Penduduk Afrika memiliki cara yang unik untuk menangkap seekor monyet. Mungkin kita berpikir bahwa cara mereka sama dengan yang kita lakukan. Kami biasanya menangkap monyet di kampung dengan mempergunakan senapan angin. Kalau tidak, kami biasanya mempergunakan anjing pemburu. Jadi ketika kami melihat monyet di sebuah pohon, maka kami berusaha melemparnya, atau menggoyang-goyang pohon tersebut. Karena panik, maka biasanya monyet-monyet tersebut akan berlompatan kesana kemari. Namun ada saja yang lengah, sehingga terjatuh dari pohon. Nah saat itulah anjing-anjing pemburu menangkapnya.
Namun berbeda dengan cara yang dilakukan oleh orang-orang Afrika. Mereka biasanya memakai semangka yang sudah dilubangi. Di dalam lobang tersebut, mereka mengisinya dengan kacang. Tahu kan,monyet suka sekali makan kacang (bukan berarti yang suka kacang adalah monyet...) Tapi itu cara yang sangat jitu. Ketika monyet-monyet tersebut melihat semangka bergeletakan, mereka berusaha mendekati untuk memeriksanya. ”ah lagi mujur nich...ada kacang dalam semangka” pikir si monyet. Maka monyet-monyet itu pun tanpa buang-buang waktu mulai memasukkan tangan mereka untuk merogoh kacang yang ada dalam lobang semangka tersebut. Mereka tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam jiwanya. Tak disangka-sangka, dari dalam semak belukar berhamburan para pemburu dengan tombak yang siap untuk menombak monyet-monyet yang malang itu. Monyet-monyet itu pun berlarian menyelamatkan diri sambil membawa lari semangka-semangka yang berat itu. Monyet-monyet itu rupanya enggan melepaskan genggamannya. Ia sudah merasakan ”keuntungan” yang besar jika berhasil membawa kabur kacang-kacang dalam semangka tersebut. Tapi keserakahannya justru merupakan malapetaka bagi mereka.
Sesudah Yesus melakukan pelayanan, maka Ia pun mencari tempat yang sunyi. Namun orang-orang yang tadinya menerima pelayanan dariNya terus mencari-Nya. Mereka berusaha menahan Dia agar tetap bersama-sama dengan mereka. Namun Yesus menolaknya dengan berkata,”Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” (Lukas 4:43)
Mengapa mereka menahan Yesus? Tentu mereka sudah merasakan keuntungan besar jika Yesus selalu bersama dengan mereka. Mereka sudah melihat dan merasakan bahwa Yesus ini adalah ”asset” yang sungguh berharga. Dengan menahan-Nya berarti keuntungan ada di pihak mereka. Namun mereka terperangah ketika Yesus menolak permintaan mereka. Yesus tidak tergoda untuk merasa nyaman bersama mereka. Yesus kembali kepada tujuan semula yaitu mengabarkan Injil kepada orang-orang lain juga.
Ketika kita menerima berkat-berkat di dalam kehidupan ini, kecendrungan kita adalah menahannya untuk kepentingan kita semata. Kita enggan berbagi dengan orang lain. Kita merasa rugi jika membagi berkat tersebut dengan orang lain. Namun kita akan mengalami nasib yang sama dengan monyet-monyet tadi tatkala kita enggan melepaskan genggaman kita. Semestinya kita tidak bersikap sepeti itu. Yesus Guru kita sudah memberikan teladan agar kita rela berbagi berkat, kebahagiaan, kesukaan dengan orang lain.
Orang yang kaya bukanlah orang yang menyimpan harta bagi diri sendiri. Orang yang kaya adalah orang yang mau berbagi dengan orang lain. Lepaskanlah genggamanmu sekarang juga...
Namun berbeda dengan cara yang dilakukan oleh orang-orang Afrika. Mereka biasanya memakai semangka yang sudah dilubangi. Di dalam lobang tersebut, mereka mengisinya dengan kacang. Tahu kan,monyet suka sekali makan kacang (bukan berarti yang suka kacang adalah monyet...) Tapi itu cara yang sangat jitu. Ketika monyet-monyet tersebut melihat semangka bergeletakan, mereka berusaha mendekati untuk memeriksanya. ”ah lagi mujur nich...ada kacang dalam semangka” pikir si monyet. Maka monyet-monyet itu pun tanpa buang-buang waktu mulai memasukkan tangan mereka untuk merogoh kacang yang ada dalam lobang semangka tersebut. Mereka tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam jiwanya. Tak disangka-sangka, dari dalam semak belukar berhamburan para pemburu dengan tombak yang siap untuk menombak monyet-monyet yang malang itu. Monyet-monyet itu pun berlarian menyelamatkan diri sambil membawa lari semangka-semangka yang berat itu. Monyet-monyet itu rupanya enggan melepaskan genggamannya. Ia sudah merasakan ”keuntungan” yang besar jika berhasil membawa kabur kacang-kacang dalam semangka tersebut. Tapi keserakahannya justru merupakan malapetaka bagi mereka.
Sesudah Yesus melakukan pelayanan, maka Ia pun mencari tempat yang sunyi. Namun orang-orang yang tadinya menerima pelayanan dariNya terus mencari-Nya. Mereka berusaha menahan Dia agar tetap bersama-sama dengan mereka. Namun Yesus menolaknya dengan berkata,”Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” (Lukas 4:43)
Mengapa mereka menahan Yesus? Tentu mereka sudah merasakan keuntungan besar jika Yesus selalu bersama dengan mereka. Mereka sudah melihat dan merasakan bahwa Yesus ini adalah ”asset” yang sungguh berharga. Dengan menahan-Nya berarti keuntungan ada di pihak mereka. Namun mereka terperangah ketika Yesus menolak permintaan mereka. Yesus tidak tergoda untuk merasa nyaman bersama mereka. Yesus kembali kepada tujuan semula yaitu mengabarkan Injil kepada orang-orang lain juga.
Ketika kita menerima berkat-berkat di dalam kehidupan ini, kecendrungan kita adalah menahannya untuk kepentingan kita semata. Kita enggan berbagi dengan orang lain. Kita merasa rugi jika membagi berkat tersebut dengan orang lain. Namun kita akan mengalami nasib yang sama dengan monyet-monyet tadi tatkala kita enggan melepaskan genggaman kita. Semestinya kita tidak bersikap sepeti itu. Yesus Guru kita sudah memberikan teladan agar kita rela berbagi berkat, kebahagiaan, kesukaan dengan orang lain.
Orang yang kaya bukanlah orang yang menyimpan harta bagi diri sendiri. Orang yang kaya adalah orang yang mau berbagi dengan orang lain. Lepaskanlah genggamanmu sekarang juga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar