25 Februari, 2008

PERCAYA itu ada RESIKONYA

Kata "iman" dan kata kerjanya "percaya" sering muncul dalam Al­kitab, dan memang merupakan istilah penting yang meng­gam­bar­kan hubungan antara umat atau seseorang dengan Allah. Di bawah ini akan ditin­jau secara singkat makna istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru. Kata "iman" yang dipakai dalam Perjanjian Baru me­ru­pakan terjemahan dari kata Yunani πίστις (pistis), sedangkan kata kerja­nya "percaya" adalah terjemahan dari kata πιστεύω (pisteuoo). Kata-kata ini sudah dipakai dalam Septuaginta, Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dalam bahasa Yunani, sebagai terjemahan kata Ibrani ¤m' (aman), yang berarti keadaan yang benar dan dapat dipercayai/diandalkan. Kata ini dan kata-kata sekelompoknya dalam Alkitab Ibrani sering digunakan untuk me­nyatakan rasa percaya kepada Allah dan percaya kepada firman-Nya. Per­caya kepada Allah mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri kepada-Nya, dan taat serta setia kepa­da-Nya. Percaya pada firman-Nya berarti percaya dan menerima apa yang sudah difirmankan-Nya itu. (diambil dari: www.alkitab.or.id

Dalam kasus seorang kusta yang disembuhkan (Matius 8:1-4), nampak bahwa orang kusta ini percaya dan menerima apa yang dikatakan oleh Yesus. Rasanya mustahil ia percaya kepada Yesus jika ia sendiri belum pernah mendengar tentang siapa Yesus. Dapat kita bayangkan, ketika Yesus berkata,”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Matius 7:7). Banyak orang hanya terkagum-kagum dengan pengajaran Yesus. Bahkan mereka hanya sampai kepada perasaan ”Takjub” saja. Pada dasarnya mereka baru sampai ”merasa puas” pada tataran intelektual dan perasaan saja. Mereka belum sampai ke tahap ”percaya dan menerima apa yang difirmankan-Nya” sebagai bagian dalam hidup mereka. Dan ini juga yang sering melanda kehidupan kita sebagai umat Kristen dewasa ini. Ketika kita mengikuti sebuah ibadah, kita merasa puas dengan khotbah yang sistematis, gaya bicara yang menawan. Kita takjub dengan apa yang disampaikan. Namun sangat disayangkan, kita belum sepenuhnya menerima Firman itu menjadi bagian dalam hidup kita. Apa yang kurang dalam hal ini? Bertindak sesuai dengan apa yang difirmankan.
Namun bagaimana dengan orang kusta ini? Apakah ia juga tahu firman,” Mintalah, maka akan diberikan kepadamu”? Bukankah ada janji Tuhan bagi barangsiapa yang meminta kepadaNya akan diberikan? Namun seberapa besarkah kepercayaan kita akan janji-Nya itu? Orang kusta mungkin samar-samar saja mendengar perkataan Yesus. Namun ada sesuatu yang ia ”tangkap” dari Pribadi Yesus. Yesus membuka diri bagi setiap orang yang mau datang kepada-Nya. Karena itulah, ia datang kepada Yesus dengan berkata,”Tuan jika Tuan mau....” Artinya ia memberikan sedang berusaha memahami apa arti dari meminta kepada Yesus. Ia memang meminta kepada Yesus, namun kehendak untuk mengabulkan permintaan itu tergantung sepenuhnya kepada Yesus. Di sinilah resikonya. Ketika permintaan kita tidak dikabulkan, mungkin kita mulai mengklaim Firman Tuhan dan berkata,”Tuhan bukankah Engkau berjanji bahwa jika aku meminta, Engkau akan memberikan”? Tidak jarang beberapa orang menjadi kecewa karena belum siap menanggung resiko dari imannya. Kita melupakan bahwa iman/percaya bukan hanya bicara masalah apa yang Tuhan dapat lakukan dalam diri kita. Lebih dalam dari semuanya itu, iman kita seharusnya membuka mata hati kita bahwa Tuhan adalah Allah yang dapat dipercaya. Ia adalah Bapa kita (Matius 6:9)
Apa jadinya seandainya orang kusta ini tidak mendapat belas kasihan Yesus? Entahlah apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Mungkin saja ia akan dirajam dengan batu oleh umat yang baru saja mendengarkan khotbah Yesus. Namun dari sini kita juga belajar bahwa Yesus sungguh-sungguh menghargai orang-orang ”yang menaruh harapan kepada-Nya”.
Ada upah bagi orang yang berani mempercayai Yesus sebagai andalan satu-satunya dalam hidup ini.
Resiko selalu ada, namun Yesus tahu menghargai orang-orang yang berani mengambil resiko karena mempercayai-Nya.

Tidak ada komentar: