang sederhana namun berkuasa? Semua ini menantang kita untuk interospeksi diri. Jangan-jangan selama ini apa yang saya ajarkan semata-mata hanya karena "kepintaran manusia semata" Jika demikian janganlah heran jika semua pengajaran kita hanya sampai kepada kepuasan "pikiran" belum sampai kepada sentuhan hati.
Pengajaran Yesus yang berkuasa lahir dari hikmat Allah. Hikmat Allah itu didapat sebagai akibat dari hubungan yang intim dengan Sangg Bapa. Sebelum Yesus melayani, Yesus melakukan doa dan puasa 40 hari. Ini bukan main-main. Ini perkara yang sangat serius. Yesus memandang pelayanan itu hal yang sangat serius. Karena itu Ia tidak asal-asalan saja. Dari sini saja kita sudah dapat belajar bahwa melayani Tuhan itu perkara yang serius, sungguh-sungguh. Apalagi jika itu sudah berhubungan dengan pengajaran.
Karena itu, melalui renungan ini saya mengajak kita untuk mawas diri. Jangan sampai apa yang kita lakukan selama ini hanya lahir dari hikmat dunia ini. Jangan sampai kita mengabaikan hikmat Allah dalam pelayanan. Hikmat dunia hanya membawa manusia kepada kepuasan "pikiran saja" Namun hikmat yang dari Tuhan membawa manusia mengalami kepuasan yang seutuhnya. Bukan itu saja, hikmat yang datang dari Allah akan membawa manusia mengalami perubahan dalam hidup mereka.