30 Oktober, 2007

Kristus>Diri=Rendah Hati

Manusia berbeda dengan binatang. Kalau binatang hidup berdasarkan insting saja. Kalau mereka membuat sarang itu karena insting saja. Kita belum pernah melihat sarang ular yang di dalamnya ada kulkas, kipas angin, meja makan, dll. Paling-paling hanya lubang pengab. Itu pun bukan si ular yang membuatnya. Ia hanya masuk saja, ketika melihat lubang. Kenapa binatang sudah puas dengan apa yang ia peroleh? Kalau sudah kenyang ia sudah. Memang kehidupan binatang sangatlah simpel. Hidup, mencari makan, menemukan pasangan, berkembang biak, mati...terus demikian. Rasanya belum pernah kita lihat seekor burung melamun di atas pohon memikirkan nasibnya. Yang burung lakukan adalah terbang dari pohon ke pohon yang lainnya untuk mencari makan baik bagi dirinya maupun bagi anak-anaknya. Ketika anak-anaknya sudah besar, mereka sudah bisa mencari makan sendiri. Mengamati kehidupan binatang, ternyata cukup simpel.
Bagaimana dengan manusia? Sebenarnya simpel juga. Namun dalam kenyataannya menjadi sangat rumit oleh karena manusia itu sendiri. Manusia memiliki pikiran, perasaan. Daya kreativitas manusia, menjadikan manusia sebagai mahluk yang berbeda dengan binatang. Kalau manusia membangun rumah, bukan sekedar untuk tidur. Manusia membangun rumah dengan berbagai pertimbangan seperti kenyamanan, keamanan, keindahan, gengsi, dll.
Manusia tidak mengenal yang namanya cukup. Memang kadang-kadang karena kondisilah yang membuat manusia ”mencukupkan” diri. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, manusia selalu ingin dihargai dan di ”orangkan” Karena itulah jangan heran jika manusia berusaha untuk merengkuh dunia dalam genggamannya. Seolah-olah dengan memegang dunia ini, manusia merasa bahwa ia sudah mendapatkan apa yang diinginkan.
Tentunya perasaan ini juga yang menguasai hidup Saulus. Sebelum bertemu dengan Kristus, ia seolah-olah telah menjadi manusia sempurna. Kedudukan, pendidikan, kekayaan, telah ada dalam genggamannya. Saulus menilai orang lain dari kacamata-nya sendiri. Namun sesudah bertemu dengan Kristus, sebuah perubahan luar biasa terjadi dalam hidup-Nya. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, ia menuliskan,” Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus”
Dalam bagian yang lain, Yesus bersabda,”
"Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
Kristus adalah puncak kepuasan hidup manusia. Kristus adalah pemenuhan semua pencarian manusia tentang kebenaran, harga diri, kemuliaan, kekayaan, kepuasan hidup,dll. Berjumpa dengan Kristus akan membuat manusia itu menjadi puas. Apa lagi yang harus dibanggakan? Gelar, Kedudukan, Kekuasaan, Kekayaan, Kehormatan? Masihkan kita sebagai anak-anak-Nya layak memegahkan diri? Tidak! Karena kemegahan kita hanyalah Kristus. Jadi kalau kita membuat rumus : Kristus > Diri = Rendah Hati (artinya: Kalau saya menempatkan Kristus lebih besar/menjadi pusat dalam hidup saya, maka saya akan menjadi rendah hati)

Tidak ada komentar: