09 Oktober, 2007

TURUT SAJA PERINTAHNYA


Bagi para nelayan, perahu merupakan modal yang sangat berharga. Perahu merupakan tumpuan harapan bagi kehidupan keluarga nelayan. Karena itu, perahu-perahu tersebut akan dirawat dengan sangat baik. Rasanya tidak ada nelayan yang tidak merawat perahunya. Ketika warna catnya mulai pudar, mereka akan meluangkan waktu untuk mencatnya kembali. Demikian juga ketika selesai melaut, mereka akan membersihkan dan menyimpan perahu itu dengan baik. Biasanya perahu-perahu itu ditempatkan di bawah pohon-pohn yang rindang.
Kedatangan perahu-perahu pada pagi hari, memang membawa sejuta pengharapan. Dari kejauhan sudah nampak perahu-perahu berjejer memasuki pantai. Pantai yang tadinya sepi, kini sudah penuh sesak dengan orang-orang yang berebut mengais rejeki. Para pengepul ikanpun sudah siap sedia untuk membeli ikan-ikan dari para nelayan. Ketika perahu-perahu mulai merapat, maka sejumlah orang mulai berlarian. Mereka membantu para nelayan itu untuk menarik perahu tersebut ke tepi pantai. Gelak tawa akan terdengar ketika perut perahu dilihat ternyata berisi penuh dengan ikan. Namun sebaliknya, ketika perut perahu kosong, maka desah kekecewaan akan mengema dimana-mana. Yang kecewa bukan saja yang mengharapkan hasil tangkapan para nelayan. Justru nelayannyalah yang paling kecewa. Nelayan-nelayan ini sudah menyimpan kekecewaan sejak jala-jala kosong terangkat ke permukaan. Angin laut menusuk tulang-tulang mereka. Tusukan itu semakin dalam, ketika semalaman mereka melaut, namun hasilnya nihil.
Kondisi seperti itu, rasanya sulit bagi orang untuk memikirkan orang lain. Jangankan memikirkan kepentingan orang lain, pikir diri saja sudah susahnya minta ampun. Tapi tahukah anda bahwa ada seorang nelayan yang masih membuka hati bagi orang lain? Namanya Petrus. Ketika pulang dari melaut, ia sedang sibuk membersihkan jalanya yang kosong. Ia sibuk menata kembali jalanya untuk dipergunakan mencari ikan di hari berikutnya. Sebenarnya ia dan teman-temannya sudah bersiap untuk pulang. Tapi dia sedikit terkejut karena ada orang yang naik ke perahunya. Wah ini cari-cari masalah. Sudah tahu si Petrus lagi pusing, eh malah perahunya dipakai. Bukan itu saja, malahan disuruh bertolak agak ke tengah. Kita tidak tahu perasaan Petrus saat itu. Mungkin Petrus kenal dengan orang yang naik ke perahunya, namun tidaklah terlalu akrab. Tapi Petrus ikut saja dengan apa yang dikatakan oleh orang itu. Mungkin ia berpikir,”wah dapat rejeki nich..orang ini mau sewa perahuku...” Tapi dugaannya meleset. Bukannya menyewa perahunya, malahan perahunya hanya dipakai tempat untuk khotbah. Si Petrus sudah terlanjur mendorong perahunya agak jauh dari Pantai. Dikerumuni banyak orang, tentu Petrus tidak etis kalau protes kepada Yesus yang saat itu pinjam perahunya. Petrus sendiri harus rela berendam di air sambil menahan perahu itu agar tidak hanyut dibawa gelombang laut. Ketika melakukan hal ini, tidak terbersit dalam pikirannya akan mendapatkan ikan yang banyak. Bayangkan saja!! Mana ada orang menebarkan jala di pinggir pantai trus dapat ikan besar-besar. Apalagi saat itu siang hari. Orang biasanya melaut malam hari. Tapi apa yang tidak pernah terpikirkan kini menjadi kenyataan di hadapannya. Kitab Suci menceritakan,”Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.” (Lukas 5:6). Bukan itu saja, perahu tersebut tidak mampu memuat ikan hasil tangkapan mereka. Itulah sebabnya mereka menggunakan dua perahu sekaligus. Bahkan kedua perahu itu hampir tenggelam. Luar biasa!!!
Apa rahasianya?
Petrus taat kepada perintah Yesus. Ia tidak menjadikan rasa kecewanyasebagai alasan menolak perintah Yesus. Ia melakukan apa yang diminta oleh Yesus. Hasilnya adalah : Petrus terobati kekecewaannya. Bukan itu saja, sejumlah ikan besar ia bisa bawa pulang bersama nelayan lainnya.
Melakukan apa yang Tuhan perintahkan selalu membawa keberuntungan. Hanya saja jangan salah mengerti. Keberuntungan jangan dinilai hanya dari hal-hal jasmani saja. Keberuntungan juga harus dilihat dari sisi rohani. Rasanya itu yang lebih mulia dari sekedar keuntungan duniawi.

LEPASKAN GENGGAMANMU...

Penduduk Afrika memiliki cara yang unik untuk menangkap seekor monyet. Mungkin kita berpikir bahwa cara mereka sama dengan yang kita lakukan. Kami biasanya menangkap monyet di kampung dengan mempergunakan senapan angin. Kalau tidak, kami biasanya mempergunakan anjing pemburu. Jadi ketika kami melihat monyet di sebuah pohon, maka kami berusaha melemparnya, atau menggoyang-goyang pohon tersebut. Karena panik, maka biasanya monyet-monyet tersebut akan berlompatan kesana kemari. Namun ada saja yang lengah, sehingga terjatuh dari pohon. Nah saat itulah anjing-anjing pemburu menangkapnya.
Namun berbeda dengan cara yang dilakukan oleh orang-orang Afrika. Mereka biasanya memakai semangka yang sudah dilubangi. Di dalam lobang tersebut, mereka mengisinya dengan kacang. Tahu kan,monyet suka sekali makan kacang (bukan berarti yang suka kacang adalah monyet...) Tapi itu cara yang sangat jitu. Ketika monyet-monyet tersebut melihat semangka bergeletakan, mereka berusaha mendekati untuk memeriksanya. ”ah lagi mujur nich...ada kacang dalam semangka” pikir si monyet. Maka monyet-monyet itu pun tanpa buang-buang waktu mulai memasukkan tangan mereka untuk merogoh kacang yang ada dalam lobang semangka tersebut. Mereka tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam jiwanya. Tak disangka-sangka, dari dalam semak belukar berhamburan para pemburu dengan tombak yang siap untuk menombak monyet-monyet yang malang itu. Monyet-monyet itu pun berlarian menyelamatkan diri sambil membawa lari semangka-semangka yang berat itu. Monyet-monyet itu rupanya enggan melepaskan genggamannya. Ia sudah merasakan ”keuntungan” yang besar jika berhasil membawa kabur kacang-kacang dalam semangka tersebut. Tapi keserakahannya justru merupakan malapetaka bagi mereka.
Sesudah Yesus melakukan pelayanan, maka Ia pun mencari tempat yang sunyi. Namun orang-orang yang tadinya menerima pelayanan dariNya terus mencari-Nya. Mereka berusaha menahan Dia agar tetap bersama-sama dengan mereka. Namun Yesus menolaknya dengan berkata,”Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” (Lukas 4:43)
Mengapa mereka menahan Yesus? Tentu mereka sudah merasakan keuntungan besar jika Yesus selalu bersama dengan mereka. Mereka sudah melihat dan merasakan bahwa Yesus ini adalah ”asset” yang sungguh berharga. Dengan menahan-Nya berarti keuntungan ada di pihak mereka. Namun mereka terperangah ketika Yesus menolak permintaan mereka. Yesus tidak tergoda untuk merasa nyaman bersama mereka. Yesus kembali kepada tujuan semula yaitu mengabarkan Injil kepada orang-orang lain juga.
Ketika kita menerima berkat-berkat di dalam kehidupan ini, kecendrungan kita adalah menahannya untuk kepentingan kita semata. Kita enggan berbagi dengan orang lain. Kita merasa rugi jika membagi berkat tersebut dengan orang lain. Namun kita akan mengalami nasib yang sama dengan monyet-monyet tadi tatkala kita enggan melepaskan genggaman kita. Semestinya kita tidak bersikap sepeti itu. Yesus Guru kita sudah memberikan teladan agar kita rela berbagi berkat, kebahagiaan, kesukaan dengan orang lain.
Orang yang kaya bukanlah orang yang menyimpan harta bagi diri sendiri. Orang yang kaya adalah orang yang mau berbagi dengan orang lain. Lepaskanlah genggamanmu sekarang juga...

Menolak Menjadi Populer


Tiga bagian penting yang selalu menjadi incaran manusia dari masa ke masa adalah : Kekayaan, kekuasaan dan kemasyuran (popularitas). Ini bisa sebut sebagai tiga serangkai yang selalu berdampingan. Ketika orang mendapatkan apa itu kekuasaan, maka kedua temannya senantiasa mengikuti. Kekayaan dan ketenaran akan datang juga. Demikian juga ketika seseorang sudah tenar, terkenal, maka secara tidak langsung kekayaan dan kekuasaan biasanya hadir juga.

Dunia selalu mengincar ke-tiga bagian ini. Ketika manusia mendapatkannya ia akan merasakan bahwa ia sudah merengkuh dunia ini. Itulah sebabnya, tidak sedikit orang yang rela mengorbankan apa saja demi mendapatkan ketiga hal tersebut. Rasanya itulah yang menjadi tujuan hidup manusia.

Namun anda mungkin terkejut dengan pernyataan seseorang yang menyatakan,"Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias" (Lukas 4:41).

Ini merupakan kebalikan dari apa yang dikejar oleh dunia. Dunia dengan segala caranya berusaha untuk mengejar popularitas. Justru sebaliknya, Yesus menolak popularitas dunia ini. Ketika orang-orang mulai tahu siapa Dia, tentulah ini sebuah kesempatan untuk menjadi populer. Namun Yesus justru melarang mereka memberitakan siapa Dia sebenarnya. Apakah Yesus punya strategi lain? Kita tidak sedang melihat Yesus punya strategi lain dalam pernyataan-Nya. Ia datang ke dunia dengan misi yang jelas yaitu keselamatan umat manusia. Yesus tidak perlu mencari-cari popularitas semu seperti itu. Ia melakukan pekerjaan yang teramat mulia. Karena kerendahan hatiNya untuk mentaati kehendak Bapa, Ia dihormati di Sorga dan di Bumi.

Ini merupakan prinsip mendasar dalam hidup ini. Menjadi terkenal bukanlah tujuan. Namun sebaliknya, jika karena pekerjaan mulia yang kita lakukan menyebabkan kita dikenal orang itu adalah hal yang normal. Pepatah mengatakan:"Gajah mati meninggalkan gadingnya, manusia mati meninggalkan namanya." Itulah sebabnya, kita tidak sedang mengejar yang namanya popularitas. Menjadi populer bukanlah tujuan hidup. Orang-orang yang mengejar-ngejar kepopuleran akan jatuh dalam berbagai kesulitan hidup.

Dunia mungkin menganggap kita populer,namun belum tentu di hadapan Tuhan. Yang menjadi tujuan hidup kita sebagai orang percaya adalah mengenal Allah dan dikenal oleh Allah. Ayub dikenal oleh Allah. Bahkan Allah memberikan rekomendasi:"Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:8)

Pesan renungan kita pada hari ini adalah: jangan mengejar kepopuleran dunia ini. Kejarlah rekomendasi Allah. Apakah Allah akan memberikan rekomendasi baik pada anda atau sebaliknya.