Ketika saya mengantar isteri ke Terminal Arjosari, Malang, saya merasa sangat tertekan dengan padatnya arus kendaraan. Jalan yang biasanya normal kini menjadi ab-normal. Iringan kendaraan melaju sangat pelan, bahkan cenderung mandeg. Berbagai jenis kendaraan dan dari berbagai daerah dapat kita jumpai. Kemacetan ini sempat membuat saya kuatir, karena pukul 20.00 bis menuju Magelang sudah berangkat. Ketika saya melirik ke arah jam, ternyata sudah pukul 18:44. Posisi saya saat ini masih sekitar Beji, Batu. Dapat dibayangkan betapa kuatirnya kami. Pada saat bersamaan, ternyata saya lupa membawa HP. Padahal hanyalah nomor Hp saya yang dapat dihubungi oleh Crew Bis jika terjadi sesuatu. Rasanya yang ada dalam pikiran takut melulu. Takut terlambat, takut ditinggal bis, takut kalau tiketnya hangus, dll. Semua perasaan negatif bercampur menjadi satu dalam pikiran saya. Sekali-kali saya mengeluh kepada isteri,"aduh gimana ini...kapan sampainya kalau macet seperti ini" Eh, isteri saya dengan entengnya menjawab,"tenang saja" Walah, orang lagi panik, malah dijawab tenang saja. Tapi saya juga menjadi agak tenang setelah mendengar jawaban isteri saya. Memang saya kuatir juga seandainya tidak bisa berangkat hari itu. Untuk mendapatkan tiket bis saja, kami harus pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Saya tidak bisa bayangkan seandainya ditinggal bis. Pastilah semua persiapan menjadi berantakan. Sekalipun isteri saya menjawab,"tenang saja" namun bagi saya sendiri perasaan kuatir masih terus menggelayut dipikiran. Perasaan saya seolah-olah dipermainkan oleh kondisi jalanan. Ketika kemacetan berkurang, maka muncul pengharapan. Namun ketika macet lagi, maka seolah-olah pengharapan itu lari entah kemana.
Hampir sekitar 1,5 jam perasaan saya gundah gulana. Namun perasaan mulai menjadi tenang ketika sudah mendekati terminal. Ketika saya lirik jam, ternyata masih ada waktu. Wah rasanya plong...Beban yang tadinya berat, lenyap begitu saja. Wajah yang tadinya tegang, kini berubah ceria.
Ternyata, kondisi hati dan pikiran kita dengan mudahnya dipermainkan oleh kondisi sekitar kita. Mungkin kita (saya juga) sulit sekali menerapkan apa yang tertulis dalam kitab Mazmur 62:2,"Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku". Bagaimana kebenaran ini kita terapkan dalam situasi-situasi yang "genting" seperti apa yang kami alami. Saya merasa sangat kuatir dengan apa yang saya alami. Bahkan kekuatiran itu telah menggerogoti akal sehat saya. bahkan bukan itu saja, saya melupakan bahwa saya menyembah Allah yang berdaulat, berkuasa atas alam semesta ini. Meskipun dalam hati saya memohon kepada-Nya agar diberi pertolongan, namun rasa kekuatiran itu lebih besar dari iman saya. Dampaknya sudah sangat jelas, berbagai pikiran negatif bertumbuh dengan suburnya dalam hati saya. Padahal pikiran negatif itu jika dibiarkan akan terus berkembang menjadi tindakan yang negatif pula. Itu sangat nampak dari sikap saya yang spontan saja pencet klakson ketika mobil di depan saya berjalan lambat, walaupun jalan di depan sudah agak lancar.
Ternyata kekuatiran itu sangat merugikan hidup kita. Kekuatiran itu merusak sendi-sendi dalam seluruh aspek kehidupan. Kekuatiran tidak saja merusak jiwa, tetapi tubuh jasmani juga. Karena itu, mari kita serahkan kekuatiran itu kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara hidup kita.
Latihan mengatasi kekuatiran, bukan dilakukan di masa-masa tenang, tapi di masa-masa tegang. (YM)