27 Februari, 2008

APA UNTUNGNYA MENGIKUTI YESUS

Apa untungnya ikut Yesus?

Matius 8:28-34

Apa untungnya ikut Yesus? Setiap orang yang mau menjadi murid atau pengikut seseorang, tentunya memiliki tujuan tertentu. Seseorang yang memberikan diri untuk menjadi murid seorang guru silat berharap agar ilmunya diturunkan kepadanya. Nah apa untungnya ikut Yesus?
Pelayanan Yesus melewati batas wilayah orang Yahudi. Ia sampai di sebuah desa yang dikenal dengan nama Gerasa (Markus 5:1). Namun dalam Matius 8:28-34, dituliskan bahwa Yesus sampai di daerah orang Gadara. Mana yang benar? Apakah Gerasa atau Gadara? Apakah ini kesalahan penulisan? Tidak!. Gerasa merupakan sebuah tempat yang menjadi bagian dari provinsi Gadara. Peristiwa Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan terjadi di daerah Pantai laut Galilea tepatnya di Gerasa yang menjadi bagian dari wilayah Gadara.
Peristiwa Yesus mengusir roh jahat dari orang yang kerasukan setan sangat menggemparkan orang-orang Gerasa. Mengapa? Bukan karena orang yang terbuang di pekuburan kini sudah waras kembali. Namun lebih karena dampak terhadap perekenomian masyarakat setempat. Masyarakat Gerasa menggantungkan hidup mereka dari peternakan babi. Apa jadinya jika gerombolan babi yang berjumlah ribuan terjun ke dalam danau? Kerugian yang sangat besar!!! Tentunya hal ini akan sangat memukul kondisi perekonomian masyarakat Gerasa. Itulah sebabnya orang-orang Gerasa mendesak agar Yesus meninggalkan daerah mereka. Mengapa? Karena kalau Yesus terlalu lama ada di Gerasa, pastilah semakin banyak orang kerasukan disembuhkan; yang artinya semakin banyak babi yang akan terjun ke dalam danau. Gawat...ini akan mengganggu stabilitas perekonomian yang berdampak kepada stabilitas keamanan daerah. Karena itulah, mereka memilih untuk "mengusir" Yesus dari kehidupan mereka daripada rasa "nyaman" mereka terancam.
Orang Gerasa hanya melihat dari satu aspek saja: "keuntungan ekonomi!!!." Orang Gerasa merasa bahwa tidak ada untungnya Yesus bagi mereka, karena secara ekonomi mereka akan hancur. Mereka akan kehilangan pekerjaan, masa depan serta harapan. Bagi mereka lebih baik membiarkan sahabat, keluarga mereka ”gila” dan merana di tengah kuburan daripada kehilangan penghasilan.
Bagi orang Gerasa, tidak ada keuntungan mengikut Yesus. Mengapa?

Mengikut Yesus berarti tidak memberikan keuntungan financial.

Ini merupakan pengalaman orang Gerasa, dimana mereka merasa dirugikan secara ekonomi. Mereka kehilangan pekerjaan hanya gara-gara ribuan babi milik mereka terjun ke tengah danau.
Mungkin ini juga pengalaman yang banyak kita jumpai dalam kehidupan orang percaya dewasa ini. Sulit mendapatkan pekerjaan, kenaikan jabatan, hanya karena menyandang predikat ”Kristen”. Karena itu, mengikut Yesus akan menghambat kemajuan karier dan perekonomian . Janganlah heran jika beberapa orang rela "mengusir" Yesus dari kehidupan mereka hanya gara-gara dirugikan secara karier, ekonomi, dll. Benarkan seperti itu?
Mengikut Yesus berarti bersedia mengorbankan harta benda, uang demi pelayanan.
Seakan-akan kita tidak memiliki hak untuk menggunakan harta kita. Harta, kekayaan adalah milik Tuhan dan harus diserahkan bagi pelayanan. Yesus lebih mengasihi orang daripada babi. Bagaimana ini? Mana yang lebih penting orang sakit (rohani) atau ribuan babi? Benarkan demikian? Benarkah mengikut Yesus berarti anda akan kehilangan segalanya hanya lebih mementingkan pelayanan?

Mengikut Yesus berarti tidak adanya kebebasan dalam menjalankan keinginan daging, menikmati kesenangan, dll.
Orang Gerasa merasa nyaman dengan budaya mereka. Bagi orang Yahudi babi adalah binatang haram. Namun bagi orang Gerasa justru menjadi sumber penghidupan. Artinya kalau mereka ikut Yesus maka mereka akan kehilangan kebebasan untuk menikmati hidup yang mapan sesuai dengan tradisi mereka. Mereka tidak boleh lagi memelihara babi, padahal disanalah "sumber penghidupan" mereka. Karena itu bagi mereka, apa untungnya mengikuti Yesus?
Bagi anda, keuntungan apa yang anda peroleh saat menjadi pengikut Yesus? Atau anda juga merasakan kerugian sama seperti orang Gerasa? Apakah kehadiran Yesus membuat anda susah, rugi, serta tidak menguntungkan? Pikirkanlah kembali "siapakah Yesus yang anda kenal"

25 Februari, 2008

PERCAYA itu ada RESIKONYA

Kata "iman" dan kata kerjanya "percaya" sering muncul dalam Al­kitab, dan memang merupakan istilah penting yang meng­gam­bar­kan hubungan antara umat atau seseorang dengan Allah. Di bawah ini akan ditin­jau secara singkat makna istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru. Kata "iman" yang dipakai dalam Perjanjian Baru me­ru­pakan terjemahan dari kata Yunani πίστις (pistis), sedangkan kata kerja­nya "percaya" adalah terjemahan dari kata πιστεύω (pisteuoo). Kata-kata ini sudah dipakai dalam Septuaginta, Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dalam bahasa Yunani, sebagai terjemahan kata Ibrani ¤m' (aman), yang berarti keadaan yang benar dan dapat dipercayai/diandalkan. Kata ini dan kata-kata sekelompoknya dalam Alkitab Ibrani sering digunakan untuk me­nyatakan rasa percaya kepada Allah dan percaya kepada firman-Nya. Per­caya kepada Allah mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri kepada-Nya, dan taat serta setia kepa­da-Nya. Percaya pada firman-Nya berarti percaya dan menerima apa yang sudah difirmankan-Nya itu. (diambil dari: www.alkitab.or.id

Dalam kasus seorang kusta yang disembuhkan (Matius 8:1-4), nampak bahwa orang kusta ini percaya dan menerima apa yang dikatakan oleh Yesus. Rasanya mustahil ia percaya kepada Yesus jika ia sendiri belum pernah mendengar tentang siapa Yesus. Dapat kita bayangkan, ketika Yesus berkata,”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Matius 7:7). Banyak orang hanya terkagum-kagum dengan pengajaran Yesus. Bahkan mereka hanya sampai kepada perasaan ”Takjub” saja. Pada dasarnya mereka baru sampai ”merasa puas” pada tataran intelektual dan perasaan saja. Mereka belum sampai ke tahap ”percaya dan menerima apa yang difirmankan-Nya” sebagai bagian dalam hidup mereka. Dan ini juga yang sering melanda kehidupan kita sebagai umat Kristen dewasa ini. Ketika kita mengikuti sebuah ibadah, kita merasa puas dengan khotbah yang sistematis, gaya bicara yang menawan. Kita takjub dengan apa yang disampaikan. Namun sangat disayangkan, kita belum sepenuhnya menerima Firman itu menjadi bagian dalam hidup kita. Apa yang kurang dalam hal ini? Bertindak sesuai dengan apa yang difirmankan.
Namun bagaimana dengan orang kusta ini? Apakah ia juga tahu firman,” Mintalah, maka akan diberikan kepadamu”? Bukankah ada janji Tuhan bagi barangsiapa yang meminta kepadaNya akan diberikan? Namun seberapa besarkah kepercayaan kita akan janji-Nya itu? Orang kusta mungkin samar-samar saja mendengar perkataan Yesus. Namun ada sesuatu yang ia ”tangkap” dari Pribadi Yesus. Yesus membuka diri bagi setiap orang yang mau datang kepada-Nya. Karena itulah, ia datang kepada Yesus dengan berkata,”Tuan jika Tuan mau....” Artinya ia memberikan sedang berusaha memahami apa arti dari meminta kepada Yesus. Ia memang meminta kepada Yesus, namun kehendak untuk mengabulkan permintaan itu tergantung sepenuhnya kepada Yesus. Di sinilah resikonya. Ketika permintaan kita tidak dikabulkan, mungkin kita mulai mengklaim Firman Tuhan dan berkata,”Tuhan bukankah Engkau berjanji bahwa jika aku meminta, Engkau akan memberikan”? Tidak jarang beberapa orang menjadi kecewa karena belum siap menanggung resiko dari imannya. Kita melupakan bahwa iman/percaya bukan hanya bicara masalah apa yang Tuhan dapat lakukan dalam diri kita. Lebih dalam dari semuanya itu, iman kita seharusnya membuka mata hati kita bahwa Tuhan adalah Allah yang dapat dipercaya. Ia adalah Bapa kita (Matius 6:9)
Apa jadinya seandainya orang kusta ini tidak mendapat belas kasihan Yesus? Entahlah apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Mungkin saja ia akan dirajam dengan batu oleh umat yang baru saja mendengarkan khotbah Yesus. Namun dari sini kita juga belajar bahwa Yesus sungguh-sungguh menghargai orang-orang ”yang menaruh harapan kepada-Nya”.
Ada upah bagi orang yang berani mempercayai Yesus sebagai andalan satu-satunya dalam hidup ini.
Resiko selalu ada, namun Yesus tahu menghargai orang-orang yang berani mengambil resiko karena mempercayai-Nya.

15 Februari, 2008

"MENYEBARKAN KASIH SAYANG"


Bulan Februari identik dengan perayaan khusus yang dikenal dengan "valentine's day". Valentine's day diperingati sebagai hari kasih sayang. Para hari itu, berbagai acara diadakan, secara khusus di kalangan kawula muda. Berbagai souvenir dengan bercirikan cinta kasih pun dipajang di supermarkat atau toko-toko. souvenir-souvenir berhiaskan gambar hati nampak mendominasi. Nampaknya banyak anak muda yang berkerumun sedang memilih "sesuatu" yang dianggap sangat berharga untuk diberikan kepada orang yang dicintainya. Biasanya cokelat akan menjadi sangat laris, dan tentunya juga bunga. Sebuah maskapai penerbangan pun mempergunakan kesempatan ini untuk menyatakan cinta kasihnya kepada costumer atau pelanggan yang mempergunakan jasa penerbangan mereka. Cokelat dan bunga pun dibagikan sebagai simbol cinta kasih kepada orang-orang yang dihargai serta dicintai.

Bagaimana sebenarnya koq sampai ada hari Valentine? Berbagai versi cerita sehubungan dengan sejarah valentine's day pun bermunculan. Ada versi yang menyatakan bahwa hari valentine dimulai pada masa kekaisaran Romawi, dimana dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Peringatan hari besar ini dirayakan untuk menghormati Juno (Tuhan Wanita) dan Perkawinan dengan Pah (Tuhan dari Alam). pada saat itu digambarkan orang-orang muda (laki-laki dan wanita) memilih pasangannya secara diundi, kemudian mereka bertukar hadiah sebagai pernyataan cinta kasih. Dengan diikuti berbagai macam acara hura-hura dengan pasangannya.

Versi yang lain menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998). Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).( dikutip dari:rotogu_blogspot.com).


Apapun versi yang disampaikan sehubungan dengan sejarah perayaan Valentine's day, kita tidak sedang mempermasalahkan bagaimana mulainya. Jugan kita tidak terjebak dalam simbol-simbol seperti pengiriman kartu atau pemberian cokelat atau bunga mawar. Namun kita harus masuk lebih dalam lagi kepada nilai apa yang terkandung di dalamnya. Bukankah Valentine's day dirayakan untuk memperingati hari kasih sayang?. Kasih sayang yang diberikan kepada pasangan atau orang-orang disekitar kita haruslah kasih sayang yang sungguh murni. Kasih sayang sebagaimana yang Kristus sudah tunjukkan. Ada pun pemberian yang diberikan seperti cokelat atau bunga hanyalah simbol cinta dalam realita. Kita tidak bisa menyatakan cinta atau kasih hanya melalui ucapan belaka. Cinta kasih seharusnya diwujudkan dalam sebuah tindakan konkret.


Saya terharu karena menerima "hadiah" dari anak saya Silvia sebuah cokelat mungil. Anak seusia Silvia yang masih duduk dibangku SD, mencoba mengungkapkan perasaan sayangnya kepada orang tua melalui pemberian. Ini artinya bahwa, seseorang membutuhkan media untuk menyalurkan perasaannya. Valentine's day, dari sisi positif berdampak bagi pembinaan mental seseorang dalam mengeluarkan energi positif kepada orang lain. Dan salah satu energi positif itu adalah : Kasih sayang.


Merayakan cinta kasih seharusnya tidak menunggu hari Valentine dulu. Cinta kasih seharusnya dirayakan dari hari ke hari. Namun bagaimana pun jua, dengan adanya media seperti perayaan Valentine ini, maka ada waktu yang khusus untuk menyatakan kasih sayang. Kasih sayang tidak terbatas hanya bagi yang sedang jatuh cinta. Kasih sayang juga kepada anak-anak, orang tua, mertua, sahabat-sahabat, dll. Ketika kita mengatakan,"saya mengasihimu", maka energi positif ini akan mengerjakan perubahan besar dalam hidup kita. Kebencian akan pudar, sakit hati akan terobati. Maka pemulihan hidup pun akan terjadi. Nah jika hubungan kita dengan Tuhan dan sesama sudah dipulihkan, maka kedamaian akan tumbuh dalam hati kita masing-masing.
Ketika kita menyebarkan kasih sayang atau cinta kasih, maka benih-benih itu akan bertumbuh menjadi sebuah pohon cinta kasih yang rindang. Setiap orang merasa sejuk berada dekatnya.
Nah, Siapa yang harus memulai menyebarkan benih cinta kasih? Saya dan saudara yang sudah merasakan kasih Tuhan dalam hidup ini. Sebarkanlah itu, demi sebuah masa depan yang penuh dengan kedamaian dan cinta kasih.



Salam,



Yohanes