BERBUAT BAIK ITU BUTUH LATIHAN
Waktu menunjukan pukul 17.00 ketika saya sedang duduk-duduk santai di ruang tamu (maklum baru saja pulang dari kantor). Tiba-tiba Handphoneku berbunyi. Saya segera membukanya untuk melihat siapa gerangan yang SMS. Eh ternyata isteriku. Dia memberi pesan,”aku ada di plasa” Yang ada dalam pikiranku saat itu,”wah lagi borong-borong nich” Aku membalas smsnya dengan pesan,”dijemput ya”. Aku sudah bisa menebak jawabannya, ”ya”. Aku bergegas mempersiapkan diri untuk pergi ke garasi untuk menghidupkan mobil. Aku segera melaju menuju plasa Batu. Ketika memasuki area parkir yang ada di depan Plasa Batu, dari kejauhan aku melihat Yonatan melambaikan tangan. Setelah memarkirkan mobil, kami pun bertemu dengan isteri dan anak-anak. Betul saja, mereka membeli beberapa kebutuhan sekolah, susu, es degan, kembang api. Wah seru banget!!! Belum lebaran sudah beli kembang api.
Karena merasa bahwa semua sudah beres, maka kami pun bergegas untuk naik ke dalam mobil. Mobil melaju dengan pelan di tengah keramian orang-orang yang mempersiapkan diri untuk berbuka puasa. Ketika sampai di perempatan jalan (lampu merah), dari kejauhan aku melihat seorang anak muda membawa roti dan minuman dalam sebuah bungkusan kecil. Pikiranku saat itu adalah,”ah paling anak-anak yang sedang menawarkan TAKJIL (makanan ringan pembuka puasa)” Pikiran ku sudah negatif duluan. Makanya ketika mereka mendekati mobil dan menawarkan TAKJIL, maka secara spontan saja saya menjawab,”oh tidak terima kasih” Namun pemuda tersebut nampaknya sedikit memaksa, ”ambil saja pak” Sekali lagi dengan halus saya menolaknya,”tidak, terima kasih” Rupanya si pemuda tahu penyebabnya mengapa saya menolaknya ketika ditawari TAKJIL. Dengan ramah ia kembali menawarkan,”ini gratis lho pak,” Waduh, malunya, mereka mau berbuat baik eh malah di sangka yang bukan-bukan. Dengan agak malu maka saya menerima pemberian itu. Ketika lampu sudah hijau, langsung saja saya tancap gas meninggalkan si pemuda. Saya memiliki pengalaman yang sangat berharga dari peristiwa tersebut. Ternyata saya melupakan satu hal bahwa mereka juga memiliki potensi untuk melakukan apa yang baik bagi sesama. Rupanya mereka dapat melakukan apa yang baik, selama mereka mau melakukannya. Rasanya sangatlah keliru jika kita memvonis bahwa mereka anak anak nakal yang tidak bisa mengalami perubahan hidup ke arah yang baik dan benar.
Apa yang saya pelajari dari peristiwa ini? Saya belajar bahwa setiap orang pada dasar memiliki keinginan untuk melakukan apa yang baik. Orang-orang yang masih memiliki hati nurani, pastilah memiliki keinginan untuk melakukan apa yang baik dalam hidup mereka. Hanya saja, kita terkadang berpikiran yang negatif tentang mereka, bahkan kadang tidak mau memahami mereka dengan tulus hati.
Dalam II Timotius 3 ayat 17, dituliskan:” Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Jadi setiap manusia memiliki potensi yang diberikan oleh Allah untuk melakukan perbuatan baik. Potensi itu akan semakin nampak dalam kehidupan kita jika potensi itu ”diwujud nyatakan” dalam tindakan nyata. (berbuat baik itu juga butuh latihan...seperti yang dilakukan oleh anak muda tadi)
Waktu menunjukan pukul 17.00 ketika saya sedang duduk-duduk santai di ruang tamu (maklum baru saja pulang dari kantor). Tiba-tiba Handphoneku berbunyi. Saya segera membukanya untuk melihat siapa gerangan yang SMS. Eh ternyata isteriku. Dia memberi pesan,”aku ada di plasa” Yang ada dalam pikiranku saat itu,”wah lagi borong-borong nich” Aku membalas smsnya dengan pesan,”dijemput ya”. Aku sudah bisa menebak jawabannya, ”ya”. Aku bergegas mempersiapkan diri untuk pergi ke garasi untuk menghidupkan mobil. Aku segera melaju menuju plasa Batu. Ketika memasuki area parkir yang ada di depan Plasa Batu, dari kejauhan aku melihat Yonatan melambaikan tangan. Setelah memarkirkan mobil, kami pun bertemu dengan isteri dan anak-anak. Betul saja, mereka membeli beberapa kebutuhan sekolah, susu, es degan, kembang api. Wah seru banget!!! Belum lebaran sudah beli kembang api.
Karena merasa bahwa semua sudah beres, maka kami pun bergegas untuk naik ke dalam mobil. Mobil melaju dengan pelan di tengah keramian orang-orang yang mempersiapkan diri untuk berbuka puasa. Ketika sampai di perempatan jalan (lampu merah), dari kejauhan aku melihat seorang anak muda membawa roti dan minuman dalam sebuah bungkusan kecil. Pikiranku saat itu adalah,”ah paling anak-anak yang sedang menawarkan TAKJIL (makanan ringan pembuka puasa)” Pikiran ku sudah negatif duluan. Makanya ketika mereka mendekati mobil dan menawarkan TAKJIL, maka secara spontan saja saya menjawab,”oh tidak terima kasih” Namun pemuda tersebut nampaknya sedikit memaksa, ”ambil saja pak” Sekali lagi dengan halus saya menolaknya,”tidak, terima kasih” Rupanya si pemuda tahu penyebabnya mengapa saya menolaknya ketika ditawari TAKJIL. Dengan ramah ia kembali menawarkan,”ini gratis lho pak,” Waduh, malunya, mereka mau berbuat baik eh malah di sangka yang bukan-bukan. Dengan agak malu maka saya menerima pemberian itu. Ketika lampu sudah hijau, langsung saja saya tancap gas meninggalkan si pemuda. Saya memiliki pengalaman yang sangat berharga dari peristiwa tersebut. Ternyata saya melupakan satu hal bahwa mereka juga memiliki potensi untuk melakukan apa yang baik bagi sesama. Rupanya mereka dapat melakukan apa yang baik, selama mereka mau melakukannya. Rasanya sangatlah keliru jika kita memvonis bahwa mereka anak anak nakal yang tidak bisa mengalami perubahan hidup ke arah yang baik dan benar.
Apa yang saya pelajari dari peristiwa ini? Saya belajar bahwa setiap orang pada dasar memiliki keinginan untuk melakukan apa yang baik. Orang-orang yang masih memiliki hati nurani, pastilah memiliki keinginan untuk melakukan apa yang baik dalam hidup mereka. Hanya saja, kita terkadang berpikiran yang negatif tentang mereka, bahkan kadang tidak mau memahami mereka dengan tulus hati.
Dalam II Timotius 3 ayat 17, dituliskan:” Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Jadi setiap manusia memiliki potensi yang diberikan oleh Allah untuk melakukan perbuatan baik. Potensi itu akan semakin nampak dalam kehidupan kita jika potensi itu ”diwujud nyatakan” dalam tindakan nyata. (berbuat baik itu juga butuh latihan...seperti yang dilakukan oleh anak muda tadi)